Setiawan Harjono

+++

alias  Oei Yung Gie

Besan :  Setya Novanto

+++++

Harian Pelita

http://pelita.or.id/baca.php?id=14032
Kajari Jaksel Poerwanto: Jika Sehat, Saya Akan Mengeksekusi Setiawan

[Metropolitan]Jakarta, Pelita


Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jaksel Purwanto, SH, yang pekan depan menyerahkan jabatannya sebagai Kajari kepada Himawan Kaskawa, SH, mantan Kajari Tangerang menegaskan bahwa dia ingin sekali mengeksekusi mantan Presdir Bank Aspac Setiawan Harjono ke rumah tahanan sesuai perintah Pengadilan Negeri Jaksel.


“Kalau Setiawan sudah sehat saya ingin sekali membawanya ke rutan. Tapi karena masih sakit saya tidak bisa berbuat apa-apa,” tutur Purwanto kepadaPelita kemarin berkaitan putusan hakim PN Jaksel yang selain menghukum Setiawan Harjono lima tahun penjara juga memerintahkan jaksa menahan Setiawan ke rutan.


Dia menyebutkan kendala yang dihadapi oleh kejaksaan negeri Jaksel untuk mengeksekusi Setiawan menyusul perintah dari majelis hakim PN Jaksel diketuai Lalu Mariyun dalam kasus korupsi BLBI Bank Aspac karena mantan Presdir Bank Aspac ini masih sakit dan dirawat di RS Abdi Waluyo, Jakpus.


Oleh karena itu, ungkap Purwanto yang telah dilantik sebagai Aspidsus (Asisten Pidana Khusus) Kejati Jawa Timur, Kejari Jaksel telah mengirim surat kepada Ketua Pengadilan Negeri Jaksel untuk memberitahukan bahwa pihaknya belum dapat mengeksekusi putusan PN Jaksel dengan pertimbangan Setiawan masih sakit.


“Jika yang bersangkutan sudah sembuh maka kita akan segera melaksanakan perintah PN Jaksel itu,” ucap Purwanto yang semula berharap sebelum dia pindah dapat mengeksekusi Setiawan ke dalam rumah tahanan negara.


Perintah ditahan


Nasib mantan Presdir Bank Aspac Setiawan Harjono ini memang berbeda dengan koleganya mantan Wakil Presdir dan Direktur Kredit Bank Aspac Hendrawan Harjono yang telah lebih dahulu disidangkan di PN Jaksel dengan ketua majelis hakim Mochtar Ritonga, SH, yang kini menjabat Ketua PN Jakbar.


Masalahnya Setiawan selain dihukum lima tahun penjara karena terbukti bersalah dan turut bertanggung-jawab atas tindakan yang dilakukan Hendrawan juga terancam masuk penjara setelah diperintahkan oleh majelis hakim diketuai Lalu Mariyun untuk ditahan di rumah tahanan negara.


Sedangkan Hendrawan Harjono hingga kini tidak ditahan, meski putusan majelis hakim PT DKI diketuai M Ridwan Nasution, SH, yang memeriksa kasus korupsi BLBI Bank Aspac di tingkat banding selain menghukum lima tahun penjara juga memerintahkan kepada jaksa agar Direktur Kredit Bank Aspac ini ditahan di rutan karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi.


Putusan di tingkat banding ini sekaligus membatalkan putusan majelis hakim diketuai Mochtar Ritonga pada tingkat pertama di PN Jaksel yang semula membebaskan Hendrawan dari dakwaan korupsi dan hanya menyatakan Hendrawan bersalah melanggar UU Perbankan. Kasus Hendrawan hingga kini masih diperiksa MA di tingkat kasasi.(did)

 

++++++++++++++++++

 

Kedekatan Luhut & Setya Novanto, dari Rekaman hingga Hajatan

SABTU, 05 DESEMBER 2015 | 19:29 WIB
Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan usai menghadiri pemberkatan pernikahan puteri Ketua DPR RI Setya Novanto, Dwina Michaella dengan Jason F Harjono di Gereja Katedral,Jakarta, Jumat, 27 November 2015. . TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta – Di tengah sorotan, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan hadir dalam hajatan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto di Hotel Mulia di Senayan, Jakarta, Jumat malam, 4 Desember 2015. Setya menggelar resepsi pernikahan putrinya, Dwina Michaella, dengan Jason Harjono, putra pengusaha Setiawan Harjono (Oei Yung Gie), di hotel tersebut.

Saat Dwina dan Jason melangsungkan pemberkatan pernikahan di Gereja Katedral Jakarta, pada Jumat, 27 November 2015, Luhut pun hadir. Saat pemberkatan itu, menteri Kabinet Kerja lain yang hadir adalah Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Namun keduanya tak datang saat resepsi kemarin. Pembantu Jokowi yang datang hanya Luhut, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, dan Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso. 

Kedekatan Luhut dan Setya tergambar dalam rekaman percakapan Setya dan pengusaha M. Riza Chalid saat mereka bertemu dengan bos PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin.  Nama Luhut berulang kali disebut Setya dan Riza. Luhut dianggap bisa menjembatani perpanjangan kontrak Freeport.

“Yang saham. Soal saham itu, saya bicara ke Pak Luhut (Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan). Kita sudah bicara.Weekend saya ketemu. Biar Pak Luhut yang bicara ke Bapak (Presiden Joko Widodo),” ujar Riza dalam rekaman.

Novanto pun membalas dengan mengatakan pembicaraan tersebut harus segera dilakukan agar urusan cepat selesai. Kemudian Riza langsung mengatakan dirinya berencana menemui Luhut pada akhir pekan. “Kan ini long weekend, hari Minggu nanti saya temui Pak Luhut. Bisa Minggu malam. Biar Pak Luhut cek,” ujarnya dalam rekaman.

Pada kesempatan terpisah, Luhut mengatakan namanya hanya dicatut orang yang bercakap-cakap di dalam rekaman. Ia siap menjelaskan bila Mahkamah Kehormatan Dewan memanggilnya. “Beken juga saya,” ujarnya.

ANTONS

+++++

Resepsi Putri Setya Novanto Mewah, Ini Estimasi Biayanya

SABTU, 05 DESEMBER 2015 | 13:08 WIB

Resepsi Putri Setya Novanto Mewah, Ini Estimasi Biayanya

Suasana resepsi pernikahan Putri Setya Novanto, Dwina Michaella yang digelar di Hotel Mulia, Jakarta, 4 Desember 2015. TEMPO/Bambang Harymurti

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto menghelat resepsi pernikahan putrinya, Dwina Michaella, dengan Jason Harjono, putra pengusaha Setiawan Harjono (Oei Yung Gie), di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Jumat malam, 4 Desember 2015.

Resepsi yang berlangsung lancar dan meriah tersebut, tak luput dari penjagaan ketat petugas keamanan yang menyebar di seluruh penjuru area. Area Grand Ballroom, Hotel Mulia, Senayan, dipadati kurang lebih 2 ribu tamu undangan atau setara dengan batas maksimal kapasitas ruangan.

Berdasarkan hasil penelusuran Tempo saat menghubungi pihak manajemen hotel, untuk menyewa area ballroom tersebut dikenakan biaya paket paling murah setidaknya Rp 1,35 miliar. Biaya tersebut hanya terdiri dari biaya sewa gedung dan layanan katering dari Hotel Mulia. Adapun biaya tersebut dapat bertambah tergantung paket menu dan porsi katering yang dipilih.

Biaya tersebut belum termasuk dekorasi, suvenir untuk tamu undangan, cetak undangan, hiburan musik, dan tambahan pesta lainnya. Sementara itu, menu makanan yang disediakan pun dapat disesuaikan, baik tradisional maupun internasional.

Sebagai contoh pada hajatan semalam, hidangan menu yang tersaji prasmanan untuk para tamu lengkap dengan berbagai jenis makanan pembuka hingga penutup. Tempura udon, beef teriyaki, deep fried fish, dan berderet menu makanan utama lain. 

Hidangan pembuka, para tamu dapat memilih santapan salad hingga beragam jenis sup. Sebagai penutup, tersedia pula aneka puding, cake, maccaron, hingga aneka jenis buah segar. Para tamu pun dilayani dengan ramah dan sigap oleh para pelayan hotel berseragam yang selalu memastikan makanan tersedia hingga akhir pesta.

Hotel Mulia, Senayan, merupakan salah satu hotel bintang lima terbesar di Jakarta. Hotel ini resmi berdiri 1997 dan diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto. Ballroom Hotel Mulia seluas 2.319 meter persegi itu bahkan disebut-sebut sebagai ballroom terluas di Asia Tenggara. Pemilik Hotel Mulia adalah Grup Mulia, salah satu pemilik jaringan bisnis properti terbesar di Indonesia, yang juga memiliki Mulia Resort & Villas Nusa Dua, Wisma Mulia, Wisma GKBI, dan Mal Taman Anggrek.

GHOIDA RAHMAH

++++

Jawa Pos, 17 Maret 2005

Rumah Koruptor Didemo

Para aktivis gerakan antikorupsi kini punya cara lain dalam berdemonstrasi. Biasanya, para demonstran memilih berdemo di depan gedung Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Mahkamah Agung (MA). Tapi, kali ini tidak.

Para demonstran yang tergabung dalam Brigade Aksi Tangkap Koruptor (BATK) kemarin memilih demo langsung di depan rumah orang yang mereka anggap korup. Yang menjadi sasaran aksi mereka siang kemarin adalah rumah mantan Presdir Bank Aspac Setiawan Harjono di Jl Agus Salim No 72 Menteng, Jakarta Pusat.

Mereka beraksi pukul 13.00 dan hanya berlangsung 15 menit. Tapi, demo yang dilakukan sekitar 50 orang tersebut sempat membuat lalu lintas di Jl Agus Salim, Jakarta, yang satu arah itu, macet total. Apalagi, rumah tersebut terletak persis di depan sekolah. Kemacetan pun semakin panjang. Kapolsektro Menteng Kompol Dahana terlihat ikut berjaga di lokasi.

Rasa ketidakadilan rakyat makin terusik manakala para pembobol bank dibiarkan menghirup udara bebas, cetus Indra Hermawan, koordinator aksi. Mereka kemarin juga membawa kertas putih bertulisan, Rumah Ini Disegel Rakyat. Tapi, begitu tulisan itu ditempel di pagar rumah mewah berlantai dua tersebut, polisi segera merobeknya.

Setiawan Harjono dipidana lima tahun penjara dipotong masa penahanan yang pernah dijalaninya. Hal ini sesuai putusan majelis hakim PN Jakarta Selatan pada 2003 lalu. Tapi, pidana tersebut urung dilakukan karena dia beralasan sakit. Setiawan terlibat kasus korupsi penyelewengan dana BLBI (bantuan likuiditas Bank Indonesia) senilai Rp 1,4 triliun.

Para pendemo juga menyebarkan rilis berisi beberapa nama para pembobol bank yang masih lolos dari jerat hukum. Antara lain, ditulis nama Maria Pauline Lumowa (pembobol Bank BNI), Irawan Salim (mantan Dirut Bank Global), Sjamsul Nursalim (mantan pemilik BDNI), David Nusawijaya, Bambang Sutrisno, dan Eddy Tong.

Kami terus menuntut supaya mereka ditangkap. Kami akan terus mendemo rumah-rumah mereka, ancam Indra.

Meski didemo, Setiawan sendiri tak muncul dari rumah mewah itu. Menurut penjaga rumah itu, Sunarno, sang pemilik rumah sudah jarang datang. Terakhir kali Pak Setiawan datang ke sini sebulan lalu, jelasnya. (naz)

Sumber: Jawa Pos, 17 Maret 2005

++++

Saksi Tak Mengetahui Aset Bank Aspac

By 

on 08 Agu 2002 at 20:37 WIB

Liputan6.com, Jakarta: Direktur Utama PT Bank Asia Pasific (Aspac) Setiawan Harjono, terdakwa kasus dugaan penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia menjalani persidangan lanjutan di Pengadilan Jakarta Selatan, Kamis (8/8) siang. Dalam persidangan yang sepi pengunjung itu, majelis hakim yang dipimpin Lalu Mariyun mendengarkan kesaksian Komisaris PT Hutama Penilai Imam Harjianto. Sedianya, persidangan bakal dilanjutkan pekan depan dengan agenda mendengarkan saksi lainnya. 

Perusahaan yang dipimpin Imam Harjianto pernah menilai aset Bank Aspac sebelum bank tersebut mengajukan kredit bantuan likuiditas ke BI. Namun Imam tidak mengetahui secara persis total aset Bank Aspac yang masih tersisa. Dia hanya menghitung aset bank di Bogor, Jawa Barat, yang diperkirakan bernilai Rp 208 miliar. Imam menegaskan tak tahu aset lain berupa tanah, bangunan, dan hotel yang selama ini diduga berada di Bali, Solo, dan Serang. 

Jaksa penuntut umum Hermut Achmadi mengatakan, terdakwa bersama-sama Hendrawan Harjono selaku wakil Presiden Direktur PT Bank Aspac pada 11 hingga 12 Maret 1999 telah melakukan tindakan melawan hukum. Mereka didakwa memperkaya diri dan merugikan keuangan negara di luar peruntukan dana BLBI. Karena tindakan tersebut, negara dirugikan sebesar Rp 583,5 miliar. 

Di persidangan sebelumnya, mantan Presiden Direktur PT Aspac Corporation Irawan Harjono, memberikan kesaksian perihal pengambilalihan utang Grup Aspac oleh Bank Aspac [baca: Mantan Presdir Aspac Bersaksi di Pengadilan]. Kepada majelis hakim, Irawan mengatakan, pelunasan utang PT Aspac Corp. kepada debitur pada 1997 diambil alih oleh Bank Aspac dengan menyerahkan sejumlah lahan seluas 129 hektare di daerah Karawang, Jawa Barat.(COK/Yusril Ardanis dan Dono Prayogo)

 

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: