Harry Azhar Azis

Politikus Golkar , Ketua BPK yang namanya ada dalam daftar pemilik offshore account di Panama (Panama Papers)

++++

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Harry Azhar Azis
Ketua Badan Pemeriksa Keuangan
Petahana
Mulai menjabat
21 Oktober2014
Didahului oleh Rizal Djalil
Informasi pribadi
Lahir 25 April1956(umur 59)
Bendera IndonesiaTanjung Pinang,Kepulauan Riau
Kebangsaan Indonesia
Suami/istri Amanah Abdulkadir
Anak Mina Azhar,
Hanifah Azhar, dan
Ibrahim Azhar
Alma mater University of Oregon
Oklahoma State University[1]
Agama Islam

Dr. Harry Azhar Azis, MA. (lahir di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, 25 April1956; umur 59 tahun) adalah seorang ahli ekonomi dan politisi Indonesia.[2] Kini ia menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) periode 20142019. Sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi XI DPR RI yang membidangi urusan Keuangan, Perencanaan Pembangunan Nasional, Perbankan, Lembaga Keuangan Bukan Bank. Ia berasal dari Fraksi Partai Golkar dari daerah pemilihan (dapil) Kepulauan Riau. Disamping itu ia juga duduk di Badan Legislasi DPR RI.[3] Sebelum aktif di dunia politik, ia pernah menjadi dosen di beberapa universitas seperti Universitas Tarumanegara, Universitas UPN Veteran, dan Universitas Indonesia.[4]

Pria berdarah Minangkabau ini menikah dengan seorang perempuan bernama Amanah Abdulkadir dan telah dikaruniai 3 orang anak, yaitu Mina Azhar, Hanifah Azhar, dan Ibrahim Azhar.

Ketua BPK[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 21 Oktober2014, Harry terpilih sebagai Ketua BPK melalui pemungutan suara yang dilakukan oleh sembilan anggota.[5]. Harry mendapat lima suara, sedangkan pesaingnya Rizal Djalil mendapat empat suara. Sementara itu, Moermahadi Soerja Djanegara memutuskan mundur dari pemilihan ketua[6].

Riwayat[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • SDN 2 Tanjung Pinang (1969)
  • SMPN 2 Tanjungpinang
  • SMPN 74 Jakarta (1972)
  • SMAN 4 Jakarta (1974)
  • B.Sc. dan MS.c dari APP & STMI, Jakarta (1985)
  • S2 (MA) dari University of Oregon, Oregon, Amerika Serikat (1990)
  • S3 (PhD) dari Oklahoma State University, Oklahoma, Amerika Serikat (2000)

Karier[sunting | sunting sumber]

  • Wakil Direktur CV Indonesia Express/Forex.
  • Peneliti Senior PAN Asia Research (1985-1987)
  • Peneliti Senior PAN Asia Research (1990-1993)
  • Pembantu Dekan/Ketua STEI (1991-1993)
  • Konsultan PT. Pertamina – BSP (2002-2003)
  • Presiden Direktur IEGOV (2003-2004)

Jabatan di Lembaga Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

  • Tim Ahli Bidang Ekonomi PAH II BP MPR RI (2001-2002)
  • Anggota Komisi Konstitusi (MPR RI) (2003-2004)
  • Wakil Ketua Komisi XI DPR RI (2009-2014)
  • Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 20142019

Pengalaman Organisasi[sunting | sunting sumber]

  • Ketua Umum PB HMI (1983-1986)
  • Sekretaris Umum BMPSI/APTISI Jakarta (1991-1995)
  • Permias (1996-2000)
  • Tim Ekonomi DPP Partai Golkar (2001-2004)
  • Wakil Ketua Balitbang DPP Golkar (2003-2005)

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Mahasiswa Teladan APP Departemen Perindustrian RI (1976)
  • Youth Leader Program to USA, Washington DC (1986)

Rujukan[sunting | sunting sumber]

++++++

dari katadata.com

Dalam dokumen Mossack Fonseca, Harry Azhar Azis mengaku berprofesi sebagai pengusaha yang beralamat di kantor DPR.

Jejak Ketua BPK di Panama Papers

Dokumen bocoran firma hukum Mossack Fonseca mengungkap perusahaan cangkang milik Ketua BPK Harry Azhar Azis. Perusahaan yang beralamat di British Virgin Islands itu didirikan pada Februari 2010, ketika Harry menjabat Wakil Ketua Komisi Keuangan dan Perbankan DPR-RI. Sempat membantah, belakangan Harry mengakui keberadaan perusahaan itu, yang menurutnya dibuat atas permintaan anaknya.

Tak pelak, sejumlah tokoh dan kelompok masyarakat mendesak Harry mengundurkan diri. Sebagai pemimpin otoritas tertinggi pemeriksa keuangan negara, Harry dianggap tidak pantas memiliki perusahaan cangkang, yang bisa digunakan untuk menyembunyikan kekayaan dan menyamarkan hasil kejahatan. Terlebih, kepemilikan perusahaan itu tidak disertakan dalam laporan kekayaan ke KPK.

+++++=

Ketua BPK Belum Serahkan LHKPN sejak 2010

Senin, 18 April 2016 | 21:22 WIB
Kompas.com/Sigiranus Marutho BereKetua BPK Harry Azhar Azis saat diwawancarai sejumlah wartawan di Resto Celebes Kota Kupang, Kamis (11/2/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Harry Azhar Azis belum menyerahkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara kepada Komisi Pemberantasan Korupsi selama menjabat sebagai ketua badan tersebut.

Hal ini diketahui berdasarkan data laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) yang dipublikasikan melalui situsacch.kpk.go.id hingga Senin (18/4/2016).

Dalam data tersebut, Harry terakhir menyerahkan LHKPN pada 2010. Dalam data terakhir yang dipublikasikan oleh KPK pada Senin ini, Harry tercatat masih sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014.

Sebelumnya, Harry juga pernah menyerahkan LHKPN pada Desember 2003. Adapun Harry menjadi Ketua BPK sejak Oktober 2014.

Berdasarkan ketentuan, penyelenggara negara harus bersedia diperiksa terkait kekayaannya, baik sebelum, selama, maupun sesudah menjabat. Selain itu, mereka harus melaporkan harta kekayaan saat kali pertama menjabat, mutasi, promosi, dan pensiun.

Berdasarkan data, Harry memiliki sejumlah harta kekayaan dalam berbagai bentuk dengan jumlah total Rp 9.930.243.544 dan 680 dollar AS.

Berikut rincian harta kekayaan Harry:

1. Harta tidak bergerak (tanah dan bangunan)

Harry tercatat memiliki tanah dan bangunan di Padang, Sumatera Barat, serta tiga tanah dan bangunan di Bogor, Jawa Barat.

Kemudian, ada tiga tanah dan bangunan di Depok, Jawa Barat, serta tanah dan bangunan di Kota Batam. Selain itu, Harry juga memiliki tiga bangunan di kawasan Jakarta Selatan.

2. Harta bergerak

Harry memiliki harta berupa alat transportasi yang jumlahnya mencapai Rp 755 juta, berupa enam kendaraan roda empat. Masing-masing adalah mobil Suzuki Futura, Toyota Yaris, Nissan Serena, dan Nissan X-Trail.

Selain itu, Harry juga memiliki harta bergerak lainnya, seperti logam mulia, senilai Rp 50 juta.

3. Surat berharga dalam data LHKPN

Harry memiliki surat-surat berharga yang jumlahnya mencapai Rp 1.150.641.566. Beberapa surat berharga tersebut terdiri atas investasi hasil pendapatan pada 2002 dan 2003.

4. Giro dan setara kas

Harry memiliki harta yang berasal dari hasil sendiri, yaitu penambahan data harta kekayaan, penghapusan data karena dikonsumsi, dan perubahan data karena penambahan atau pengurangan sebesar Rp 5.566.595.578.

Kompas.com telah mencoba mengonfirmasi KPK mengenai laporan ini.

Direktur Pendaftaran dan Pemeriksaan LHKPN Cahya Hardianto Harefa sedang mencari tahu apakah ada data pelaporan Harry yang sudah diterima, tetapi belum dipublikasikan melalui situsacch.kpk.go.id.

“Akan diperiksa, apakah sudah ada data laporan yang baru, tetapi belum dipublikasikan,” kata Cahya saat dihubungi, Senin.

LHKPN milik Harry Azhar Azis menarik perhatian publik sejak namanya disebut masuk ke dalam “Panama Papers” yang diungkapKoran Tempo. Berdasarkan dokumen itu, Harry Azhar diketahui memiliki aset dan simpanan di luar negeri.

(Baca: Namanya Tercantum dalam “Panama Papers”, Ketua BPK Beri Klarifikasi ke Presiden)

Harry mengaku telah mendatangi kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk menyampaikan klarifikasi terkait namanya yang tercantum dalam dokumen “Panama Papers“. Dia menilai, persoalan itu sudahclear.

(Baca: Namanya Masuk “Panama Papers”, Ketua BPK Bilang Sudah “Clear”)

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: