Rekson Sitorus

Pengusaha /penguasa sampah / Bantar Gebang, Bekasi

_____

Sumber : http://opini.klikbekasi.co/2015/11/09/di-kota-bekasi-rekson-sitorus-semacam-robin-hood/

Di Kota Bekasi, Rekson Sitorus Semacam Robin Hood3

Niat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutus kontrak PT Godang Tua Jaya selaku pengelola tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang nampaknya menghadapi banyak tantangan. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok harus tahan banting dengan berbagai tekanan yang luar biasa itu.

Belum usai adu mulut dengan anggota DPRD Kota Bekasi, Ahok dipaksa melihat kenyataan tentang ratusan truk sampah DKI Jakarta yang diblokir oleh warga dan ormas. Dampaknya, sampah di Jakarta menumpuk di mana-mana. Dan ini teramat menggelikan: ratusan polisi berjaga-jaga di jalanan hanya untuk mengawal distribusi sampah.

Rekson Sitorus, pemilik PT Godang Tua Jaya, barangkali diangap semacam Robin Hood oleh banyak orang di Kota Bekasi. Dia dibenci sekaligus dipuja. Dia dipandang telah merugikan keuangan negara, tapi di sisi lain dia dianggap sebagai dermawan pembawa keberuntungan.

TPST Bantar Gebang telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Yang mereka tahu, tempat itu adalah milik Rekson Sitorus.

Dari data yang kami himpun, ada sekitar 6.000 pemulung dan 360 bos kecil pemilik lapak yang bergumul setiap hari di atas lahan seluas 110 hektar di Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, itu.

Setiap hari, seorang pemulung di TPST Bantar Gebang bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 80.000-Rp 100.000 atau Rp 2,4 juta-Rp 3 juta per bulan. Seorang bos kecil, yang menampung sampah pilahan pemulung, mampu menghasilkan Rp 83 juta per bulan. Perputaran uang di sektor informal itu ditaksir mencapai 29,8 miliar per bulan.

Pemerintah Kota Bekasi, setiap tahun, juga kecipratan 20 persen dari total duit jasa pengelolaan sampah atau tipping fee yang digelontorkan dari Pemrov DKI Jakarta ke PT Godang Tua Jaya. Nilainya berkisar Rp 40-50 miliar.

Uang sebesar itu kemudian didistribusikan lagi kepada warga di empat kelurahan yang mengelilingi TPST Bantar Gebang, yaitu Kelurahan Cikiwul, Ciketing Udik, Sumur Batu dan Bantar Gebang. Melalui mekanisme community development atau pemberdayaan masyarakat, setiap kepala keluarga mendapatkan uang kompensasi Rp 300 ribu per tiga bulan.

Sunat-menyunat uang sampah bukan hal yang aneh di Bantar Gebang. Di tingkat RT, uang kompensasi yang harusnya diterima utuh untuk warga itu, disunat Rp 10 ribu untuk kegiatan gono-gini.

Setiap Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), juga menyunat Rp 100 ribu dengan dalih untuk perbaikan infrastruktur, pembangunan masjid dan pembelian perlengkapan ini-itu. Totalnya, warga hanya mendapatkan Rp 190 ribu.

Kata pepatah lama, ada gula ada semut. Pemilihan Ketua LPM di empat kelurahan tersebut menjadi ajang kompetisi yang sengit. Konon, kandidat bisa mengeluarkan modal ratusan juta bahkan sampai Rp 1 miliar. Kondisi ini hanya terjadi di Bantar Gebang.

Dari hasil pemotongan Rp 100 ribu tadi, LPM mampu mengumpulkan Rp 1-1,5 miliar per tahun. Kenyataannya, apa yang mereka kerjakan juga tidak bisa sepenuhnya dipercaya, misalkan dalam bentuk laporan keterangan pertanggung jawaban.

Seperti LPM, Pemkot Bekasi pun tidak pernah merinci detail peruntukan uang dari PT Godang Tua Jaya di dalam APBD. LKPJ Wali Kota Bekasi hanya menyebut, sekitar 40 persen uang disalurkan kepada masyarakat. Sinyanya? Tidak jelas.

(Baca: Uang Kompensasi TPST Bantar Gebang ‘Disunat’ Berkali-kali)

Rekson Sitorus, adalah juga Robin Hood bagi penguasa kecil. Politisi, tokoh masyarakat, ormas, karang taruna, aparat pemerintah, disebut-sebut rutin mendapatkan setoran. Mereka sering bertandang langsung ke kantor kecil PT Godang Tua Jaya yang berada di TPST.

Sayang, meskipun ini telah menjadi obrolan yang umum di kalangan warga Bantar Gebang, pembuktian mereka menerima setoran, cukup sulit. Warga hanya bisa bergosip dan menggerutu karena bagian mereka tidak sebesar ‘orang-orang khusus’ itu.

Sejumlah sumber yang kami wawancarai memberikan petunjuk menarik. PT Godang Tua Jaya, di Bantar Gebang, memiliki ‘Tim 17′ yang disegani warga. Mereka merupakan preman yang sengaja dipelihara. Apabila warga ada yang rewel, Tim 17 lah yang bergerak.

Kemunculan Tim 17 berawal dari huru-hara terjadi di TPST Bantar Gebang pada tahun 2004. Saat itu, sejumlah orang menghadang truk sampah DKI Jakarta, persis seperti kondisi saat ini. Begitu PT Godang Tua Jaya memenangkan tender pengelolaan TPST pada tahun 2008, mereka direkrut sebagai tim khusus.

Sumber kami mengungkapkan, sejumlah politikus Kota Bekasi kerap bertamu ke Pangkalan 10, Cileungsi, perbatasan Bekasi-Bogor, tempat PT Godang Tua Jaya menyimpan peralatan kerjanya. Atau langsung ke rumah Rekson di daerah Cawang, Jakarta Timur, dekat bandara Halim Perdana Kusumah.

Politikus yang bertamu ke Cawang tentu punya pengaruh besar dalam menentukan kebijakan. Sumber menyebut, di sana tidak ada transaksi uang. “Rekson tidak memberikan uang. Sudah ada tim khusus yang mengatur. Berapa besarnya saya tidak tahu,” kata sumber.

(Baca: Bisnis Sampah Dinasti Rekson Sitorus di DKI Jakarta)

Rekson membantah semua cerita-cerita yang berkembang tersebut. Menurut Rekson, tidak benar PT Godang Tua Jaya punya kedekatan dengan politikus, apalagi sampai memberikan setoran.

“Aduh, kami berbuat apa? Kami melihat, sedikit-sedikit, Godang Tua yang dituduh. Sedikit-sedikit, Godang Tua yang disebut aktor di balik semua permasalahan ini,” kata Rekson.

Redaksi

+++++

 

DPRD Bekasi Diduga ‘Terima Setoran’ dari Rekson Sitorus Untuk Sikat Ahok

Pemilik PT Godang Tua Jaya, Rekson Sitorus, adalah orang yang dekat dengan para politisi di Kota Bekasi.

JAKARTA, KORANMETRO.com – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akhirnya buka-bukaan mengenai kecurigaannya terhadap DPRD Kota Bekasi soal konflik tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Ahok menyebut DPRD Kota Bekasi selama ini  selalu ‘bereaksi’ ketika DKI Jakarta ‘menghajar’ PT Godang Tua Jaya selaku swasta yang diberi kepecayaan Jakarta untuk mengelola sampah.

Ahok mencontohkan, begitu DKI Jakarta mengirimkan surat peringatan (SP) kepada PT Godang Tua Jaya, DPRD Kota Bekasi langsung ‘teriak’.

“Saya juga jadi curiga sama anggota DPRD, oknum DPRD apa gimana saya enggak tahu,” kata Ahok seperti dilansir Sabtu (25/10/2015).

“Kenapa curiga? Saya sudah kirim surat peringatan pertama bahwa PT GTJ wanprestasi dan kami butuh 105 hari lagi untuk melayangkan SP 2 dan 3. Begitu dilayangkan SP pertama, mereka mulai mengancam saya enggak boleh buang sampah lagi.”

Diduga Terima Setoran

Ahok mengendus sejumlah anggota dewan menerima aliran dana dari PT Godang Tua Jaya.

Tiap bulan, kata Ahok, DKI wajib membayar tipping fee Rp 114.000 per ton sampah ke PT Godang Tua Jaya, dan jumlah sampah DKI sekitar 6.000 ton sehari.

Maka ada uang sebanyak Rp 19 miliar mengalir ke PT Godang Tua Jaya tiap bulannya. Sementara itu, dari hasil audit, terbukti PT Godang Tua Jaya tidak melaksanakan kewajibannya membuat teknologi pengelolaan sampah.

Sejak kerjasama dengan Pemprov DKI pada 2008, PT Godang Tua Jaya belum juga membuat teknologi pengelolaan sampah dengan Gasifikasi, Landfill, and Anaerobic Digestion (Galvad).

Selama ini tipping fee itu dibayarkan ke PT Godang Tua Jaya sebagai tambahan investasi pembuatan teknologi pengelolaan sampah. “Saya ingin tahu larinya uang itu ke mana,” kata Ahok.

Menurut Ahok, ‘teriaknya’ anggota DPRD Kota Bekasi kali ini adalah wujud ancaman agar DKI Jakarta tidak memutus kontrak pengelolaan sampah dengan PT Godang Tua Jaya.

“Ini bagian supaya mengancam lagi, saya enggak boleh putuskan (kontrak kerjasama dengan PT Godang Tua Jaya),” kata Ahok.

Diberitakan sebelumnya, Komisi A DPRD Kota Bekasi yang dipimpin Ariyanto Hendrata dari Partai Keadilan Sejahtera meminta Ahok memenuhi panggilan ke Bekasi.

“Kami berusaha memaksa (Ahok) untuk menghadiri. Ini tuntutan dari perjanjian kerjasama yang harus diklarifikasi yang berkompeten,” kata Ariyanto.

Berdasarkan pengamatan, Komisi A DPRD Kota Bekasi memang tidak pernah berbicara mengenai keburukan PT Godang Tua Jaya.

Ketika TPST Bantar Gebang mengalami kebakaran hebat beberapa waktu lalu, Komisi A tidak menyalahkan PT Godang Tua Jaya dengan alasan hal itu bukan kewenangan mereka.

Ariyanto bahkan pernah mengklarifikasi pemberitaan di sejumlah media massa ketika dia disebut mengkritik PT Godang Tua Jaya. Ariyanto pun segera nampak panik.

Berdasarkan informasi dari media online lokal menyebutkan, pemilik PT Godang Tua Jaya, Rekson Sitorus, adalah orang yang dekat dengan para politisi di Kota Bekasi.

“Boleh dibilang, banyak politikus Kota Bekasi yang sudah merasakan duitnya Rekson Sitorus,” kata sumber tersebut.

Bahkan, dari pengakuan sejumlah wartawan senior di Bekasi, Rekson dulu paling royal kalau bicara bagi-bagi uang. “Ya, dulu mah tuh bos sampah paling royal kalau ketemu kita-kita. Apalagi kalau ada kasus atau berita kritikan kalau ketemu Rekson bisa cair gede,” aku salah satu wartawan media mingguan di Balai Patriot, Kantor Wali Kota Bekasi, kemarin.

Putus Kontrak

Sekedar untuk diketahui Ahok telah mengisyaratkan akan segera memutus kontrak PT Godang Tua Jaya yang mengelola tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi.

Ahok mengatakan, konfrontasi yang dilakukan anggota Komisi A DPRD Kota Bekasi soal pengelolaan TPST Bantar Gebang kepadanya justru malah menguntungkan Pemrov DKI Jakarta.

“Saya senang ketika mereka menanyakan ini tidak memenuhi standar segala macam. Sebenarnya, mereka sedang bantu saya secara tidak langsung. Artinya, DPRD Bekasi yang menyatakan bahwa PT Godang Tua Jaya itu wanprestasi, betul gak?” kata Ahok.

Menurut Ahok, dengan adanya kekisruhan tersebut, berarti Pemrov DKI Jakarta sudah tepat jika ingin memutus kontrak dengan PT Godang Tua Jaya.

“Kalau wanprestasi, boleh enggak saya batalin (kontraknya)? Boleh dong. Artinya, yang bilang wanprestasi siapa? Kan Bekasi, bukan saya loh,” kata Ahok.

Sementara itu Managing Director PT Godang Tua Jaya, Douglas J Manurung, saat dihubungi via telepon mengatakan belum bisa berkomentar. (par/jek/int)

 

Dituding Wanprestasi, Ini Tanggapan PT Godang Tua Jaya

Senin, 26 Oktober 2015 | 13:29 WIB
KOMPAS / LUCKY PRANSISKASuasana di tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (19/10/2010). Tumpukan sampah yang masuk TPA termasuk sampah dari DKI Jakarta sebanyak 6.000 ton per hari

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Utama PT Godang Tua Rekson Sitorus menolak disebut wanprestasi oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. 

Rekson mengatakan PT Godang Tua Jaya telah melaksanakan kewajiban yang tertulis dalam kontrak.

“Godang Tua itu tugasnya adalah mengelola sampah dan itu dituangkan ke dalam kontrak, di dalam kontrak itu ada perjanjian itu masing-masing pihak ada hak dan kewajiban, kewajiban Godang Tua sampai saat ini, seperti yang dituangkan dalam kontrak, sudah diimplementasikan di TPST Bantar Gebang, jadi enggak ada wanprestasi,” ujar Rekson ketika dihubungi, Senin (26/10/2015). 

Beberapa hal yang tercantum dalam kontrak adalah mengenai sistem pemberian tipping fee kepada masyarakat. 

Rekson kecewa karena selama ini PT Godang Tua Jaya sering disebut membagikan uang kepada berbagai pihak seperti preman dan aparat. 

Padahal, kata Rekson, mereka memberikan uang tipping feesebanyak 20 persen dari total dana ke kas daerah Kota Bekasi. 

Pemerintah Kota Bekasi yang membagikan dana tersebut kepada masyarakat sebagai uang community development. Sisanya, digunakan PT Godang Tua Jaya untuk biaya operasional. 

“Itu pun dibagi dua karena ada dua badan hukum di TPST Bantar Gebang yaitu PT Godang Tua Jaya dan PT NOEI (Navigate Organic Energy Indonesia). Ada kewajiban masing-masing antara keduanya. Berita selama ini kita disebut membagi-bagikan uang, itu sangat menyesatkan,” ujar Rekson. 

Rekson juga mengomentari rencana Pemerintah Provinsi DKI memutus kontrak dengan PT Godang Tua Jaya. Jika hal itu dilakukan, kata Rekson, maka Pemprov DKI telah melanggar hukum. 

“Kalau Jakarta memutus sepihak kan tidak baik. Itu kan pelanggaran konstitusi. Negara kita kan negara hukum. Sampai skarang kita tidak merasa wanprestasi loh. Kalau soal masalah pengelolaan sampah, jelas kita ada pembagian tugas,” ujar Rekson. 

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mempermasalahkan kontrak antara Pemerintah Provinsi DKI dengan pengelola Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, PT Godang Tua Jaya (GTJ). 

Basuki mengatakan, Pemprov DKI telah mengirim surat peringatan pertama kepada PT GTJ.

“Saya sudah kirim SP 1 ke Godang Tua, kalau sudah (SP) 2 dan 3, kami putus kontraknya. Jelas enggak bayar Rp 400 miliar setahun ke perusahaan itu,” kata Basuki, di Balai Kota, Jumat (23/10/2015). 

Tiap tahun DKI membayar tipping fee atau biaya pengangkutan sampah kepada Pemerintah Bekasi melalui pengelola TPST Bantargebang, PT GTJ. 

DKI wajib membayar tipping fee Rp 114.000 per ton sampah ke PT GTJ, dan jumlah sampah DKI sekitar 6.000 ton sehari. Maka ada uang sebanyak Rp 19 miliar mengalir ke PT GTJ tiap bulannya. 

Sementara itu, dari hasil audit, terbukti PT GTJ tidak melaksanakan kewajibannya membuat teknologi pengelolaan sampah. 

Sejak bekerja sama dengan Pemprov DKI pada 2008, PT GTJ belum juga membuat teknologi pengelolaan sampah dengan gasifikasi, landfill, and anaerobic digestion (galvad). 

Selama ini tipping fee itu dibayarkan ke PT GTJ sebagai tambahan investasi pembuatan teknologi pengelolaan sampah. Hal ini dilakukan lantaran investasi awal DKI ke PT GTJ senilai Rp 700 miliar dinilai tak mencukupi.

+++++

http://reformata.com/news/view/2756/rekson-sitorus-mengubahsampah-menjadi-emas

Rekson Sitorus, MENGUBAH Sampah Menjadi Emas

 Author : Hotman J Lumban Gaol |  Tue, 5 May 2015 – 14:10 | View : 1753
news24284.jpg

foto: obornews

Rony, begitulah dia dipanggil masyarakat Bekasi. Nama itu sebenarnya nama dari anak sulung Rony Pandapotan Sitorus. Sebagaimana orang Batak umumnya menggunakan panggilan namanya dari nama anak pertama. Dia bukanlah seorang birokrat pemerintahan, yang selalu petantang-petenteng berteriak-terik menyuruh anak buah, memeriksa aparat bawahan. Dan bukan seorang pemimpin politisi yang dengan baju safari berpidato berjanji muluk-muluk. Sebaliknya dia hanya pengusaha yang berusaha berarti untuk orang lain, menjadi saluran berkat untuk orang lain.

Rekson Sitorus mengawali usahanya di daerah Cilengsi. Memulai usaha dengan bergulat bersama tanah urukan. Pria asal kampung Habinsaran, Toba Samosir, kemudian memuai peruntungan di jalur mengruk tanaj yang kemudian hari berkembang menjadi pendiri PT Godang Tua Jaya, yang kini dipercayakan pemerintah DKI Jakarta mengelola tempat pembuangan sampah terpadu di Bantar Gebang, Bekasi. Pusat pembuangan dan pengelolaan sampah terbesar di Indonesia. Jauh sebelum menjadi pengusaha, sebenarnya, cita-citanya ingin menjadi pelaut. Maka begitu lulus SMA tahun 1971 di Pematang Siantar, dari sana langsung ke Jakarta melamar ke Akademi Ilmu Pelayaran. Niatnya itu ditopang semangt seorang kenalannya bermarga Simanjuntak, kenalannya yang bertempat tinggal di Tanjung Priok, dekat di sekolah tersebut.  ”Namun batin saya berkata bahwa saya bukan seorang pelaut. Saya tidak bisa menjiwai pekerjaan di laut,” kenangnya.

Ceritanya, dalam suasana hati tidak menentu, tampillah seseorang yang juga bermarga Sitorus yang mengajaknya berbisnis urukan tanah. ”Saya waktu itu langsung semangat. Setelah saya coba, saya perhatikan, saya merasa cocok. Saya langsung tertarik. Saya katakan pada diri saya, ah, ini dunia saya. Menjadi kontraktor penggalian tanah.” Jadilah mulai tahun 1980 dia mulai bisnis uruk tanah. Dari sana merintis usaha pembuatan kompos hingga kemudian menjadi perusahaan swasta yang dipercaya untuk mengelola Bantar Gebang.

Mengubah sampah
Rekson adalah sosok pengusaha yang berhasil, mengubah sampah jadi berharga; diantaranya menjadi kompos, bahan rekondisi yang kembali bisa dibuat plastik dan juga dikonfersi menjadi listrik. “Bayangkan, kalau sampah satu hari saja menumpuk di Jakarta, kota kita sudah kewalahan. Sampah-sampah sudah pasti berserakan di sepanjang jalan,” ujarnya. “Tetapi, kalau kita kelola samapah dengan baik, lingkungan sekotor apapun akan bersih, sedangkan kesadaran masyarakatnya belumlah tinggi, apalagi soal kebersihan. Sampah harus dikelola dengan baik, kalau ngga sampah bisa juga merusak alam, wadah air minuman.”

Naluri bisnis dari orangtuanya. “Ayah saya, dulunya seorang pedagang keminyaan dan penatua di gereja. Ketika kecil, usia puluhan tahun, saya sudah biasa melihat transaksi bisnis keminyaan.  Dari situlah saya mengenal mulai bisnis. Saya belajar mengelola usaha,” ujarnya lagi. Dia menyadari jalan berliku harus dilalui pengusaha tangguh. “Kegagalan jadi kesuksesan. Bagi saya, sukses bukan berarti kaya, berkuasa dan populer. Melainkan sanggup melewati badai. Kehidupan saat itu membentuk saya untuk menghargai hidup lebih dari sekedar merasakan kesulitan.”

Bisnisnya penah kolap, sempat berbinis uruk tanah lagi sepih order. Hal itu pernah menimpanya saat krisis moniter tahun 1998. Kenyataan melewati krisis ekonomi sangat sulit. Namun ada 3 kunci keberhasilan. Pertama, tidak melarikan diri. Kedua, konsolidasi dan penggunaan dana seefektif mungkin, dan yang ketiga, proaktif melakukan perundingan dengan pihak kreditur. Dari sinilah katanya pergulatan hidupnya menemukan jalan, dan perusahaan yang dia kelola terus berkembang dan berkembang. Masih jelas dalam ingatannya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Bantar Gebang itu dulunya adalah sumber tanah urukan untuk proyek pembangunan perumahan di Podomoro, Kelapa Gading, dan Sunter yang kini lahan itu menjadi pembuangan sampah, tetapi memberikan keuntungan berlipat.

Sebagai Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, saat ini pihaknya menerapkan teknologi landfill gas untuk menghasilkan listrik dari sampah. Selama ini, dengan fasilitas teknologi yang dikembangkan saat ini hanya baru mampu mengolah sebanyak 2.000 ton sampah yang menghasilkan listrik 10 megawatt, pupuk organik, serta bijih plastik. Sehingga, masih ada sekitar 3.500 ton sampah yang belum terkelola. Teknologi landfill Gas itu dilakukan dengan melakukan penutupan sampah menggunakan bahan karet bernama bio-membran yang mengelilingi tiga zona pembuangan sampah.

“Harganya mahal sekali yakni Rp 90 ribu/meter. Sedangkan area timbunan sampah yang harus ditutup luasnya sekitar 89 hektar. Namun dengan penutupan ini selain menghilangkan bau dan serangga, sekaligus dapat memproduksi gas biometan,” katanya. “Gas tersebut tiap bulan dapat menghasilkan listrik hingga 10 megawatt yang dibeli oleh PLN untuk dialirkan kepada masyarakat Jawa dan Bali. Penjualan listriknya kini rata-rata per bulan sekitar Rp 4 miliar.”

Setiap zona yang ditutupi bio-membran itu terdapat 200 sumur gas sedalam 20-25 meter yang selanjutnya dihubungkan ke pipa-pipa menuju penampungan gas untuk diolah menghasilkan listrik. Seluruh investasi mulai dari pengolahan sampah hingga menjadi listrik mencapai Rp 700 miliar. Sementara itu mengenai polemik masalah sampah yang melibatkan Pemprov DKI Jakarta dengan Pemda Bekasi, Rekson berharap segera berakhir. “Sebaiknya  pimpinan pemerintahan tidak ribut lagi karena kerja sama sampah ini sama-sama menguntungkan kedua pihak. Membangun simbiosis mutualisme,” ujar anggota FKUB Kota Bekasi, ini.

Entrepeneur
Menjadi seorang wirausaha disebutnya oleh ajakan Hiobaja Sitorus adalah ”guru”-nya dalam bisnis tanah uruk. Waktu itu, Hiobaja kecelakaan, sang guru harus istirahat dan kemudian mengalihkan usaha ke bidang perhotelan. Sementara Rekson tetap bertahan dengan memuali bendera sendiri. Dan, puji Tuhan, dalam waktu tujuh tahun, dari seorang yang menjual tenaganya kepada orang lain, Rekson telah menjadi raja atas dirinya sendiri. Dia menjadi entrepreneur. Pintu lebih terbuka buatnya untuk mengembangkan layar lebih lebar lagi mengarungi bisnis di dunia yang dianggap jorok oleh orang lain: mengelola sampah.

Tahun 1993 dia mendirikan PT Godang Tua Jaya. Nama itu agaknya sengaja dipilih karena di situ terkandung obsesi untuk menjadi ”berkah yang besar.” Apa salahnya untuk mematok sebuah harapan. Yang jelas ini bukan sekedar mimpi. Perusahaan yang dia kendalikan kemudian digandeng oleh pemodal besar, PT Navigat Organic Energy Ind, dengan melibatkan investasi besar.
Apa kunci sebagai seorang entrepreneur? Kuncinya adalah memangun relasi. ”Kuncinya adalah mencoba berteman dengan banyak orang. Tak pernah mencari musuh. Itulah yang membuat kita bisa eksis sampai sekarang. Kita juga selalu berupaya berbuat baik terhadap lingkungan. Kepada karyawan pun saya tidak pernah menunjukkan bahwa saya bos. Pengalaman saya menunjukkan orang yang menamakan diri bos selalu bersikap kasar.

Kepada aparat mereka juga sombong-sombong. Loh, masyarakat ini kan asetmu kok kau kasarin. Atau mungkin karena orang Batak itu punya karakter kasar seperti itu?!” Menurutnya, bahwa untuk modal dalam memulai usaha, mencintai sesama manusia. “Saya mengimani firman Tuhan, yang menyebut bahwa kalau kita mengasihi sesama kita dengan tulus, kita akan diterima di mana-mana. Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung,” motonya. Suami dari Lina boru Pasaribu, ayah dari empat anak. Yang pertama dan kedua kembar. Anak pertama, Rony Pandapotan Sitorus, dia tempatkan untuk mengelola divisi alat-alat berat. Ernika Tiurmauli boru Sitorus telah menikah dengan Douglas Manurung, yang sekarang duduk sebagai Wakil Direktur Utama PT Godang Tua Jaya. Anak ketiga, Elfrida Junita, menikah dengan Tumpak Sidabutar, saat ini menjadi anggota DPRD Kota Bekasi. Sementara yang paling bungsu, Henry Fonda Agung. Dari keempat anak dan menantunya Tuhan anugerahi 9 cucu. Sekali lagi, kuncinya mengasah hubungannya dengan relasi dan para mitranya. Tetapi jauh dari hal itu, masalah spritualitas yang selalu diutamakannya. Selain sebagai pengusaha dia menjadi salah satu penatua di Gereja Pentakosta Indonesia sidang Kota Wisata. “Saya Percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan dan hidup. Tuhan yang memegang masa depan kita. Hidupilah jujur dan kerjakanlah apa yang memuliakan Tuhan,” ujarnya. ?Hotman

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: