Otto Cornelis Kaligis

Pengacara legendaris, pembela pejabat korup kelas kakap.

dari Wikipedia :

Otto Cornelis Kaligis adalah pengacara yang lahir pada tanggal 19 Juni 1942 di Ujung Pandang (Makassar).[1] Pengalaman menangani kasus di Indonesia sudah sangat banyak. Terutama untuk kalangan artis, selebritis, pejabat, dan kasus yang menyedot perhatian banyak orang.

Sebagai pengacara yang bergerak di bidang penegakan hukum dan keadilan, OC Kaligis telah memiliki pengalaman dalam beragam kasus, di antaranya adalah mengenai buruh pabrik, kuli bangunan, sopir PPD, dan rakyat miskin lainnya. Dalam satu kasus, dia juga pernah membela seorang residivis yang ditembak polisi, Sudarto, tanpa bayaran. Tapi ia juga mendampingi artis Ida Iasha, Lidya Kandou, Onky Alexander, Nike Ardilla, dan Zarima. Selain itu, dia juga pernah membela sejumlah pejabat dan mantan presiden, di antaranya adalah Samadikun Hartono, HM Soeharto dan BJ Habibie.

Dalam kasus pembelaan terhadap 35 orang sopir PPD yang menuntut pembayaran dana pensiun, OC Kaligis mengalami kekalahan di Mahkamah Agung. Sebagai aksi protes terhadap putusan tersebut, dia membayar sendiri ‘uang pensiun’ ke-35 kliennya hingga mereka meninggal dunia. Salah satunya untuk menentang bentuk ketidakadilan adalah dengan cara menulis surat pembaca, baik di surat kabar maupun majalah.

Usai meraih gelar sarjana hukum di Universitas Parahyangan Bandung, Kaligis langsung magang menjadi asisten notaris Tumbunan yang berkantor di Jalan Pegangsaan, dari status magang, dan kemudian menjadi asisten notaris. Ia juga sempat menjadi pengacara dari Farhat Abbas

+++++

KPK: Ada 2 Alat Bukti Jadikan OC Kaligis Tersangka Suap Hakim

By Oscar Ferri on 14 Jul 2015 at 19:24 WIB

Liputan6.com, Jakarta – KPK resmi menetapkan pengacara kondang OC Kaligis sebagai tersangka kasus dugaan penerimaan dan pemberian suap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, Sumatera Utara. Penetapan tersangka itu setelah adanya hasil gelar perkara dilakukan penyidik.

“Disimpulkan dari hasil gelar perkara, ditemukan 2 alat bukti permulaan yang cukup, ada dugaan tipikor yang diduga dilakukan oleh OCK (OC Kaligis),” kata Pelaksana Tugas Pimpinan KPK Johan Budi SP di gedung KPK, Jakarta, Selasa (14/7/2015).

Kata Johan, Kaligis dikenakan Pasal 6 ayat 1 a Pasal 5 a dan b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 64 ayat 1 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

‎Bersama sejumlah penyidik, Kaligis mendatangi Gedung KPK sekitar pukul 15.50 WIB. Dengan menumpang mobil Toyota Kijang Innova hitam, Kaligis hanya melempar senyum tanpa memberi sepatah dua kata terkait kedatangannya. Ia langsung masuk ke dalam gedun KPK.

KPK saat ini tengah mendalami dugaan keterlibatan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan ‎pengacara kondang Otto Cornelius Kaligis ‎dalam kasus dugaan penerimaan dan pemberian suap kepada hakim PTUN Medan. Apalagi, keduanya juga sudah diagendakan diperiksa sebagai saksi oleh penyidik.

Gatot dan Kaligis diperiksa untuk melengkapi berkas pemeriksaan tersangka M Yagari Bhastara alias Gerri, yang merupakan anak buah OC Kalig‎is.

Kasus pemberian dan penerimaan suap hakim PTUN Medan ini terungkap berkat hasil operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK di Sumatera Utara, Kamis 9 Juli 2015 malam.

Dalam OTT itu, KPK menangkap tangan 5 orang. Mereka adalah Ketua PTUN Medan Tripeni Irianto Putro bersama 2 koleganya sesama hakim PTUN, Amir Fauzi dan Dermawan Ginting,‎ panitera pengganti PTUN Syamsir Yusfan, serta seorang pengacara dari kantor OC Kaligis & Associates M Yagari Bhastara alias Gerry.

Kurang dari 24 jam kemudian, usai pemeriksaan secara intensif, KPK akhirnya resmi menetapkan kelimanya sebagai tersangka. Gerry diduga sebagai pemberi suap, sedangkan Tripeni, Amir, Dermawan, dan Syamsir ditengarai selaku penerima suap.

PT National Sago Prima (NSP) yang merupakan anak perusahaan PT Sampoerna Agro, Tbk. telah menyampaikan pledooi.

‎Uang US$ 15 ribu dan SG$ 5 ribu turut diamankan dalam OTT itu dan dijadikan sebagai barang bukti transaksi dugaan suap yang diberikan Gerry kepada keempat aparat penegak hukum tersebut. Dalam perkembangannya, uang itu diduga diberikan untuk memuluskan putusan gugatan Pemprov Sumut yang ditangani PTUN Medan.

‎Gugatan ke PTUN itu dilayangkan Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut, Ahmad Fuad Lubis, yang notabene adalah anak buah Gubernur Gatot Pujo Nugroho, kepada Kejaksaan Agung terkait kasus dana Bansos dan Bantuan Dana Bawahan. Pemprov Sumut menyewa OC Kaligis & Associates untuk menangani gugatan tersebut.

‎Oleh KPK, selaku pihak pemberi, Gerry disangka dengan Pasal 6 ayat 1 huruf a dan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 64 ayat 1 dan Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, Tripeni Irianto Putro yang diduga sebagai pihak penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau huruf c atau Pasal 6 ayat 2 atau Pasal 5 ayat 2 atau Pasal 11 UU Tipikor jo Pasal 64 ayat 1 dan Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Untuk dua orang Hakim lainnya yakni hakim Amir Fauzi dan hakim Dermawan Ginting juga diduga sebagai pihak penerima dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau huruf c atau Pasal 6 ayat 2 atau Pasal 5 ayat 2 atau Pasal 11 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.‎

Sedangkan panitera pengganti PTUN Medan, Syamsir Yusfan yang turut disangka sebagai pihak penerima dikenakan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 UU Tipikor Pasal 64 ayat 1 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. ‎(Ali/Yus)

++++++++++++++++

Ditanya Soal 10 Istri OC Kaligis, Velove Vexia No Comment

Minggu, 19 Juli 2015 06:10 | 

Velove Vexia

Ditanya Soal 10 Istri OC Kaligis, Velove Vexia No Comment

Kapanlagi.com – Pengacara ternama OC Kaligis ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyuapan terhadap hakim di Pengadilan Tata Usaha Negara Medan. Setelah kasus tersebut mencuat banyak fakta tentang OC yang muncul ke permukaan termasuk soal anak dan istri.Dikabarkan OC Kaligis saat ini memiliki 10 orang istri dan 20 orang anak dan semua dari mereka saling mengenal. Sayangnya ketika kerukunan anak istri OC tersebut ditanyakan kepada salah satu putrinya yang cukup terkenal, Velove Vexia enggan memberikan jawaban.

“Aku nggak mau komentar yang lain (soal kerukunan 10 istri). Kita semua merasa sedih, tapi ya aku mohon juga minta doanya biar cepet selesai,” ujar Velove Vexia ditemui di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (18/07).

Velove sendiri sempat dua kali gagal menjenguk sang ayah yang ditahan di gedung KPK. Hal ini tentu membuatnya cukup sedih, apalagi karena hari raya Idul Fitri telah tiba.

“Kecewa, kemarin sempat dengar hari ini bisa ketemu karena momen Lebaran, sekarang kan‎ tapi ya belum dapat hasil. Kita lihat saja besok lah. Kita belum dapat kepastian apakah itu dari pihak pengacara atau keluarga,” tuturnya.

Padahal di tahun-tahun sebelumnya, setiap momen Idul Fitri selalu menjadi waktu yang membahagiakan bersama keluarga. OC Kaligis sendiri digelandang KPK pada hari Selasa, 14 Juli 2015 lalu.

“Kita sih biasanya kumpul, di kantor juga kumpul, kerabat Papa juga biasanya datang. Kita sekeluarga kehilangan Papa,” tandasnya.

++++++++++++++++

OC Kaligis, dulu getol serang KPK kini jadi tersangka kasus suap

Reporter : Eko Prasetya | Rabu, 15 Juli 2015 08:02
OC Kaligis, dulu getol serang KPK kini jadi tersangka kasus suap

OC Kaligis diperiksa KPK. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan pengacara senior Otto Cornelis Kaligis ditetapkan menjadi tersangka dugaan kasus suap hakim PTUN di Medan, Sumatera Utara. OC Kaligis pun langsung ditahan setelah menjalani pemeriksaan selama lima jam usai dipangil paksa oleh KPK.

OC Kaligis selama ini dikenal sering mengkritik KPK. Ucapan-ucapan pedas kerap dia lontarkan untuk lembaga antirasuah itu.

Sebagai contoh, OC Kaligis menilai selama ini KPK seolah tidak ingin menerima kritik terhadap sejumlah kesalahan prosedur yang dilakukan dalam penegakan hukum. “Kenapa KPK tidak boleh diawasi. Malaikat aja diawasi sama Tuhan. Apalagi KPK. Jadi kalau ada oknum KPK yang buat salah tidak boleh dikritik. Bagaimana bisa begitu,” kata OC Kaligis. 

OC Kaligis juga mengkritik KPK saat menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka. Menurut OC Kaligis, Menurutnya, penetapan tersangka itu dilakukan secara mendadak tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sejak kurun tahun 2004-2014. 

Budi, kata dia, tidak pernah diperiksa dalam tahap penyelidikan dan penyidikan sebelumnya. Ini kata dia, melanggar pasal 1 ayat 2 KUHAP, di mana sebuah perkara harusnya mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu dan pemeriksaan, kemudian menetapkan tersangka.

Selain itu, kata kata dia, penetapan Budi sebagai tersangka cacat secara yuridis. Ini ia sampaikan berdasarkan UU KPK, pasal 21 junto pasal 39 ayat 2 bahwa pimpinan KPK terdiri dari lima komisioner yang bekerja secara kolektif.

Pada kesempatan lain, OC juga menilai kalau KPK selalu menggunakan sentimen publik untuk mencari perhatian. Menurut dia, seolah-olah KPK itu selalu benar dan suci hinga tidak mau ada yang mengkritik dan mengawasi.

“Malaikat saja diawasi Tuhan, kenapa KPK tidak mau diawasi?” kata OC Kaligis.

OC Kaligis pun sangat menyayangkan adanya anggapan di publik bahwa seolah-olah KPK itu tanpa cacat. Menurutnya, lembaga antirasuah itu juga selalu menggunakan parlemen jalanan untuk menutupi kekurangannya.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: