Hariman Siregar

 Mantan tokoh aktivis mahasiswa 1974 (Peristiwa Malari)
++++++++++++++
kliping dari minihub.org
SI PENGGAGAS TIM SILUMAN (POLITIK): Hariman Siregar disebut-sebut menjadi salah seorang aktor kuat dalam tim pendongkrak Habibie. Balas jasa, atau sekedar cari penghidupan? Di tahun-tahun akhir delapan puluhan atau sembilan puluhan awal, Hariman Siregar adalah salah seorang sosok yang dekat dengan sekelompok gerakan mahasiswa. Ia adalah salah satu dari sekian puluh orang yang mau memberikan "sumbangan" kepada gerakan mahasiswa. Pendek kata, pada tahun-tahun itu, Hariman merupakan pelanggan tetap "todongan" para aktifis. Ia dianggap sebagai bagian dari barisan pro demokrasi. Kedekatan kalangan aktivis mahasiswa tersebut lebih dikarenakan oleh Hariman yang ditempatkan sebagai tokoh yang berperan dalam gerakan Malari 1974. Pria kelahiran 1 Mei 1950 ini pernah di penjara karena aktifitasnya dalam peristiwa penolakan modal asing tersebut. Sebagai Dewan Mahasiswa UI, waktu itu ia memang cukup berperan. Namun sejumlah sumber menyebutkan, bahwa sebenarnya ketokohan Hariman dalam peristiwa Malari 1974 tidaklah seheroik cerita-cerita yang dibangun oleh buku-buku cerita yang beredar saat ini. Konon, ia muncul sebagai tokoh dalam peristiwa Malari tidaklah kurang hanya sebagai sebuah bagian dari permainan Ali Murtopo. Hariman disebut-sebut sebagai anak asuh Ali Moertopo (Opsus), yang sengaja disusupkan ke dalam gerakan mahasiswa untuk menginteli sesama aktivis gerakan mahasiswa lainnya, seperti Rachman Toleng, Marsilam Simanjuntak, Jusuf AR, Jopie Lassut, dan Julius Usman. Dan, ketika dipenjara, ia merengek-rengek minta grasi kepada presiden Soeharto. Selama menjadi mahasiswa itu pula, ia kenal dengan saudara kandung BJ Habibie, yaitu Fanny Habibie. Bahkan ada isu bahwa keluarnya grasi dari Soeharto juga berkat lobby Fanny. Perkawanan itu terus berlanjut. Ketika Fanny Habibie memimpin Direktorat Perhubungan Laut (Perla), diberilah Hariman pekerjaan di klinik "Baruna". Sebuah klinik yang dibangun oleh organisasi pekerja terkaya "Kesatuan Pelaut Indonesia" yang juga merupakan mesin uang sampingan dari Fanny waktu itu. Melalui Fanny pula, Hariman masuk dalam jaring ICMI dan Golkar bahkan sekarang sebagai penasehat pribadi Presiden BJ Habibie. Menjelang kejatuhan Soeharto, khabarnya Hariman sudah mempersiapkan sebuah skenario untuk mempercepat pendongkrakan Habibie sebagai presiden. Termasuk ikut berperan menyusun skenario rusuh di Jakarta Mei 1997. Gus Dur sempat mencium gelagat yang tidak beres di Golkar sewaktu Pemilu 97. Gus Dur waktu itu sempat menyebut, bahwa DPP GOLKAR sedang diurus secara tidak benar oleh preman-preman politik. Tentu, tudingan Gus Dur itu dialamatkan kepada Hariman dan kawan-kawannya. Di kalangan elit Golkar dan Hariman memang terkenal dengan pat gulipatnya di dunia preman. Konon Hariman adalah salah satu orang yang waktu itu ditugasi menggali dana untuk Golkar melalui jalur gelap-gelapan. Maka tidak lama setelah dikenalkan dengan Didi Darwis, teman dekat Abdul Gafur dan Alamsyah, muncullah undian SDSB itu. Tapi, akhirnya undian ini ditutup lantaran diserang masyarakat. Setelah Habibie naik jadi presiden, persahabatan Hariman-Fanny berubah menjadi geng politik yang berbahaya. Mereka berdua membentuk sebuah Tim Sukses (di luar Golkar) yang mati-matian menggalang dukungan massa dan dana bagi pencalonan Habibie. Mereka sibuk membuat manuver-manuver untuk mengesankan kedemokratisan Habibie dan menghancurkan reputasi Megawati. Memasukkan 41 anggota MPR dari kalangan dekat Habibie dan mencopoti anggota MPR pendukung Soeharto Tim ini juga terlibat adalam pengorganisasian aksi pendukung Habibie di DPR 22 Mei 1998 dengan sokongan dana dari Fanny dan Timmy Habibie, pemilik konglomerasi Timsco. Mereka membayar kelompok masyarakat yang mau dibawa ke Jakarta, membentengi Habibie. Kerja Tim bentukan Hariman-Fanny ini memang misterius, mereka masuk ke semua lini kehidupan masyarakat. Untuk menggarap LSM dan aktivis mahasiswa, mereka bekerja melalui Dr Kastorius Sinaga, Bursah Zarnubi dan Eggy Sujana. Kasto yang direkrut Hariman sejak ia -selaku konsultan proyek World Bank- tidak bisa mempertanggungjawabkan sekitar puluhan juta alokasi dana Bank Dunia. Namun belakangan Kasto tidak mampu meraih simpati kalangan LSM dan Bursah (pendiri Himpunan untuk Kemanusiaan dan Keadilan -Humanika) juga gagal membangun projek Gabungan Pemuda Reformasi Indonesia (GPRI), organisasi tandingan KNPI. Adapun Tim dari jalur tentara ada ZA Maulani, Kivlan Zein Sintong Panjaitan. Di sektor Birokrasi ada Baramuli, Muladi, Ginanjar Kartasasmita, Adi Sasono dan sejumlah menteri kabinet. Sejumlah wartawan dan bahkan media cetaknya, di bawah koordinasi Parni Hadi dan grup Adil-nya. Di divisi penggalian dana terdapat sejumlah nama, Timmy Habibie, Tanri Abeng, Setya Novanto dan sejumlah nama lain. Salah satu jalan penggalian dananya dengan jalan memeras sejumlah pemilik Bank dan para pengusaha bermasalah. Salah satunya yang sudah terbongkar adalah skandal Bank Bali dan BII. Bahkan, ada yang sudah berlangsung sebelum Pemilu 1999, Tim Habibie ini juga telah mengeruk dana masyarakat secara gelap melalui judi kupon berhadiah "pakong" dan sejenisnya, yang modelnya tak jauh berbeda dengan SDSB. Bedanya, SDSB legal, Pakong ini gelap. Ternyata mengandalkan kemampuannya sendiri tidak membuat keduanya PD. Tim Hariman-Fanny ini pun akhirny mengorder konsultan dari Korsel dan Jerman yang didatangkan khusus ke Jakarta sebagai konsultan. Semula, keterlibatan Hariman menjadi antek Habibie sangat misterius. Posisi Hariman baru transparan setelah beredarnya surat pribadi aktivis PDR Syahganda Nainggolan untuk Menkop PPK Adi Sasono. "Saya sudah koordinasi dengan Bang Hariman Siregar untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang mungkin bisa kita rangkul dan juga kekuatan kekuatan yang melawan. Hariman juga sudah koordinasi dengan Fanny dan sudah memerintahkan Bursah untuk melakukan operasi mendukung Pak Habibie lewat GPRI. Bursah akan meloby elite tentara supaya menerima kombinasi Sipil-Militer dengan mendorong isyu duet Presiden Habibie-Pak Wiranto (tentara ini kalo nggak diakalin emang susah). Sedikit ganjalan hanya dari 2 Colis (Muzaki Colis dan Noorcholis/gepeng) yang tidak bisa kompromi dan anti Habibie. Muzaki Colis ini binaan lama dari Tutut-Hartono sedang Noorcholis ini tangannya Arifin Panigoro. Hariman juga sudah memerintahkan Kastorius Sinaga untuk menjaga Tim 11 bersama Bang Buyung serta aktif melakukan pemantauan terhadap Pemantau Pemilu. Ini penting mengingat ada gerakan Arifin Panigoro dan kawan-kawannya yang akan menggunakan Pemantau Pemilu untuk menghantam hasil-hasil Pemilu 1999 nanti. Hariman juga nitip pesan supaya Mas Adi menekan Akbar Tanjung kenapa Golkar mengeluarkan 5 (lima) calon seharusnya kan calon tunggal," ungkap Syahganda Nainggolan dalam suratnya kepada Adi Sasono beberapa saat sebelum Pemilu. Hasil Pemilu 1999 membuat Syahganda habis reputasinya seiring dengan jebloknya perolehan suara PDR. Namun satu hal jasa Syahganda adalah ia memberikan sinyal terhadap adanya jaringan Tim Siluman Habibie. (*)

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: