Peter Sondakh

Pengusaha Pemilik group Rajawali

diambil dari

http://m.ceritamu.com/info/pengusaha/peter-sondakh/biografi

Peter Sondakh

Hari itu tentu menjadi momen menyedihkan bagi Peter Sondakh, ayahnya B.J Sondakh wafat secara mendadak pada tahun 1975. Sang ayah meninggalkan keluarga dan bisnis yang telah dirintisnya sejak awal di tahun 1954 berupa produksi minyak kelapa dan ekspor kayu. Setelah ayahnya wafat, Peter Sondakh yang baru berumur dua puluh dua, mengganti posisi ayahnya menjadi tulang punggung untuk menafkahi keluarganya dari seorang ibu dan empat saudara perempuan. Dia juga mengambil alih bisnis ayahnya, padahal kala itu sebagian besar karyawan telah seusia ayahnya.

Naluri bisnis ayahnya mengalir deras dalam tubuh Peter, namanya tercatat sebagai pemegang saham PT Bumi Modern sejak 1976. Saat itu, Peter baru berusia 24 tahun. Lalu pada tahun 1984 dia kemudian sukses membesarkan perusahaannya di bawah bendera PT Rajawali Wira Bhakti Utama. Perusahaan inilah cikal bakal dari Grup Rajawali, perusahaan holding yang kemudian di kenal dengan nama PT Rajawali Corporation (RC).  Kabarnya, salah satu proyek yang berkontribusi pada awal kemajuan bisnisnya saat Peter mendapat kesempatan menjual lahan kedutaan Indonesia di Singapura pada tahun 80an.

Satu hal yang selalu diingat oleh Peter Sondakh adalah keinginan ayahnya untuk membuka sebuah hotel. Seiring waktu berjalan, peluang untuk mewujudkan impian ayahnya itu terbuka lebar ketika melalui PT Bumi Modern Peter berhasil menggandeng Asuransi Bumi Putera untuk membangun Hotel Hyatt di Surabaya. Setelah itu, bersama Bambang Trihatmodjo, putra presiden Indonesia, Soeharto, mereka kemudian membangun Grand Hyatt di Jakarta. Bambang adalah mitra bisnis pertamanya.

Kerjasama Peter Sondakh dengan keluarga Cendana terus berlanjut. Setelah sukses membangun Grand Hyatt, mereka kemudian memperluas jangkauan bisnis dengan mendirikan jaringan televisi swasta pertama di Indonesia Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Hebatnya, mulai periode 1976-1996 Grup Rajawali telah memiliki lima sektor usaha, yaitu: pariwisata, transportasi, keuangan, perdagangan, dan jasa telekomunikasi.

Pada saat Peter Sondakh menjalankan bisnis hotel dan televisinya, tahun 1991 pemerintah Indonesia menawarinya bisnis baru, yaitu menangani perusahaan yang hampir bangkrut, PT Bentoel Group. Peter Sondakh pun menerima tawaran tersebut dan perlahan namun pasti mampu menaikkan citra PT Bentoel kembali. Akhirnya Pada tahun 1999, PT Bentoel Group sudah mulai menunjukkan adanya keuntungan.

Peter Sondakh dikenal sebagai pebisnis ulung dan piawai dalam menggunakan koneksi tingkat tinggi. Bersama Bambang Trihatmodjo, Grup Rajawali ikut membangun Plaza Indonesia bersama PT Bimantara. Rajawali juga merambah sektor telekomunikasi dengan mendirikan Excelcomindo Pratama, yang dioperasikan sejak 1996 dan kemudian dijual ke Telekom Malaysia.

Toh, perjalanan bisnis Peter tak selalu berjalan mulus. Krisis moneter 1997-1998 sempat menenggelamkan nama Peter Sondakh dalam kancah bisnis di Indonesia. Seperti beberapa konglomerat yang lain, ia juga menanggung utang yang luar biasa besar kepada BPPN sebesar Rp 2,1 triliun yang berasal dari 17 anak perusahaannya. Tetapi, tak jelas dari mana Peter kemudian bisa membayar utangnya. Ramai diberitakan media, pada 2000 semua utang tersebut dinyatakan lunas.

Peter terpaksa melepaskan kepemilikan sahamnya di Apotek Guardian, RCTI, dan Lombok Tourism. Bahkan bank miliknya, Bank Pos, ikut dibekukan karena kesulitan likuiditas akibat krisis. Namun, seperti burung Rajawali, Peter Sondakh kelihatan pantang menyerah mengepakkan sayap usahanya. Mata dan nalurinya setajam Rajawali, mampu mengendus peluang bisnis yang layak ditubruk. Tak heran, gebrakannya lewat perusahaan holding yang didirikannya, PT Rajawali Corporation, belakangan kerap mengejutkan publik.

Sekali lagi Peter membuktikan ketangguhannya dengan mampu melewati krismon di kala beberapa konglomerat lainnya ada yang gulung tikar. Setelah restrukturisasi grup usahanya, aksi menonjol yang pertama kali dilakukan adalah mendirikan NetToCyber Indonesia bergerak di bidang jasa Broadband Internet, Virtual Private Network, Internet Data Centre, dan Network Integration pada 2001. Sayangnya, kiprah perusahaan ini tak begitu terdengar. Setelah itu, kabar mengenai kiprah bisnis Peter mendadak sepi.

Apakah Peter meninggalkan arena bisnis tanah air? Ternyata tidak. Selama menyepi, rupanya Sang Rajawali tengah mempersiapkan langkah kebangkitannya. Memasuki tahun 2005, Peter membuat kejutan. Aksi korporat yang atraktif adalah ketika ia menjual 27,3% sahamnya di Excelcomindo yang sebenarnya termasuk salah satu bintang industri telekomunikasi nasional kepada Telekom Malaysia Group pada 2005. Nilai saham tadi setara dengan US$ 314 juta.

Langkah divestasi ini berlanjut pada 2007 ketika Rajawali melepaskan 15,97% sahamnya di Excelcomindo senilai US$ 438 juta kepada Etisalat (perusahaan telekomunikasi Uni Emirat Arab). Dana dari penjualan saham ini kemudian digunakan untuk membeli 24,9% saham PT Semen Gresik senilai US$ 337 juta dari Cemex (Cementos Mexicanos) pada 2006.

Kepakan sayap Rajawali terus berlanjut, dengan mengangkasa menembus industri perkebunan dan pertambangan. Pada 2006, Rajawali terjun ke bisnis perkebunan sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Sumatera yang dalam sub-holding PT Jaya Mandiri Sukses Group. Sementara itu, industri pertambangan di Kalimantan dirambah grup usaha ini tahun 2007 melalui PT International Prima Coal.

Aksi korporatnya yang lebih menghebohkan lagi ketika pada pertengahan 2009, Peter telah melepaskan 56,96% sahamnya di PT Bentoel senilai Rp 3,35 triliun kepada British American Tobacco (BAT). Alasannya, Rajawali sebagai investment company ingin memfokuskan perhatian pada bidang properti, pertambangan, dan perkebunan. Dengan ketiga pilar bisnis inilah tampaknya Rajawali ingin menjadi global player yang disegani.

Ambisi ini memang dibuktikan dengan agresifnya Grup Rajawali memperluas jaringan hotelnya di kawasan Indonesia seperti jaringan hotel bintang lima Sheraton di Bali, Lampung, Bandung dan Lombok, serta di Kuala Lumpur dan Langkawi. Masih ditambah dengan pengembangan Hotel Saint Regis (Bali) dan Novotel (Lombok). Bisnis pertambangan pun makin diseriusi Rajawali. Pada 2009, Rajawali mengakuisisi 37% saham Archipelago Resources (yang mengelola tambang emas) seharga US$ 60 juta. Kemudian, Rajawali membentuk perusahaan patungan dengan PT Bukit Asam di Kal-Tim.

Walaupun mengaku ingin fokus pada tiga sektor, Grup Rajawali ini sempat diberitakan mengincar saham PT Garuda Indonesia. Entah kenapa rencana itu batal dan Rajawali memilih join dengan pemerintah Kamboja mendirikan National Airlines sebagai flag carrier di negara itu. Ya, dengan segudang dana tunai hasil penjualan sahamnya di perusahaan-perusahaan bonafide yang dimilikinya, Peter akhirnya bisa lebih leluasa kembali mengepakkan sayap bisnisnya. Terutama dalam memantapkan ambisinya menguasai tiga bidang andalan baru itu.

Saat ini, Rajawali menjelma sebagai organisasi bisnis yang terus belajar dan beradaptasi dengan situasi dan kondisi bisnis terkini. Memang pada awalnya, Rajawali merupakan sebuah konglomerasi, semakin bertambahnya usia, khususnya pada 3 – 5 tahun terakhir ini berubah menjadi investment company. Sebagai perusahaan investasi, Rajawali hanya akan fokus pada 3 jenis bidang usaha, yaitu: properti-hotel, coal-mining, dan agrikultur. Sebagai perusahaan investasi tentu budaya usahanya adalah dinamis dan kreatif.

Begitulah cerita sepak terjang pengusaha sukses asal Manado yang lahir di Malang ini. Berangkat dari bawah hingga sampai pada jejeran pebisnis yang disegani di tanah air. Tak heran, tahun 2006, menurut Forbes, Peter Sondakh merupakan orang terkaya nomor 12 di Indonesia. Lalu di tahun 2007 peringkatnya naik menjadi nomor 9 terkaya, dan tahun 2008 sebagai orang terkaya nomor 6 di tanah air dengan nilai kekayaan mencapai US$ 1,45 miliar.

(inspired by: eciputra.com & berbagai sumber)

+++++

http://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2015/06/14/1mdb-all-eyes-on-najib-buddy-peter-sondakh/

 125 3 0 241

1MDB: All eyes on Najib’s buddy Peter Sondakh

| June 14, 2015

Kadir Jasin says Sondakh may be another ‘white knight’ hoping to cash in on Sg Besi land

kadir-jasin_Peter-Sondakh_najib_600

KUALA LUMPUR: Indonesian businessman Peter Sondakh, a buddy and adviser of Najib Razak, has been highlighted as yet another “white knight” among many with eyes on grabbing slices of prize land owned by scandal-ridden 1Malaysia Development Bhd.

Several other private companies and government-linked organisations are believed to be trying to get in on 1MDB’s Sungai Besi land holdings, cheaply bought from the federal government.

The former chief editor of the New Straits Times group, A Kadir Jasin, named Sondakh, the armed forces pension fund Lembaga Tabung Angkatan Tentera and property company Malton Bhd owned by billionaire Desmond Lim Siew Choon as those on the list.

Kadir recalled that LTAT and Maltan had issued a media statement in 2010 that the two outfits would set up a consortium with 1MDB.

Sondakh’s possible involvement comes in the wake of purchases by Mulia Group of Indonesia and Lend Lease of Australia in the proposed Tun Razak Exchange financial district to be built on the Sg Besi land, formerly an air force base.

The anticipated involvement by Sondakh in 1MDB follows a foray by Felda Global Ventures Bhd in taking a 37% stake in Sondakh’s plantation giant PT Eagle High Plantation.

Kadir said the Sondakh factor ties in with 1MDB’s current pre-occupation with shifting assets, loans and responsibilities and justifying revaluations to meet accounting standards and to show the Companies Commission that no wrong-doing has taken place in the company.

“The public perception is that 1MDB was a “skim cepat kaya” (get-rich-quick scheme) based on getting cheap government assets and loading them on local and foreign buyers, at exorbitant prices.”

“Why do we need such government companies? A Malay developer who has done the same thing complained that a government company – 1MDB – was getting cheap land, breaking them up, revaluing them, and selling them off for quick and high gains.”

Kadir said: “1MDB was nothing more than an Ali Baba at work. Who can’t do such business? Anyone can do it without any capital and experts. This is like the kampung people breaking up their land into plots and selling them.”

He said Sondakh was no stranger to Malaysia, having previously obtained easy financing from Malaysian banks for the St. Regis hotel and convention centre in Langkawi.

“He sold a substantial stake in Excelcomindo Pratama to Telecoms Malaysia, and with the proceeds went on to buy Khazanah Nasional’s hotel properties in Kuala Lumpur and Langkawi.” These are the kinds of deals that Sondakh likes to make, said Kadir.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: