Puan Maharani

Putri dari Megawati Sukarno Putri, cucu dari Presiden RI ke 1 Soekarno
istri dari Happy Hapsoro

++++
Senin, 25/06/2007 08:19 WIB
Puan Maharani, Penari yang Lulus Belajar Politik
Arifin Asydhad – detikNews

Puan Maharani (foto: dok. detikcom) Jakarta – Selama ini Puan Maharani jarang disebut sebagai politisi. Ya, dia bukan pengurus sebuah partai politik, bukan anggota DPR. Dia tidak memiliki jabatan politik. Tapi sebenarnya penggemar menari ini tanpa disadari sudah melakukan aktivitas politik. Dia disiapkan sebagai penerus Megawati. Puan merupakan anak ketiga Megawati Soekarno Putri, atau anak pertama Megawati dari suaminya, Taufiq Kiemas. Sebelum melahirkan Puan Maharani, Megawati telah memiliki dua anak, M Rizki Pratama dan M Prandanda Prabowo, dari suami sebelumnya, seorang pilot bernama Surendro. Dari ketiga anaknya, Puan Maharani-lah yang lebih sering tampil di depan publik mendampingi Megawati. Karena itu, wajar bila kemudian nama Puan lebih dikenal luas masyarakat dibanding dua anak laki-laki Mega. Saat Megawati menjadi Presiden 2001-2004, Puan Maharani selalu berada di sampingnya, bila melakukan kunjungan resmi ke daerah atau ke luar negeri. Inilah aktivitas politik Puan Maharani yang mungkin tak disadarinya. Dengan mendampingi Megawati, Puan Maharani semakin familiar di kalangan publik. Wajah ibu muda kelahiran 6 September 1973 ini pun semakin dikenal. Beberapa kali Puan Maharani dipercaya Megawati melakukan aktivitas sosial. Istri dari Happy Hapsoro ini belajar banyak mendekati ‘wong cilik’. Dia menjadi duta Megawati untuk mengirim bantuan untuk para korban bencana, dari Sabang sampai Merauke. Sering kali, saat memberikan bantuan itu, Puan menyatakan bahwa dirinya diutus Megawati. Proses belajar politik Puan Maharani semakin ditempa saat Pemilihan Presiden 2004 lalu. Sarjana Komunikasi Universitas Indonesia (UI) ini terpaksa semakin dalam untuk ikut terlibat dalam proses politik. Puan membantu sekuat tenaga ibunya agar menjadi presiden kedua kalinya. “Saya harus membantu. Betapa pun beliau ibu saya,” kata ibu muda ini saat diwawancarai Gatra, 2004 lalu. Puan ikut terlibat dalam Mega Center, lembaga yang menangani pemenangan Mega sebagai presiden. Sebagai observer di lembaga itu, setiap hari, Puan selalu bertemu dengan konstituen, mendengarkan keluhan dan harapan banyak orang. Puan juga memiliki hobi yang bisa mendekatkan dirinya dengan wong cilik: menari. Dengan berbekal sebagai penari Jawa yang baik, Puan semakin lihai untuk mengenal budaya. “Ibu yang mengajari sejak saya kecil. Bapak juga mengenalkan pada budaya Palembang tetapi saya kurang bisa menguasai dibandingkan tari Jawa. Saya beruntung dibesarkan oleh orangtua berlatar kebudayaan Jawa dan Palembang, meski saya hanya menguasai tari Jawa,” ujar Puan suatu saat. Sebagai utusan Megawati, Puan juga belajar melobi tokoh atau politisi. Puan pernah diminta Megawati untuk mewakilinya bertemu ulama ternama di Pekalongan, Habib Muhammad Luthfi Ali Yahya pada 2004 lalu. Puan melobi agar sang habib mendukung pasangan Mega-Hasyim. Puan juga pernah diminta untuk bertemu politisi kaliber lainya. Setelah Megawati gagal sebagai Presiden 2004-2009, Puan Maharani tetap terus mendampinginya. Puan masih sering mendapat jatah mewakili ibunya sebagai ketua umum DPP PDIP untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang mengalami kesusahan. Yang belum terlihat selama ini adalah gaya Puan Maharani melakukan orasi di depan publik. Meski begitu, Puan sepertinya sudah dianggap lulus untuk belajar politik. Wajar, bila saat ini Puan disebut-sebut akan diajukan sebagai calon wakil presiden untuk diplot menjadi pasangan Jusuf Kalla dalam Pemilihan Presiden 2009.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: