Felix Siauw

Ustadz anti  demokrasi
Anggota Hizbut Tahrir Indonesia

++++

sumber :  https://muslimedianews.wordpress.com/2014/05/01/7-ribu-orang-lebih-ditipu-muallaf-felix-y-siauw/

7 Ribu Orang Lebih Ditipu Muallaf Felix Y Siauw

Felix Y. Siauw, muallaf yang masuk Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memiliki fanpage yang beralamat di https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw dengan liker sekitar 963 ribu. Saat tersebarnya “fatwa nyleneh” DPP Hizbut Tahrir Indonesia Syamsuddin Ramadhan, ikutan membela meskipun dengan pembelaan yang justru menebarkan fitnah.

Felix dalam fanpagenya mengatakan bahwa kabar adanya DPP Hizbut Tahrir Indonesia yang membolehkan melihat gambar porno adalah fitnah. Ia menuduh pihak lain melakukan fitnah. Dalam pembelaannya justru ia sendiri yang menebarkan fitnah dan berhasil menipu pengguna facebook sekitar 7624 orang lebih. Prestasi yang luar biasa seorang muallaf menipu kaum muslimin.

Faktanya DPP HTI justru mengakui sendiri bahwa itu tulisannya.  BACA BERIKUT INI :

1. DPP HTI Syamsuddin Ramadhan Nyatakan Kebolehan Melihat Gambar Porno | http://www.muslimedianews.com/2014/04/astaghfirullah-dpp-hti-nyatakan.html

2. Sempat berusaha lempar tangan, akhirnya mengakui tulisan “Fatwa Pornonya” | http://www.muslimedianews.com/2014/04/dpp-hti-akui-berfatwa-kebolehan-melihat.html

3. Felix Y. Siauw, muallaf yg ikut HTI sjk 2002 ini ikutan bela “Mufti Porno” | Dan menyebarkan fitnah http://www.muslimedianews.com/2014/04/felix-siauw-felix-yanwar-hti-berdusta.html

SCREENSHOT FITNAH FELIX Y. SIAUW
YANG BERHASIL MENIPU 7 RIBU LEBIH PENGGUNA FACEBOOK

https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw/posts/10152362659786351

Felix Siauw Fanpage part 1 Felix Siauw Fanpage part 2

Yang melakukan like 764 lebih dan yang membagikan 1.458 . Semua berhasil di tipu Muallaf Felix. Y. Siauw

KALAU ANDA MASIH MENGATAKAN INI FITNAH, ANDA BUKAN DARI PIHAK YANG HAQ.

“Kebenaran harus disampaikan meskipun pahit”

 

Dari Wikipedia

Felix Siauw adalah seorang ustadz etnis Tionghoa kelahiran Palembang, Sumatera Selatan. Ia menjadi seorang mualaf semenjak masa kuliah dan bertemu seorang ustadz muda aktivis gerakan da’wah Islam internasional.[1]

Biografi[sunting | sunting sumber]

Felix Siauw lahir dan tumbuh di lingkungan non-muslim. Ia mulai mengenal Islam pada tahun 2002, saat masih berkuliah di Institut Pertanian Bogor semester 3. Felix Siauw menikah pada tahun 2006 dan saat ini telah memiliki empat orang anak, yaitu Alila Shaffiya Asy-Syarifah (2008), Shifr Muhammad Al-Fatih 1453 (2010), Ghazi Muhammad Al-Fatih 1453 (2011), dan Aia Shaffiya Asy-Syarifah (2013).

Karya[sunting | sunting sumber]

Buku-buku karya Ustadz Felix kental dengan nilai-nilai Islam dan banyak mengambil intisari dari banyak sumber di Islam seperti Al-Quran dan Hadist.[2]

  1. “Beyond The Inspiration”
  2. “Muhammad Al-Fatih 1453”[3]
  3. “How Master To Habits”
  4. “Udah Putusin Aja” [4]
  5. “Yuk Berhijab”
  6. “The Chronicles of Ghazi: Rise Of The Ottomans”
  7. Khilafah* *In Progress”
  8. “Khilafah* *Remake”

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Masuk-Islam. 28 Maret 2013. Kisah Felix Siauw Masuk Islam.
  2. ^ Daftar Buku. 27 November 2013. Daftar Buku Felix Siauw.
  3. ^ Monilando. Peta Pemikiran, Review Buku : Muhammad Al Fatih 1453.
  4. ^ Bilal. 11 Maret 2013. Arrahmah, Ustadz Felix Siauw : Orang Pacaran adalah Orang “Buangan”.

++++++

Ustd. Felix Siauw: Hindarilah Selfie Demi Menjaga Kemuliaanmu Wahai Muslimah

Redaksi – Selasa, 30 Rabiul Awwal 1436 H / 20 Januari 2015 16:30 WIB

Eq8gOJvi_400x400Eramuslim.com – Dalam kicauannya kemarin (19/1), Ustaz Felix Siauw mengatakan selfie lebih baik dihindari. Sebab, selfie tidak ada manfaatnya dan bahkan cenderung banyak mudharatatau kerugiannya.

Selfie itu kebanyakan berujung pada | sifat TAKABBUR, atau RIYA, sedikitnya UJUB,” demikian tulis Ustaz Felix dalam akun Twitter-nya, @Felixsiauw.

Dalam postingan itu, Ustaz Felix menguraikan sejumlah alasan mengapa selfie harus dihindari.

Pertama, setelah ber-selfie, lalu kagum dengan diri sendiri, maka itu termasuk ujub atau membanggakan diri.

Jika setelah selfie dan mengunggah hasilnya ke media sosial dengan harapan di-share, dikomentari, dan dilihat, maka, menurut Ustaz Felix, itu merupakan sikap riya atau pamer.

Selfie juga bisa membuat seseorang mejadi takabur, apabila setelah berfoto terus merasa lebih baik atau lebih keren dari orang lain. “Ketiganya, UJUB, RIYA, TAKABBUR | mematikan hati, membakar habis amal, dan membuatnya layu bahkan sebelum ia mekar,” tulisnya.

Memang ini semua bahasan niat, dan tiada ingin kami menelisik niat | hanya bernasihat dan tunaikan kewajiban berdakwah,” tambah Ustaz Felix.

Dia juga mengkritisi banyaknya Muslimah yang gemar selfie. “Di mana kemuliaan wanita.”

Alhamdulillah, kami tak pernah berselfie kecuali saat membuat video di Vatikan | saat tak ada yang bisa memegang kamera kecuali batu🙂.” (rz)

diunduh dari  http://boomee.co/2015/01/selfie4siauw-protes-jenaka-atas-larangan-selfie-ustaz-felix-siauw

++++++++++++++++

Selfie4Siauw: Protes Jenaka Atas Larangan Selfie Ustaz Felix Siauw

#Selfie4Siauw, Bentuk Protes untuk Hukum Selfie Ala Ustaz Felix Siauw

Gaya foto selfie sudah menjadi tren dunia, apalagi di Indonesia. Mulai dari muda-mudi hingga tokoh penting (seperti Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla) melakukannya. Akan tetapi, ada pandangan baru yang muncul terkait foto selfie dari tokoh rohani Ustaz Felix Siauw. Ia menganggap selfie dapat menimbulkan sifat sombong dan pamer, dan itu dilarang agama Islam.

Ustaz Felix merasa tak ada manfaat dari gaya foto selfie. Menurutnya, selfie merupakan salah satu bentuk tindakan narsis yang dianggapnya sebagai aib. Maka, ia mengajak muda-mudi untuk berhenti melakukannya. Pandangan-pandangan tersebut dikemukakan oleh Felix lewat rangkaian kicauan berseri di akun Twitter @felixsiauw pada Senin (19/1) pagi.

Felix Siauw adalah seorang ustaz kelahiran Palembang. Ia menjadi mualaf ketika kuliah di Institut Pertanian Bogor pada awal 1990-an. Ia telah menulis beberapa buku, di antaranya: “How Master To Habits”, “Udah Putusin Aja”, dan “Yuk Berhijab”. Felix Siauw juga dikenal sebagai ustaz yang melarang anak-anak muda untuk pacaran. Ia diketahui menolak demokrasi pula.

Menyangkut larangan selfie, tentunya pandangan Ustaz Felix Siauw ini mendapat tanggapan positif dari sejumlah pengikutnya.

Akan tetapi, pandangan Ustaz Felix Siauw dianggap berlebihan dan ditolak secara luas. Selfie dianggap penting untuk mengabadikan momen, bukan sekadar aksi narsis yang tak bermanfaat. Bahkan, kemudian muncul gerakan mengirim foto selfie dari para pengguna Twitter kepada sang ustad dengan tagar #Selfie4Siauw. Banyak di antara selfie itu yang sangat kreatif dan lucu.

Dalam sekejap, #Selfie4Siauw pun masuk trending topics Indonesia.

#Selfie4Siauw, Bentuk Protes untuk Hukum Selfie Ala Ustaz Felix Siauw

Begitulah dunia social media. Bisa beda pendapat, tetap dengan jenaka!

+++++++++++++++++++

 

Tanggapan untuk ‘Fatwa’ Konyol Ustadz HTI Felix Y. Siauw soal Copyright

Posted on Sunday, 17 August 2014 | garis 23:59

Muslimedianews.com ~ Felix Yanwar Siauw atau Felix Siauw, seorang muallaf yang masuk dalam kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) cukup dikenal bagi sebagai motivator remaja, penulis buku, maupun tukang “fatwa” konyol. Pada 2012 lalu, melalui situs pribadinya (felixsiauw.com), muallaf ini mengulas mengenai hak cipta yang diberinya judul “Felix Siauw on Copyrights (Hak Cipta) Dalam Islam”.

Dalam ulasannya, dengan menyitir beberapa ayat dan hadits, ia menyimpulkan bahwa memanfaatkan barang bajakan halal hukumnya. Alasannya, karena hak cipta hanya milik Allah.

Halal hukumnya memanfaatkan barang-barang bajakan seperti CD, DVD, buku ataupun media lainnya, karena hak cipta hanyalah milik Allah (All rights reserved only by Allah), dan semua ilmu berasal dari-Nya dan Allah telah mewajibkan kita mencari dan menuntut ilmu.”, salah satu kesimpulan Felix S. Siauw.

Tetapi diakhir bahasannya, ia mengecualikan terhadap karya seorang muslim.

“Sebagai pertimbangan terakhir, bila karya itu adalah karya seorang Muslim yang telah mencurahkan usaha yang tidak sedikit, tentu secara etika tidak pantas kita membajaknya. Dan selagi kita masih memiliki kemampuan, maka belilah produk-produk asli, bukan yang bajakan. Karena tentunya ia akan membantu orang yang berkarya. Juga membantu agar dia bisa terus berkarya untuk ummat”., pungkasnya.

Ulasan Felix Y. Siuaw itu mendapat beberapa tanggapan, salah satunya dari Ust. A. Syukron Amin @syukronamin pada 2 Oktober 2013 lalu. Berikut twit lengkapnya chirpstory[dot]com/li/160871 :

Met malam, teman2.. Sy akan kultwit singkat (tanggapan sy) atas ‘fatwa aneh’ Ust. Felix Siauw di twit sblm ini.

1) Pada dasarnya, di antara tujuan dari pelaksanaan syariat Islam ialah memberikan hak kpd yg berhak.

2) Islam melindungi setiap yg berhak (mustahiq) dari segala bentuk kezaliman, seperti pembajakan hak cipta (copyright).

3) Penentuan hukum dlm Islam itu tak mudah. Krn sumber hukum Islam bukan hanya Kitab & Sunnah. Penetapan halal-haram hrs hati2.

4) Utk memahami syariat Islam diperlukan Fiqih. Nah, Fiqih ini harus dilengkapi dg Ushul (Kaidah/Teori). Jadi sistematis.

5) Dlm Ushul Fiqh dijelaskan bhw adat (‘urf) & opini publik diakui sbg salah satu sumber hukum Islam. Ini konsesus Ulama.

6) Kita semua tahu, bhw mnrt adat –yg berkembang menjadi UU– telah menuntut hak intelektual wajib dilindungi.

7) Hasil karya mrpkn kekayaan yg mempunyai nilai harga. That’s why, temuan yg bermanfaat tsb dilindungi dg hak cipta.

8) Istilah ‘hak cipta’ itu bukan berarti manusia sbg makhluk (yg diciptakan) tak berhak menciptakan sesuatu.

9) Pencurian/pembajakan hak cipta jelas melanggar hukum Islam. Krn merugikan yg berhak (penemu) jelas dilarang agama.

10) Kaitannya dg opini Felix Siauw yg menghalalkan pembajakan itu, sy kira mengekor fatwa Hizbuttahrir ttg kapitalisme.

11) Mnrt Hizbuttahrir, hukum copyright adalah sesat, krn bukan temuan Islam. Beginilah bahayanya paranoid, shg zalim.

12) Pendapat yg menghalalkan pembajakan jelaslah bertentangan dg konsep syariat yg terderivasi dlm ushul fiqih pada ‘urf.

13) Pembajakan dg dalih pemanfaatan hak intelektual yg dilindungi dlm copyright jelaslah = mencuri hak org lain.

14) Knp Hizbuttahrir & Ust. Felix Siauw berkeyakinan bhw hak cipta hanya milik Allah? Krn mrk blm memahami kaidah Fiqih.

15) Dlm HR Ahmad ditegaskan, “Tak boleh membahayakan diri sendiri dan tak boleh pula merugikan (membajak karya) orang lain”.

16) Ada kaidah “la dlarar wala dlirar” (jgn bahayakan; diri sendiri & org lain). Nah, pembajakan copyright itu melanggar keduanya.

17) Kalau tujuan pembajakan utk kebaikan gmn? | Kaidahnya: Menghindari bahaya hrs diprioritaskan dari meraih kemaslahatan.

18) Om Felix bilang, “menggunakan barang bajakan utk menuntut ilmu”. Statemen itu kyk membolehkan wudhu dg air kencing.

19) Meski dg dalih ‘pemanfaatan’, pembajakan tetaplah = pencurian. Mencari ilmu mmg wajib, tp tentu dg cara yg baik.

20) Opini Felix “halal membajak utk belajar” itu, jika dikembangkan menjadi “halal korupsi utk membangun masjid”. Bahaya!

21) Saranku kpd Ust. Felix: statemen ttg Hak atas Kekayaan Intelektual itu tolong ditinjau ulang dg merujuk kitab2 fiqih.

22) Mnrt 3 mazhab fiqh (kecuali Hanafi), hukum hak cipta/karya dilindungi secara syar’i. Maka melanggarnya = melawan syariat.

23) Sebenarnya, Islam itu tak hanya bicara halal-haram saja. Namun, penghalalan pembajakan HKI adalah opini/fatwa yg bathil.

24) Dari Felix yg halalkan pembajakan HKI, so far kita jd hati2, bhw menghukumi sesuatu itu hrs dilengkapi dg kaidah/konsep.

25) Walhasil, perbedaan pendapatku ttg hukum copyright dg Ust. Felix bukanlah soal pertentangan. Melainkan sbg tradisi ilmiah. Sekian.

red. Ibnu L’ Rabassa
++++++++++++++++++
Diunduh dari blog  Edi AH Iyabenu

SEBUAH “RAPOR” UNTUK FELIX SIAUW Oleh Edi AH Iyubenu

Rapor ini saya tulis dalam keadaan sadar; sadar bakal banyak jamaah Felix yang gedek, lalu (seperti biasanya) ngejudge saya liberalis, JIL, atau Syi’ah, dan ujungnya dikafirin. Tetapi, tulisan ini tetap harus saya tuliskan dengan utuh, dalam rangka bersikap kritis atas rasa nyeseksaya melihat tampang Islam ala sosmed yang kian “dangkal, gampangan, galak”, di kalangan anak-anak muda yang tak berkesempatan nyantri dan sekolah Islamic Studies yang intensif.

Saya saranin panjenengan baca tuntas tulisan ini, lalu monggo direnungkan. Tulisan ini panjang, jadi sediakan waktu luang, jangan menyimpulkan sepenggal-sepenggal.

Pertamakhilafah. Kita tahu Felix adalah pejuang khilafah (pemerintahan Islam) di Indonesia. Di bio Fans Page-nya, dengan terbuka ia menuliskan hal itu. Ia berdiri sejajar bersama kelompok HTI di sini. Setidaknya, secara ideologis. Gerakan ini bisa diurai dari Ikhwanul Muslimin, Mesir.

Ia pernah menulis begini: “Nasionalisme itu tak ada dalilnya, lebih jelas membela Islam, jelas dalil dan pahalanya.

Ia pun pernah mengaplod sebuah video di Youtube yang menyajikan forumnya tentangkhilafah. Dengan bersemangat, ia menyimpulkan bahwa menegakkan khilafah itu kewajiban bagi umat Islam. Ia mengutip beberapa ayat tentang politik Islam, juga sejarah Ottoman. Meski ia tampak tidak menguasai Ilmu Nahwu lantaran salah baca harakat slide Arab gundul yang ditayangkannya, juga “salah ingat” ketika mengatakan bahwa pengarang kitab Al-Muwattha’ yang merupakan salah satu dari Kutub al-Tis’ah adalah Imam Syafi’ie, padahal aslinya adalah Imam Malik bin Anas, kepiawaiannya berolah kata sebagai public speaker berhasil membius ratusan orang di forum itu. Ya, orang-orang yang pasti tak bisa baca kitab gundul juga.

Felix saya yakin belum melakukan studi komprehensif tentang ayat-ayat politik itu. PerluPanjenengan sekalian ketahui bahwa tak ada sepotong ayat pun dalam al-Qur’an, juga hadist Rasul, yang memberikan panduan legal-formal sistem pemerintahan Islam. Yang ada adalah ayat-ayat “prinsip etik” bagaimana sebuah sistem pemerintahan itu dijalankan. Musawah (persamaan), syura (musyawarah), ta’awun (tolong-menolong), dan ‘adalah (keadilan), hanya itu prinsip-prinsip etiknya. Selebihnya, mekanisme teknis diserahkan kepada setiap umat, tentu berdasar zaman dan tempat hidupnya. Mau pakai monarki ala Ottoman atau demokrasi ala Indonesia, tidak ada petunjuk legal-formalnya sama sekali.

Felix juga kudu mencermati sejarah Rasulullah dalam memimpin Madinah. Tidak ada satu pun hadits yang mengatakan bahwa kepemimpinan Rasulullah di Madinah itu adalah praktikkekhalifahan (kenegaraan). Istilah khalifah sebagai fa’il dari khilafah yang berupa masdar, baru muncul sepeninggal Rasulullah. Khulafaur Rasyidin disebut khalifah oleh masyarakat setempat BUKAN karena menjalankan sebuah sistem Negara Islam, tetapi semata sebutan fungsional dalam bahasa Arab yang menunjuk pada pemimpin itu.

Tentu, kewajaran belaka dalam sebuah komunitas harus ada pemimpinnya. Demikian pula yang terjadi di tanah Madinah kala itu. Sebab kondisi sosial-kultural masa itu adalah Islam, maka wajar saja bila aturan-aturan sosial-kemasyarakatan yang dijalankan saat itu adalah Islam. Tetapi, tetap saja harus ditegaskan bahwa hal itu bukanlah representasi legal-formal pemerintahan Islam yang harus dijalankan sepanjang zaman dan tempat.

Antum a’lamu biumuri dunyakum,” sabda Rasul. “Engkau lebih tahu tentang urusan duniawimu.”

Dalam literatur keislaman salaf maupun kontemporer, isu tentang khilafah ini juga berada dalam posisi minor. Hanya ada sosok Abul A’la al-Maududi sebagai top leader-nya yang pernah menuliskan garis-garis besar haluan (GBHN) Negara Islam. Sistem khilafah yang benar-benar legal-formal baru muncul di era Umayyah. Aslinya, sistem khilafah masa itu lebih tepat disebut monarki. Monarki yang dijalankan berdasar asas syariat Islam. Kondisi ini terus berlanjut hingga era Abbasiyah dan Ottoman (Utsmaniyah).

Catat di sini bahwa sepeninggal Rasulullah pun, para khalifah penggantinya (4 sahabat) tidak menjalankan kepemimpinan Islam dengan sistem monarki. Bila panjenengan membaca sejarah bagaimana transfer kekuasan terjadi sepeninggal Ali bin Abi Thalib, yang sempat digantikan oleh Hasan bin Ali, serta kemudian memantik peristiwa Karballa yang merenggut nyawa Husein bin Ali, ke tangan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, semua itu berjalan dalam “ranah politik” murni, bukan agama.

Sampai di sini, perintah menegakkan khilafah sama sekali tidak memiliki landasan normatif (ayat dan hadits) dan historisnya.

Inilah yang melandasi sikap kooperatif kubu Islam di hadapan kubu Nasionalis darifounding fathers kita dulu, yang dimotori M. Natsir, Agus Salim, Mohamad Roem, hingga Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan (orang-orang yang pastinya ahli ilmu agama dan umum dong), untuk menerima Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, bukan Syariah Islam. Bagi mereka, Pancasila sudah sangat Islami karena sudah berlandas pada “prinsip etik” ajaran politik Islam, sehingga harus diterima oleh umat Islam Indonesia

Kedua, tentang Syi’ah. Anak-anak muda muslim dan muslimah kini begitu doyan menjadikan sebutan Syi’ah sebagai sebuah keburukan dan kesesatan.

Mari teliti sejarah lahirnya Syi’ah. Syi’ah lahir sebagai protes sebagian sahabat di Madinah atas sikap politik kompromistis Ali bin Abi Thalib pada Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Saat Ustman bin Affan terbunuh, sepupunya di Suriah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang memiliki massa politik cukup besar, menuntut Ali untuk menyerahkan pembunuhnya. Bila tidak, maka Mu’awiyah akan memasuki Madinah. Para sahabat Madinah berang dengan ultimatum itu. Mereka bersiap “menyambut” pasukan Mu’awiyah (belum Umayah).

Di tengah situasi genting inilah, Ali membuat deal dengan Mu’awiyah, yang di antara isinya ialah menyerahkan tongkat kepemimpinan umat Islam ke tangan Mu’awiyah sepeninggalnya kelak. Para sahabat yang meyakini bahwa tongkat kepemimpinan setelah Khulafaur Rasyidin harus dilanjutkan oleh Ahlul Bait (keluarga Rasul) kecewa atas sikap politik ini. Mereka keluar dari kubu Ali, dan lahirlah apa yang disebut Syi’ah. Salah satu ciri Syi’ah secara teologis ialah menolak semua hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait. Abu Hurairah, misal, yang riwayat-riwayat haditsnya banyak diambil sebagai hadist shahih oleh kaum Sunni, ditolak oleh kubu Syi’ah. Di luar itu, secara akidah, mereka sama dengan kita.

Penting pula dimengerti di sini bahwa di dalam tubuh Syi’ah itu sendiri terdapat begitu banyak faksi. Ada faksi yang sangat besar dan terkenal, yang melahirkan mazhab fiqh sendiri, yakni Syi’ah Zaidiyah. Mazhab ini tidaklah seekstrem faksi-faksi lain yang sampai pada level mengkafirkan Ali bin Abi Thalib.

Di masa Fathimiyah, yang mendirikan Universitas al-Azhar, mazhab Syi’ah inilah yang dipakai, sebelum kemudian diganti oleh Salahuddin al-Ayyubi menjadi beraliran Sunni. Tetapi, dulu, Mazhab Syi’ah Zaidiyah ini diajarkan di sana. Bahkan, mazhab ini juga masih diajarkan berjejer dengan mazhab-mazhab fiqh lainnya hingga kini di banyak universitas dunia sebagai kajian komparatif.

Jadi, catat, Syi’ah pada mulanya lahir sebagai “faksi politik”, lalu berkembang menjadi sebuah aliran mazhab dalam Islam. Syi’ah tak ada hubungannya dengan soal sesat apalagi kafir. Sebagai sebuah paham mazhab Islam, Syi’ah sejatinya sama dengan Sunni. Sama-sama sebuah aliran teologis, sama-sama bagian dari Islam.

Lalu, di sini, di tangan muslim awam umumnya, Syi’ah dianggap sesat, bahkan kafir, bukan bagian dari Islam.

Memang benar bahwa ritual Islamnya Syi’ah berbeda dengan ritual Islamnya Sunni yang kita anut di sini dan di banyak negara berpenduduk muslim lainnya. Syi’ah begitu populer di Irak dan Iran, misalnya. Mungkin, bila panjenengan lahir dan hidup di Iran, panjenengan dengan sendirinya akan menjadi penganut Syi’ah. Bukankah mayoritas kita dalam berislam dan bermazhab mewarisi siapa orang tua kita, ya?

Kita di sini lalu gampangan mengatakan Syi’ah itu sesat, bukan bagian dari Islam, sebab mayoritas kita tak paham peta sejarah dan teologis ini. Sebab yang ada di cakrawala Islam kita hanyalah Islam Sunni, plus keawaman itu, jadilah yang berbeda dengan Sunni, cenderung mudah divonis sesat.

Ketiga, Islam liberal. Di sini, kian ke sini, istilah Islam liberal seolah merupakan hantu buruk rupa yang wajib dijauhi. Betapa mudahnya anak-anak muda yang awam studi akademik Islam itu menyebut Islam liberal sebagai sesat, bahkan kafir. Dan, Felix berada di rel yang sama dalam memperlakukan istilah liberal ini.

Baiklah, mari cermati ini. Kita semua tahu, termasuk Felix dan Reza, bahwa Islam itu terbagi jadi dua: unsur normativitas (dalil-dalil) dan unsur historisitas (kesejarahan, kezamanan).

Al-Qur’an dan hadits pun, bila panjengan tahu ilmu asbab al-nuzul dan ilmu asbab al-wurud untuk hadist, sebagiannya merupakan respons Allah dan RasulNya terhadap realitas zaman yang terjadi di tanah Arab, tempat diturunkannya kedua sumber utama Islam itu. Artinya, di dalam normativitas Islam termuat historisitas. Dalam ilmu Musthalah Hadits, misal, ada kaidah bahwa hadits ada yang bersifat qaulan (ucapan), fi’lan (perbuatan), dan taqriran (penetapan) Rasulullah.

Dalam kitab al-Ilm fi Ushul al-Fiqh karangan Abdul Wahhab Khallaf, sebuah kitab primer di pesantren-pesantren, suatu hari Rasulullah mengutus Mu’adz bin Jabal ke Irak untuk berdakwah. Beberapa masa kemudian, sekembalinya ke Madinah, Mu’adz melapor pada Rasulullah bahwa di Irak ia mendapat pertanyaan dari masyarakat setempat tentang sebuah hukum yang Mu’adz sendiri tak pernah tahu statusnya dari Rasulullah. Lalu, karena zaman itu belum ada gadget, Mu’adz berijtihad memutuskan status hukum itu. Beliau menanyakan kepada Rasulullah tentang sikapnya itu, dan Rasulullah membenarkannya mengambil langkah itu.

Inilah yang di kalangan ulama Ushul Fiqh (Ilmu tentang metodologi pembentukan hukum Islam/fiqh) disebut-sebut sebagai ijtihad pertama dalam sejarah Islam yang terjadi di masa Rasul masih sugeng.

Terlihat dari i’tibar ini bahwa wajah hukum Islam tidaklah sama karena perbedaan realitas sosial-kultural antara Madinah dan Irak, yang relatif dekat. Apalagi wajah Islam Madinah dengan Indonesia.

Dalam studi akademik Islam, inilah yang lazim disebut kontekstualisasi Islam; berkesesuaiannya dalil-dalil Islam dengan realitas masa dan tempat hidup umat Islam. Maka, Islam ala Arab tidaklah harus dijiplak habis-habisan oleh umat Islam Indonesia, misal, lantaran pada sebagian fenomenanya tidaklah sesuai.

Apakah ini berarti bahwa wajah hukum Islam akan terus berubah?

Iya. Tepatnya, berdinamisasi. Dinamisasi hukum Islam ini hanya pada hal-hal yang sifatnya mu’amalah, bukan ‘ubudiyyah. Shalat Subuh di Masjidil Haram Mekkah yang dua rakaat akan selalu sama dengan shalat Subuh di masjid Bantul atau masjid di dekat Gua Pindul Gunung Kidul yang juga dua rakaat. Ini ‘ubudiyyah.

Makan kurma atau memelihara jenggot yang di Arab sangat subur tidaklah harus diikuti oleh umat Islam Indonesia, sebab kurma sulit dan mahal di sini, serta gen kita tidak “murah hati” pada jenggot. Ini mu’amalah. Wujud hijab sebagai penutup aurat di Arab yang berkurung lebar, bahkan sebagiannya ditambahin cadar, tidaklah harus ditiru atas nama apa pun oleh muslimah Indonesia, sebab keduanya memiliki kultur yang berbeda.

Inilah kontekstualisasi dalil-dalil Islam; pembumian dalil-dalil Islam dengan realitas hidup umatnya. Dan, catat, kontekstualisasi ini secara epistemologis berbeda dengan liberalisasi Islam.

Secara epistemologis, kontekstualisasi Islam ialah “sekadar” upaya menyelaras-sesuaikan ajaran Islam dengan realitas hidup sebuah masyarakat. Membumikan, menyambung-kelindankan, menjadikannya spirit/ruh perilaku masyarakat setempat. Tentu, di dalamnya dibutuhkan tafsir yang dinamis.

Liberalisasi Islam, secara epistemologis, adalah gerakan menafsirkan atau memahami dalil-dalil Islam dengan semangat progresif berkebebasan.

Perbedaan paling mencolok di sini ialah bila kontekstualisasi Islam menjadikan dalil sebagai hierarki nomor satunya dalam spirit menafsirkan sesuai realitas zaman dan tempat, maka Liberalisasi Islam “cenderung” mendahulukan kekuatan nalar di atas normativitas itu.

Tak heran, dalam beberapa tafsirnya, Islam Liberal memang terlihat mengejutkan kalangan awam. Ya, dalam sebagainnya lho, dalam sebagian lainnya tidak. Misal, tafsir liberalis bahwa wine yang notabene mengandung zat yang memabukkan itu halal dengan menimbang unsur manfaatnya. Memeluk lawan jenis non muhrim itu boleh dalam kaidah qiyashi terhadap ajaran idkhal al-surur (menyenangkan orang lain). Ini beberapa contoh tafsir baru kaum liberalis yang mengejutkan kaum awam, yang juga tidak diamini oleh kaum kontekstualis.

Maka, sepatutnya, ke depan, kita hanya perlu lebih jeli dalam menimbang sebuah “fatwa” itu apakah layak kita terima atau tidak, sesuai atau tidak dengan konteks realitas hidup kita. Plus, yang tak kalah pentingnya, menjadikan maqashid al-syar’ie (tujuan pokok hukumnya) sebagai landasannya (nanti saya bahas khusus hal ini).

Sungguh menjadi ironi bila segala apa yang “baru”, disebut liberalis dalam artian sesat dan kafir. Menyedihkan sekali ini. Parah lagi sedihnya bila judge ini distigmakan oleh Felix yang banyak jamaahnya, sehingga otomatis jamaahnya yang awam akan mengamininya tanpa ampun.

Jadi, Felix harus mengerti betul peta ini; bagaimana kaidah metodologis dalam memperlakukan dalil-dalil yang “teks mati” dan tak bakal bertambah lagi di hadapan realitas zaman yang “manusia hidup” yang akan terus bergerak. Felix perlu pula membaca biografi Imam Syafi’ie, misal, yang menerbitkan Qaul Qadim untuk kemudian dilengkapi dalam Qaul Jadid, sebagai bukti empirik betapa imam hebat sekaliber beliau pun memiliki spirit tafsir kontekstual seiring perpindahan realitas hidupnya.

Keempatmaqashid al-syar’ie. Di kalangan pelajar atau ahli Ushul Fiqh, maqashid al-syar’ie ini menjadi “ibu” dari segala penyimpulan hukum Islam (al-asas fi istinbath al-hukmi al-islami). Sebuah hukum baru timbul selalu karena dua hal: fenomena baru dan landasan normatifnya (dalil). Dalil sampai akhir zaman akan tetap begitu adanya. Mabni. Alias tetap. Di dalam setiap dalil, terkandung maqashid al-syar’ie. Ia juga mabni, alias tetap. Tetapi, catat segera di sini, maqashid al-syar’ie itu adalah spirit atau tujuan pokok yang dikandung sebuah dalil.

Misal, ayat tentang menghormati orang tua. Ayatnya begini, “Janganlah kamu berkata uuhh pada kedua orang tuamu.” Penafsir yang memegang metodologi tafsir yang baik, Ushul Fiqh itu, harus mencari tahu dulu apa gerangan maqashid al-syar’ie dari ayat ini. Oke, sebutlahmaqashid al-syar’ie-nya adalah “dilarang berkata kasar pada orang tua”.  Inilah yang harus selalu dipegang oleh setiap penafsir.

Di sisi lain, kita mengerti bahwa etika itu relatif aktualisasinya dalam banyak adat masyarakat. Boleh jadi seorang anak biasa berkata “Bro” pada ayahnya, dan itu diterima sebagai etik oleh kedua orangnya, maka itu tak perlu disebut melanggar ayat itu. Tetapi boleh jadi dalam sebuah keluarga, salaman dengan tidak mencium tangan orang tua dianggap lancang, maka itu berarti pelanggaran terhadap maqashid al-syar’ie itu.

Perhatikan dengan detail di sini, bahwa yang paling pokok ialah menegakkan maqashid al-syar’ie itu, bagaimana caranya agar ia terpelihara, sedangkan remah-remah teknisnya bukanlah masalah untuk berbeda antar satu wilayah dan masa dengan wilayah dan masa lainnya. ‘Illah al-hukmi-nya pegang, selebihnya biarkan dinamis bentuknya.

Tafsir dinamis apa pun bila esensinya menabrak maqashid al-syar’ie ini, maka ia tidak layak digugu. Sebaliknya, tafsir Felix pun yang begitu sibuk dengan remah-remah teknis yangnotabene alamiah untuk berbeda-beda sebab kejamakan realitas masyarakat, sampai menyulitkan hidup kita, dan apalagi ternyata bukanlah esensi dari sebuah ajaran atau dalil (maqashid al-syar’ie) itu, ya tidak perlu didapuk.

Selfie, misal. Hari ini tak ada seorang pun yang tidak memiliki gadget. Dan setiap gadgetselalu ada kameranya. Panjenengan bakal jadi aktor Srimulat bila datang ke counter handphone, lalu mencari handphone yang tidak ada kameranya sebab takut dosa karena tergoda selfie.

Come on, Felix, dengan memahami dulu maqashid al-syar’ie setiap ajaran atau dalil, lalu didakwahkan secara membumi, hukum Islam akan menjadi mudah diikuti kok. Yassir wala tu’ashshir, mudahkanlah dan jangan mempersulit.

Baiklah, dalam fatwa Felix tentang selfie itu, anggap saja ia sangat mengedepankan kehati-hatian. Agar hati tidak obah jadi ujub, riya’, dan takabbur, sebab itu semua penyakit hati yang berbahaya. Tetapi Felix juga harus fair dan proporsional bahwa kehati-hatian tidaklah sama dengan paranoid. Bila semua laku kita sehari-hari dibelenggu oleh kehati-hatian agar tak ujub, riya’, dan takabbur, yang itu berarti poinnya adalah tentang niat di dalam hati, maka berhentilah kita menulis, ngetwet, tampil di podium, sebab khawatir hati jadi goyah, jadi ujub, riya’, dantakabbur. Berhentilah bersedekah sebab khawatir hati jadi sombong di hadapan dhuafa yang menerimanya.

Ini bukan lagi kehati-hatian, tetapi paranoid; kafa Sigmund Freud, itu adalah kondisi neurosis pengidap masalah jiwa. Sorry to say. Demikian pula dalam fatwa Felix tentang keharaman televisi.

Akan lebih bijak bila dalam konteks kehati-hatian agar hati tidak ujub, riya’, dan takabburini, cukuplah Felix menyandarkan pemahamannya pada hadits, misal, “Siapa yang di hatinya ada sebesar biji zarrah dari kesombongan, maka ia tidak berhak atas surga Allah.” Hadits ini bisa diurai begini bila menggunakan metodologi ilmiah Ushul Fiqh: maqashid al-syar’ie­-nya adalah jangan pernah sombong dalam hal apa pun. Pelaksanaannya bagaimana? Biarkan umat personal yang mencernanya. Sebagai sebuah geliat hati berupa niat, ya itu sangat privat. Yang penting, sebagai ustadz yang menegakkan jalan dakwah, ente sudah menyampaikan bahwa Allah membenci orang sombong.

Saking pedulinya saya sama ente, saya sungguh cemas lain hari ente akan mengharamkan traveling, outbound, internet, otomotif, gethuk, tiwul, dll., sehingga suatu kelak Indonesia ini akan hidup di abad pertengahan bersama kaum Khawarij, sementara bangsa-bangsa lain sudah pelesiran ke bulan dan Mars.

Kelima, komodifikasi. Hari ini, komodifikasi merupakan strategi marketing yang sangat ampuh, yang karenanya didaku oleh banyak orang dan perusahaan besar. Komodifikasi ialah “bisnis” alias jualan sebuah produk, boleh barang atau konsep, dengan dilabeli nilai-nilai agama. Intinya ya jualan itu, bisnis itu. Biar lebih mencengkeram hati segmen yang disasarnya, dikemaslah ia dengan label-label Islam. Orang awam akan mangap dan menelannya begitu saja, dengan sugesti bahwa inilah yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya. Bila panjenengan jalan-jalan ke Mekkah, lihatlah di supermarket Bin Daood, misal, betapa cerdasnya brand Coca Cola melakukan komodifikasi ini dengan menuliskan merek Coca Cola dalam bahasa Arab, sehingga bagi jamaah umrah/haji yang awam, yang faktanya itu adalah mayoritas, ia dianggap minuman buatan Mekkah yang sama berkahnya dengan Zamzam.

Dalam sebuah presentasi di kelas doktoral yang mengangkat tema Komodifikasi Agama ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa sebagai sebuah strategi marketing, komodifikasi itu hebat banget, tetapi sebagai sebuah pertanggungjawaban moral muslim, itu tega banget. Itu adalah pembodohan umat.

Beberapa waktu ini, kita dijejali dengan slogan bernama Hijab Syar’ie. Hijab yang secaramaqashid al-syar’ie untuk menutupi aurat bergeser menjadi fatwa-fatwa marketing Hijab Syar’ie ala komodifikasi: sebuah model hijab yang didesain sedemikian rupa, sehingga “efek fiqh-nya” adalah siapa pun muslimah yang tidak mengenakan hijab demikian belumlah sempurna ia menunaikan kewajibannya menutup aurat. Belum sempurnalah kemuslimahannya.

Bila fiqh menutup aurat ini dikembalikan kepada Mazhab Syafi’ie, misal, jelas bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Sudah. Kalau mengikuti mazhab lainnya, misal Hanafi, batasannya sedikit lebih longgar.

Tidak ada kaitan sama sekali antara kewajiban menutup aurat bagi muslimah dengan kewajiban mengenakan hijab model begini dan begitu itu. Nggak ada blas! Yang penting sudah sempurna menutup aurat, ya sudah cukup. Di Topkapi, Istanbul, sampai hari ini masih menyimpan jubah Fatimah, putri Rasulullah, yang bentuknya biasa saja. Tidak aneh-aneh, ora ndakik-ndakik kudu menjuntai kanan-kiri dan begini begitu.

Sungguh messakke para simbok dan simbah kita di kampung bila Hijab Syar’ie yangnotabene tidak murah harganya itu, sebutlah merek Alila milik Felix, dijadikan ukuran benar menutup aurat muslimah yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya. Sungguh kasihan.

Efek lain dari komodifikasi Hijab Syar’ie yang laris manis berkat fanatiknya orang awam pada fatwa rente ini ialah bermunculannya turunan komodifikasi lainnya, mulai kaos kaki Syar’ie, sepatu dan sandal Syar’ie, baju renang Syar’ie, dan entah kelak Syar’ie-Syar’ie apa lagi.

Tentu saja, Felix juga manusia biasa seperti saya yang suka duit, karenanya ia berdagang bagai Rasulullah (sebutlah begitu), itu sah-sah saja. Tetapi, sebagai idola umat, sewajibnya Felix memahami kapasitas dirinya sebagai ustadz di satu sisi dan pedagang di sisi lain. Membaurkan kedua pangkat itu, demi larisnya dagangan, sungguh sangat memilukan. Memfatwakan sesuatu atas nama Syariat, tetapi efeknya menjadikan larisnya sebuah dagangan, sungguh itu cara mengais nafkah yang tergopoh.

Keenam, terakhir, ilmu dan konsistensi. Seseorang menjadi anutan umat, dan akan kian terhormat, bila memiliki kedalaman ilmu dan konsistensi tinggi. Saya tidak berkepentingan untuk meragukan kapasitas Felix. Tidak, sama sekali tidak. Namun saya hanya hendak mengatakan di sini bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) seperti yang kerap dilakukan Felix harus melandaskan fatwanya selalu pada metodologi ilmiah ilmu pengetahuan yang kapabel: secara ilmu alat tafsir (sebutlah ilmu Ushul Fiqh, Asbab al-Nuzul, Asbab al-Wurud, Nasakh Mansukh, ilmu bahasa macam Nahwu, Sharf, Mantiq, dan Balaghah, hingga ilmu muqaranah al-mazahib) dan secara ilmu umum (sebutlah sosiologi, antropologi, hingga hermeneutika).

Felix hanya perlu menyadari bahwa fatwa-fatwanya akan memiliki dampak kepada (setidaknya) jamaahnya, menjadi prinsip hidup, kemudian perilaku. Apa jadinya bila sebuah fatwa dilahirkan dengan ugal-ugalan tanpa memiliki landasan metodologis yang kuat. Yang terjadi bukanlah tuntunan hidup umat, tetapi kegelisahan umat.

Dalam kitab Al-Luma’ fi Ushul al-Fiqh karangan Abu Ishaq Ibrahim, disebutkan bahwa seorang mufti (kayak Ustadz Felix) harus pula memenuhi syarat amanah dan terpercaya. Dalam bahasa kita, ustadz pemberi fatwa haruslah memiliki konsistensi tinggi. Ini mencerminkan betapa sangat tingginya derajat mufti yang bukan hanya pandai menarikan jempolnya di atas gadgetuntuk kultwet, tetapi juga harus selalu konsisten perilakunya agar patut digugu.

Bila manusia umum macam saya ini sukanya isuk kedele sore tempe, Nakmas BagusFelix ndak boleh lho begitu. Atas nama kredibilitas ente yang harus konsisten sebagai seorangmufti. Sebab fatwa ente akan diasup jamaah ente, jadi ente harus selalu sahih konsistennya.

Ndak elok to, Felix, bila ente memfatwa tivi haram tapi ente terima order untuk tampil di sana atas nama dakwah, misal. Pun ndak jumawa to bila ente bilang selfie itu mengancam hati tetapi ente ya selfie di Vatikan. Pun menyedihkan saya lihatnya kala ente begitu heorik mencuci otak jamaah untuk mendukung ideologi ente menegakkan khilafah di sini, sampai tega bilang nasionalisme itu tak ada dalilnya dan pula tak berguna (masak sih harus saya ajarin tentang ajaran hizbu al-wathan), tetapi ente menikmati kewarganegaraan Indonesia dalam bentuk KTP dan passport lho.

Hormat dan maaf saya yang sebesar-besarnya untuk panjengenganipunNakmas BagusFelix Siauw, bila banyak mata pelajaran dalam rapor ini yang masih berwarna merah. Tetapi, percayalah, saya melakukan ini karena tiga hal belaka: pertamaselo banget, lalu kedua, peduli banget sama anak-anak muda muslim/muslimah yang aslinya awam ilmu agama tetapi begitu militan memperjuangkan hal-hal yang belum diketahuinya dengan baik, dan ketiga, sebab saya merindukan ente, Felix, jadi cendekiawan muslim yang sanggup menyumbangkan kesejukan dan kedamaian bagi bangsa ini.

Kulo nuwun.

Jogja, 22 Januari 2015

 

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: