Anggota DPR dari Partai Golkar, Ridwan Bae.

Anggota DPR dari Partai Golkar, Ridwan Bae. (Antara)

Jakarta – Seorang politisi Partai Golkar mengaku sangat kesal dengan sikap dua kader Golkar Kahar Muzakir dan Ridwan Bae di sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR, Rabu (2/12).

Keduanya dinilai membela Ketua DPR yang juga kader Golkar Setya Novanto secara membabi buta, tidak peduli dampaknya bagi Golkar.

“Golkar di daerah tentunya akan kena imbas dari upaya pembekingan terhadap kasus SN yang sudah banyak diketahui masyarakat luas. Ini mencoreng muka Golkar,” kata Wasekjen DPP Partai Golkar hasil Munas Jakarta, Samsul Hidayat, di Jakarta, Rabu (2/12).

Sebagaimana diketahui SN diduga mencatut nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) dalam mendapatkan saham dari PT Freeport Indonesia (FI). Persidangan atas kasus SN itu sudah mulai digelar MKD satu minggu terakhir.

SN sering disebut sebagai ‘tangan kanan’ (loyalis) dari ARB. Adapun Kahar disebut-sebut sebagai sahabat dekat SN dan loyalis ARB. Ridwan Bae pun merupakan loyalis ARB dan SN.

Dalam persidangan Selasa (1/12) lalu, Kahar meminta kasus SN ditutup dan menggebrak meja. Sementara Ridwan selalu mempertanyakan posisi hukum (legal standing) dari pelapor yaitu Menteri ESDM Sudirman Said. Padahal pembahasan legal standing sudah ditutup minggu lalu oleh MKD.

Samsul menjelaskan saat ini, jutaan masyarakat Indonesia menyoroti sepak terjang anggota MKD dari Golkar yang bermanuver menghambat sidang Novanto tersebut. Atas manuver yang tidak pantas tersebut, DPP Partai Golkar hasil Munas Jakarta memberikan sangsi tegas terhadap Kahar dan Ridwan.

“Sungguh aib yang luar biasa bagi kami di partai Golkar atas sepak terjang Kahar dan Ridwan Bae tersebut. Golkar harus memilih kehilangan Novanto, Kahar, Ridwan Bae dan kroni-kroninya atau Golkar kehilangan Rakyat Indonesia yang telah mendukungnya selama ini? Kami akan berhentikan keduanya. Untuk kasus Novanto kami serahkan sepenuhnya terhadap proses MKD, apabila terbukti bersalah maka harus diberhentikan sebagai Kader Partai Golkar agar tidak ditinggalkan pemilih di 2019,” ujarnya.

Dia menilai perilaku dua kader Golkar di MKD yang menghambat kasus Novanto disidangkan dengan mempermasalahkan lagi legal standing Menteri ESDM Sudirman Said sebagai pelapor, bukan tanpa komando dari ARB dan kroninya. Dia sangat paham cara-cara seperti itu atas perintah ARB maupun SN.

“Gaya seperti ini saya hafal betul dan reputasi dua kader tersebut tidak lebih hanya pion-pion atau boneka yang dimainkan ARB dan Novanto. Jadi kalau ARB-Novanto perintahkan masuk neraka, mereka akan mereka lakukan. Ini adalah fakta Golkar selama dipimpin ARB dan kroninya hanya jadi mesin kejahatan dan membawa Golkar pada kehancuran karena kepentingan pribadi dan kelompoknya,” tuturnya.