Max Moein

politikus  PDIP , ayah “Wanita Emas”  Hasnaeni Moein (Partai Demokrat)

+++++

Meski Divonis Penjara, Max Moein Gembira Hartanya Tak Dirampas

KAMIS, 16 JUNI 2011 | 15:28 WIB

Meski Divonis Penjara, Max Moein Gembira Hartanya Tak Dirampas

TEMPO/Yosep Arkian

TEMPO Interaktif, Jakarta – Lepasnya tuntutan perampasan harta bagi Max Moein dalam putusan Majelis Hakim disambut gembira. Ketua Majelis Hakim sidang cek pelawat untuk Agus Condro dan tiga rekannya yang diketuai Suhartoyo memvonis Max Moien dan Rusman Lumban Toruan terbebas dari kewajiban perampasan negara untuk cek pelawat yang diterima senilai Rp 500 juta.

“Kan terbukti di persidangan itu bukan uang negara. Jadi, saya pikir itu sudah sesuai dengan undang-undang,” kata Max Moein usai persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kamis, 16 Juni 2011.

Majelis Hakim Suhartoyo menjatuhkan hukuman setahun tiga bulan bagi Agus Condro. Adapun Willem Max Tutuarima divonis setahun enam bulan, Max Moein dan Rusman Lumban Toruan dijatuhi setahun delapan bulan. Keempatnya terbukti melanggar Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU No. 20 Tahun 2001). Majelis juga menjatuhkan denda sebesar Rp 50 juta subsider 3 bulan.

Perbedaan tuntutan tersebut karena Agus berperan sebagai pelapor kasus suap pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia tahun 2004 dan sudah mengembalikan cek yang diterima. Agus yang menerima cek senilai Rp 500 juta sudah mengembalikan Rp 100 juta dan sebuah Apartemen di Teluk Gong, Jakarta Utara, ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Majelis Hakim juga mempertimbangkan vonis bagi Willem karena sudah mengembalikan cek pelawat sesuai dengan yang diterimanya, sehingga vonisnya hanya setahun enam bulan. Adapun Max dan Rusman tak mengembalikan sepeser pun hartanya, sehingga diganjar penjara tertinggi selama setahun delapan bulan.

Max menguraikan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU No. 20 Tahun 2001) hakikatnya untuk mengembalikan uang negara. Sementara, pada kasus suap cek pelawat, tak ada uang negara yang diambil.

“Karena itu, kalau rekan-rekan berniat mengembalikan, itu masalah masing-masing, mungkin mereka ada uang lebih, mau disumbangkan ke negara,” kata Max.

Istri Agus Condro, Elia Nurani, menyatakan keputusan hakim tidak adil. Soalnya yang mengembalikan hanya mendapat vonis selisih 2 bulan dengan yang tidak mengembalikan (Max dan Rusman). “Coba saja suruh cari Rp 500 juta dalam dua bulan, kan susah. Itu agak kurang fair,” kata Elia.

DIANING SARI

Desi Dipaksa Berfoto Bugil

Sabtu, 24 Mei 2008 | 09:23 WIB

JAKARTA, SABTU – Mantan sekretaris anggota DPR Max Moein, Desi Vidyawati (30), shock karena dipecat secara sewenang-wenang oleh anggota Fraksi PDIP tersebut. Ketika bermaksud membawa masalah itu ke jalur hukum, Desi khawatir foto-foto syur dirinya dipublikasikan.

“Bahkan dia pernah ketakutan saat melihat mobil anggota DPR tersebut di Gedung DPR,” kata Uli, staf anggota DPR Nursjahbani Katjasungkana, Jumat (23/5).

Uli mengatakan, setelah dipecat, Desi dipekerjakan Nursjahbani. Suatu ketika, Desi ketakutan ketika melihat mobil Max Moein di Gedung DPR. Desi takut bertemu Max.

Uli mengatakan, LBH Apik, lembaga bantuan hukum yang concernmembela hak perempuan dan dimotori Nursjahbani Katjasungkana, tengah mencoba memulihkan trauma psikologis yang dialami Desi. “Sepertinya dia mengalami teror yang cukup kuat,” jelasnya.

Beberapa hari lalu, beredar foto syur anggota DPR dari Fraksi PDIP, Max Moein, dengan seorang wanita berambut cokelat yang diduga sebagai Desi Vidyawati. Di foto itu, keduanya bertelanjang dada. Tangan kiri pria beruban itu memeluk wanita ayu tersebut sedangkan tangan kanannya terangkat, sepertinya sedang memegang kamera yang mengabadikan mereka.

Desi dipaksa

Desi Vidyawati, mengaku kepada rekannya bahwa dirinya sering mengalami pelecehan seksual dari atasannya, Max Moein. Salah satu bentuk pelecehan itu adalah dipaksa berfoto bugil bersama atasan. “Dia beberapa kali difoto dalam keadaan bugil,” kata Uli, rekan Desi.

Awalnya, kata Uli, Desy menutupi masalah pelecehan seksual tersebut. Masalah ini baru terungkap saat pengaduan Desi atas ulah Max akan diproses oleh LBH Apik. “Saat itu dia bertanya, bagaimana kalau foto-foto saya disebarkan?” kata Uli.

Uli kemudian menanyakan foto-foto apa yang dimaksud Desi. Saat itulah, Desi mengaku dirinya berkali-kali difoto dalam keadaan bugil. Namun, Uli mengaku tidak tahu apakah pemotretan itu dilakukan atas paksaan atau sama-sama mau. “Antara dipaksa dan kemauan keduanya kan perbedaannya tipis,” katanya.

Uli juga mengaku heran karena Desi merupakan orang yang cukup terpelajar dan seharusnya tidak mudah terlibat skandal seperti itu.

Nursjahbani yang kemarin masih berada di New York mengakui bahwa Desi adalah mantan sekretaris Max Moein. Namun Nursjahbani tak menjelaskan secara lisan, dia menerima pertanyaan dari Warta Kota lewat SMS dan menjawabnya lewat SMS pula.

Saat ditanya tentang dugaan sekretarisnya berfoto syur dengan Max Moein, Nursjahbani menyatakan, “Sekretarisku yang mana? Ada dua Uli dan Desi. Desi memang mantan asisten Moein yang sedang mengadukan Max Moein ke Badan Kehormatan (BK) karena dugaan perkosaan dan pelecehan seksual. Sudah setahun tidak direspon BK DPR. Saya sudah tanya Desi, itu bukan foto dia.”

Ketika Warta Kota menginformasikan bahwa foto syur Max-Desi sudah tersebar di internet, Nursjahbani menyatakan, “Aku kan nggak lihat, makanya tanya yang bersangkutan saja. Kan sudah aku kasih clue persoalannya. Kembangkan saja karena ini masalah besar apalagi sudah diadukan ke BK DPR.”

Sementara itu, Max Moein yang merupakan anggota Fraksi PDI Perjuangan mengatakan bahwa foto dirinya telah direkayasa. “Itu benar foto saya sama teman pada delapan-sembilan tahun yang lalu dan sekarang tidak pernah ketemu lagi,” kata Max di ruang kerjanya di Gedung MPR/DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Max menambahkan, “Latar belakangnya sudah diganti sehingga seolah-olah di hotel. Sebenarnya kami berfoto di dekat kolam renang di Jakarta. Saya dipotret oleh teman, ramai-ramai mau berenang. Foto itu memang cuma setengah badan, tapi tidak telanjang, saya pakai celana renang ditutup handuk. Max juga mengatakan bahwa penyebaran foto syur dirinya dan wanita berambut cokelat itu tak mungkin dilakukan oleh Desi.

Mengenai Desi, Max mengatakan bahwa dirinya telah memberhentikan Desi sekitar tahun 2005 karena wanita itu mencuri dan dikejar-kejar penagih utang karena menyewa mobil lalu digadaikan. “Dia dikejar debt collector. Kemudian mencuri laptop dan printer saya. Dua tahun kemudian, baru dia mengadukan saya ke Ruhut Sitompul dengan tuduhan tidak membayar pesangon. Saya katakan kepada Ruhut yang membayar adalah DPR. Setahun kemudian dia melapor ke BK dengan tuduhan yang sama,” jelasnya.(dam/sry)

Editor :
Sumber :

+++++++++

Senin 02 Jun 2003, 21:30 WIB

Kasus Pelecehan Seksual

Max Moein Bantah Memerkosa, Desi Diminta Bukti Visum

– detikNews

 

Max Moein Bantah Memerkosa, Desi Diminta Bukti Visum

Jakarta – Anggota DPR dari FPDIP Max Moein membantah dirinya melakukan kekerasan seksual terhadap sekretarisnya Desi Firdianti. Menurut dia, jika terjadi kekerasan seksual, mestinya Desi melaporkan ke polisi dan minta divisum sebagai barang bukti.

“Kalau ada kekerasan seksual, tidak mungkin dong dia datang lagi untuk dipekerjakan kembali. Dan tentu kalau ada kekerasan seksual dia langsung ke polisi untuk membuat visum kan? Itu kan logika dari kekerasan seksual. Itu ada visum dan ada bukti-bukti sperma dan sebagainya,” kata Max kepada wartawan usai diperiksa BK di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2\/6\/2008).

Pada kesempatan itu, Max Moein juga menceritakan kisah bagaimana Desi menjadi sekretaris pribadinya. Berikut pengakuan lengkap Max Moein mengenai Desi, perempuan cantik yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual Max:

Pak, Desi bilang bapak melakukan kekerasan seksual?<\/strong>

Itu juga saya sampaikan, bahwasanya Desi pernah bekerja pada saya selama hampir setahun mungkin, atau hanya 6 bulan . Dan pada waktu itu saya mendapat rekomendasi karena dulunya Desi itu sekretaris Pak Iskandar. Pak Iskandar itu kepala sekretariat Pansus BLBI waktu itu. Dan saya adalah ketua pansus BLBI. Pansus BLBI lamanya 2,5 tahun baru selesai. Satu di antara staf itu adalah Desi.

Ketika saya terpilih kembali pada periode kedua ini, sekretaris saya yang pertama itu setahun kemudian menikah, sehingga saya perlu mengganti. Di situ saya direkomendasi Pak Iskandar, masuklah Desi. Dan karena saya sudah kenal sejak saya menjadi ketua Pansus BLBI, ya saya terima saja.

Tetapi belakangan ternyata Desi banyak bermasalah karena ada beberapa debt collector<\/em> yang datang mencari. Ternyata dia menggelapkan 9 mobil yang disewa dari rental kemudian digadaikan pada orang, sehingga pihak tempat dia digadaikan dan pemilik mobil itu mencari ke kantor saya, karena Desi selalu membuat alasan bahwa mobil itu saya yang pinjam.

Nah karena seringnya dicari oleh debt collector<\/em>, Desi banyak tidak masuk kerja dan banyak meminjam uang kepada sekretaris di sekitar ruangan kami di DPR. Lalu suatu waktu karena sudah terpepet, laptop yang saya beli untuk saya itu diambil. Tapi waktu saya tanyakan katanya ada dalam laci. Ketika saya paksa katanya kuncinya ada dalam rumah, ketika saya congkel, saya paksakan untuk dibuka, dia lari pulang. Dan saya congkel, ternyata laptopnya sudah tidak ada.

Soal tindak kekerasan seksualnya gimana?<\/strong>

Di media dia katakan bahwasanya ada kekerasan seksual dan sebagainya, tetapi pada kenyataannya kalau ada kekerasan seksual, dia trauma, kalau melihat mobil saya dia gemetar, dia perlu psikiater yang mempan. Tapi kenyataanya setelah saya berhentikan dan saya mengambil Bulqis sebagai staf saya yang baru, dia datang minta supaya dipekerjakan kembali.

Bahkan juga pernah mengutus om-nya supaya saya bisa terima kembali. Saya tidak mau terima kembali karena sudah ada Bulqis, karena jatah anggota satu sekretaris, sehingga terjadi keributan dengan Bulqis. Bulqis sempat memanggil Pamdal untuk mengusir Desi dari ruangan.

Jadi kalau memang Desi trauma, dia ada kekerasan seksual dan sebagaianya, kenapa dia memaksakan buat masuk lagi. Lalu untuk membuktikan bahwa dia banyak meminjam rental, bermasalah dengandebt collector<\/em>, di samping saya ini ada ibu dan bapak yang mobilnya dipanjam Desi dan membuat masalah, boleh ditanyakan pada mereka. Bagaimana Desi meminjam mobil dan bermasalah. Boleh ditanyakan pada Bulqis bagaimana dia ingin masuk kembali.

Jadi dilakukan suka sama suka dong pak?<\/strong>

Kalau ada kekerasan seksual, tidak mungkin dong dia datang lagi untuk dipekerjakan kembali. Dan tentu kalau ada kekerasan seksual, dia langsung ke polisi untuk mambuat visum kan? Itu kan logika dari kekerasan seksua, ada visum dan ada bukti-bukti sperma dan sebagainya. Sebelum itu ada pengaduan dari Luhut yang mensomasi saya karena memberhentikan Desi tanpa peringatan dan pesangon.

Apakah siap diberi sanksi pak?<\/strong>

Ya tentu otomatis. Masalah ini sudah melebar dan banyak dugaan bahwasanya ada kekerasan seksual, foto itu, Desi dan sebagainya, maka saya terpanggil memohon waktu BK untuk klarifikasi.

Bagaimana keluarga Pak?<\/strong>

Tentu keluarga syok, siapa pun logikanya, istri dan anak melihat pemberitaan ini pastilah syok.

Bagaimana dengan sikap Ibu Mega? <\/strong>

Ketua umum menyerahkan melalui BK, ke fraksi dan DPP. Ada urutannya.
(yid/asy)

 

++++

Profil Hasnaeni Moein, Wanita Emas Calon Gubernur DKI 2017

Foto Hasnaeni Moein, Wanita Emas (Kapanlagi.com)
Sipayo.com – Hasnaeni Moein atau yang bernama lengkap Mischa Hasnaeni Moein kini tengah menjadi sorotan media massa. Dia disebut-sebut bakal menjadi salah satu pesaing kuat Basuki Tjahjaja Purnama (Ahok) dalam bursa Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 mendatang.

Perempuan yang mengusung julukan “Wanita Emas” ini memang secara tegas telah menyatakan kesiapannya menjadi gubernur DKI Jakarta. “Iya, insya Allah sih kalau masyarakat menginginkan saya menjadi ibu dari mereka, saya siap-siap saja (jadi gubernur). Karena saya sangat prihatin sekali lihat kondisi dan keadaan seperti sekarang ini,” ujarnya.

Pernyataan Hasnaeni Moein memang bukan tanpa alasan, sebab asam garam politik nasional telah banyak dia rasakan selama ini. Sebagai buktinya dia tercatat sebagai pengurus harian DPP Partai Demokrat. Selain itu, dia juga mengaku telah melakukan komunikasi dengan beberapa partai politik terkait Pilkada DKI 2017.

Profil Hasnaeni Moein sang Wanita Emas

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) nama Hasnaeni Moein memang kerap mengemuka di media massa. Sebagaimana halnya pada Pilkada Jakarta 2012 lalu, namanya juga sempat dikenal secara luas. Saat gagal menjadi salah satu kandidat calon di Pilkada 2012, ia kemudian memutuskan untuk bertarung di Pemilu Legislatif melalui Partai Demokrat.

Pada Pemilu Legislatif, Hasnaeni menggunakan nama Hj. Hasnaeni, SE. MM dan bertarung dari Dapil DKI Jakarta 2 melalui Partai Demokrat nomor urut 7. Namun cita-citanya menjadi legislator akhirnya kandas, suara yang diraih Hasnaeni pada Pemilu Legislatif tak mampu membawa dirinya duduk di Senayan.

Di partai politik, Hasnaeni juga pernah tercatat sebagai wakil bendehara Partai Hanura serta Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK). Setelah keluar sebagai pengurus kedua partai politik tersebut, kini dirinya berlabuh di Partai Demokrat dan menjabat sebagai pengurus harian DPP partai tersebut.

Sebelum namanya mengemuka pada Pilkada DKI Jakarta 2012, nama Hasnaeni juga pernah mengutarakan niat ingin bertarung di Pilkada Tangerang Selatan pada tahun 2010 berpasangan dengan Saiful Jamil. Niatnya tersebut kemudian gagal karena tidak mendapatkan dukungan partai politik.

Tak hanya sampai disitu, pada tahun 2011 ia juga pernah mendaftarkan diri sebagai calon Pimpinan KPK. Walau saat itu usiannya baru menginjak 35 tahun, sehingga niatnya harus kandas karena tidak memenuhi syarat usia 40 tahun yang ditetapkan Pansel KPK.

Sebelum terjun di dunia politik, Hasnaeni Moein dikenal sebagai pengusaha. Ia juga merupakan putri dari Politisi PDI-Perjuangan Max Moein. Dalam keseharian dia juga dikenal sebagai pengusaha dibidang kontraktor dan energi yang telah dia geluti sejak usia 19 tahun. Salah satu perusahaan yang dipimpinnya adalah PT Misi Mulia Metrical.

Meski tidak begitu dikenal di dunia hiburan. Namun Hasnaeni Moen juga pernah terlibat dalam dunia sinetron. Sinetron yang pernah dia bintangi berjudul Saras 008 dan Jin dan Jun. Di dunia sinetron ia menggunakan nama Mischa S Moein. Tak hanya sampai disitu, ia juga pernah menjadi bintang iklan televisi Sharp pada tahun 2010.

Selain menggalakkan bisnis di bidang kontraktor, Hasnaeni juga pernah memiliki usaha production house yang memproduksi produk tayangan infotaiment, dimana hasil production house yang dipimpinnya pernah tayang di TransTV dan TPI pada masa itu.

Biodata Hasnaeni Moein Sang Wanita Emas

Berikut ini adalah biodata Hasnaeni Moen yang dijuluki sebagai wanita emas sebagaimana dikutip Sipayo.com dari berbagai sumber:

Nama Lengkap : Mischa Hasnaeni Moein
Tempat Tanggal Lahir : Makassar 17 Juli 1976
Agama  : Islam

Riwayat Pendidikan :
SD Labuang Baji Makassar 1983 -1989
SMP Prasetyo Makassar, Tahun 1989 – 1992
SMA Walio Makassar
S1 : Fakultas Ekonomi Universitas Krisna Dwipayana 1996 – 2000
S2 : Magister Manajemen, Universitas Krisna Dwipayana 2000- 2012
S3 : Program Doktor Ilmu Ekonomi, UnMer Malang tahun 2013 – sekarang

Riwayat Organisasi :
Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Muda KOSGORO, 2005 – 2006
Wakil Bendahara Umum Partai Hanura, 2008
Ketua Dewan Pimpinan Nasional Partai Demokrasi Kebangsaan, 2009

Riwayat Pekerjaan :
Pegawai PT Prajna Graha Asri Realty
Pagawai CV Total Teknik
Pegawai PT Tleenet Internusa (Investor penyewaan BTS)
Komisaris PT. Misi Mulia Production (Production house), 2003 – 2006
Pegawai PT Misi Mulia Metrical (Kontraktor sipil, mekanikal dan electrical), 2004
Komisaris PT Misi Mulia Petronusa, 2007

 

+++++

Alasan Polisi Proses Lagi Kasus Penipuan Hasnaeni Si Wanita Emas

By

on 13 Apr 2016 at 18:53 WIB

Liputan6.com, Jakarta – Pertanyaan Mischa Hasnaeni Moein “Wanita Emas” mengenai alasan polisi menyeret kembali dirinya ke dalam kasus penipuan dan penggelapan yang menyeret dirinya dua tahun silam terjawab.

Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto menjelaskan, penyidik baru saja menemukan informasi yang mengindikasikan adanya tindak pidana dalam kasus tersebut.

“Ada indikasi informasi kita buka lagi. Nanti didalami lagi. Kalau ternyata belum juga ada (alat bukti), kita berhenti lagi. Cara penyelidikan ya kayak begitu,” terang Moechgiyarto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (13/4/2016).

“Bisa saja karena mungkin ditemukan novum (bukti baru). Pada saat itu dilakukan penyelidikan dan belum menemui alat bukti. Begitu menemukan lagi, kita buka kembali,” kata dia.

Moechgiyarto menerangkan status Hasnaeni hingga hari ini masih saksi. Ia pun menegaskan anggotanya masih mengumpulkan bukti-bukti untuk meningkatkan status perkara dari penyelidikan ke penyidikan.

“Ya dia kan dipanggil sebagai saksi, kan belum tentu akan langsung dijadikan sebagai tersangka. Kita lihat dulu, apakah akan menuju atau tidak. Kalau kita menemukan dua alat buktinya, baru dia nanti akan ditingkatkan sebagai tersangka,” kata Moechgiyarto.

Mischa Hasnaeni Moein si Wanita Emas menilai kasus penipuan dan penggelapan yang dituduhkan pengusaha Abu Arief terhadap dirinya sarat kepentingan politik. Ia mengaku sudah memberikan keterangan kepada polisi tahun 2014 bahwa ia tak mengetahui proyek pembangunan dua ruas jalan di Jayapura yang diikuti Abu Arief.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: