Joko Widodo

++++
dari WIKIPEDIA

Joko Widodo atau Jokowi (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961; umur 53 tahun) adalah presiden terpilih Indonesia tahun 2014. Politisi Indonesia ini adalah mantan Gubernur DKI Jakarta dan Wali Kota Surakarta (Solo) dari tahun 2005 sampai 2012 didampingi F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil wali kota.[4] Dua tahun sementara menjalani periode keduanya di Solo, Jokowi ditunjuk oleh partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk memasuki pemilihan Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).[5]

Walaupun pada masa kecilnya pernah tergusur sebanyak tiga kali,[6] ia mampu diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan setelah lulus berhasil menjadi pengusaha furnitur.[6] Setelah itu, karier politiknya dimulai dengan menjadi Wali Kota Surakarta pada tahun 2005.[7] Namanya mulai dikenal setelah dianggap berhasil mengubah wajah kota Surakarta menjadi kota pariwisata, budaya, dan batik.[8] Pada tanggal 20 September 2012, Jokowi berhasil memenangkan Pilkada Jakarta 2012, dan kemenangannya dianggap mencerminkan dukungan populer untuk seorang pemimpin yang “baru” dan “bersih”, meskipun umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun.[9]

Semenjak terpilih sebagai gubernur, popularitasnya melambung tinggi dan ia terus menjadi sorotan media.[10][11] Akibatnya, muncul wacana untuk menjadikannya calon presiden untuk pemilihan umum presiden Indonesia 2014.[12] Ditambah lagi, hasil survei menunjukkan bahwa nama Jokowi terus diunggulkan.[13] Pada awalnya, Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa ia tidak akan mengumumkan Calon Presiden PDI-P sampai setelah pemilihan umum legislatif 9 April 2014.[14] Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Jokowi telah menerima mandat dari Megawati untuk maju sebagai calon presiden dari PDI-P, tiga minggu sebelum pemilihan umum legislatif dan dua hari sebelum kampanye.[15]

Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo dan merupakan anak sulung dan putra satu-satunya dari empat bersaudara. Ia memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati dan Titik Relawati[16] Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama kecil Mulyono.[17] Ayahnya berasal dari Karanganyar, sementara kakek dan neneknya berasal dari sebuh desa di Boyolali.[18] Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 111 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah.[19]

Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai pekerjaan menggergaji di umur 12 tahun.[6][20] Penggusuran yang dialaminya sebanyak tiga kali di masa kecil memengaruhi cara berpikirnya dan kepemimpinannya kelak setelah menjadi Wali Kota Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.[21]

Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta.[22] Ketika ia lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1 Surakarta, namun gagal sehingga pada akhirnya ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta.[23]

Jokowi menikah dengan Iriana di Solo, tanggal 24 Desember 1986, dan memiliki 3 orang anak, yaitu Gibran Rakabuming (1988), Kahiyang Ayu (1991), dan Kaesang Pangarep (1995).

Soal Agama

Jokowi memeluk agama Islam dan bercerita bahwa ia pertama kali naik haji pada tahun 2003, dan sesudahnya umrah minimal empat kali.[231] Namun, menjelang pemilihan umum presiden 2014, muncul berbagai tudingan yang mempertanyakan keislaman Jokowi, sehingga pada tanggal 24 Mei 2014 Jokowi menyatakan bahwa ia adalah bagian dari “Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di negara RI yang memegang teguh UUD 45.”[232] Ia juga menyatakan bahwa ia bukan bagian dari kelompok Islam yang “sesuka hatinya mengafirkan saudaranya sendiri”, “menindas agama lain”, “arogan dan menghunus pedang di tangan dan di mulut”, “suka menjejerkan fustun-fustunnya”, “menutupi perampokan hartanya, menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban”, atau “membawa ayat-ayat Tuhan untuk menipu rakyat

+++++
Stetement Kontroversial :

Terlibat Pelanggaran HAM, Jokowi Kasihan kepada Hendropriyono

Print
Email

Created on Tuesday, 12 August 2014 10:34

AM Hendropriyono (GATRA/Ardi Widi Yansah)
Jakarta, GATRANews – Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) menuturkan kasihan kepada AM Hendropriyono karena dikaitkan dengan peristiwa Talangsari 1989 dan pembunuhan aktivis HAM Munir. Hendropriyono saat ini menjadi penasihat senior Tim Transisi Jokowi-JK.

“Kalau diduga kemudian dijadikan isu, saya kasihan (kepada Hendropriyono),” ucap Jokowi usai bertemu Menteri Luar Negeri Jepang, Fumio Kishida di Balai Kota Jakarta, Selasa (12/8) pagi.

Gubernur DKI Jakarta ini tidak mempersoalkan track record mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) tersebut. Ia justru berkeyakinan keterlibatan Hendro hanya sebatas isu dan dugaan.

“Ya enggak apa-apa, semua orang bebas memberikan pendapat. Tapi kan belum jelas masih diduga,” ucap mantan Walikota Surakarta itu kepada awak media.

Sebelumnya, pada Sabtu (9/8) pekan lalu, Hendropriyono ditunjuk menjadi penasihat senior Tim Transisi Jokowi-JK. Tim itu dikepalai oleh mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini M. Suwandi.

Penunjukkan ini mendapat kecaman dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Hendro disebut terlibat dalam dua kasus pelanggaran HAM yakni Talangsari, Lampung dan pembunahan aktivis Munir.

Koordinator Kontras, Haris Azhar mempertanyakan penunjukkan Hendropriyono sebagai penasihat senior oleh Tim Transisi Jokowi-JK. Pasalnya, Hendropriyono diduga kuat sebagai seorang yang bertanggung jawab dalam pembantaian Talangsari.

“Joko Widodo sepatutnya paham dengan sejumlah kejahatan kemanusiaan di Indonesia, di mana salah satu kasusnya itu adalah Talangsari 1989 atau pelakunya adalah Hendropriyono,” kata Haris.

Menurut Kontras, Hendropriyono juga diduga terkait dalam kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir yang dilakukan oleh agen BIN pada masa kepemimpinannya. Kasus itu hingga kini belum ada kejelasan siapa aktor pelaku utama.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: