Ja’far Umar Thalib

 

Bos Laskar Jihad dan provokator anti keberagaman . Dia mengidamkan kehidupan Indonesia seperti Yemen, Afganistan, Sudan, Pakistan dan Somalia..

Punya banyak pelindung dari kalangan  politisi sipil  dan militer . Hamzah Haz ( Wakil Presiden jaman Megawati) adalah  salah satu pendukung   loyal.  Pendukung loyal dari kalangan militernya adalah Jendr (Purn) Sudi Silalahi ( jongos SBY, Mensekneg)

 

diunduh dariDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ja’far Umar Thalib

Ja’far bin Umar Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, Indonesia, 29 Desember 1961; umur 52 tahun) adalah pendiri Laskar Jihad, sebuah organisasi Islam militan di Indonesia.[1]

Menempuh pendidikan semasa kecil di Perguruan Al Irsyad, hingga kemudian pada 1983 menjadi pelajar di LIPIA, Jakarta yang merupakan cabang dari Universitas Imam Ibnu Su’ud Di Riyadh, Saudi Arabia.[rujukan?] Pada 1986 sebelum kelulusannya, karena masalah dengan salah satu gurunya ia akhirnya keluar dari LIPA dan melanjutkan studinya ke Maududi Institute di Lahore Pakistan.[rujukan?]

Pada 1987 Ja’far bergabung dengan Mujahidin di Afghanistan yang saat itu sedang berperang dengan Uni Soviet.[rujukan?] Selama dua tahun ia berjuang sekaligus belajar bersama Asy Syaikh Jamilurrahman Al Afghani As Salafy di Provinsi Kunar, dekat perbatasan Pakistan.[rujukan?]

Pada Januari 1990, Ja’far menyatakan bahwa ia sepenuhnya telah beralih kepada mahzab Salafy dan menanggalkan pemahaman lamanya yang ia anggap menyimpang.[rujukan?]

1990-1991 Ja’far kembali ke Indonesia dan mengajar di Pesantren Al Irsyad yang dijalankan oleh Yusuf Utsman Ba’isa[rujukan?]

1991-1993 Ja’far belajar kembali kepada seorang Ulama Salafy, Syaikh Muqbil bin Hadi’ Al Wadi’i di Dammaj, Yaman.[rujukan?]

Sepulangnya dari Yaman, pada tahun 1993 Ja’far dengan bantuan beberapa pengikut Salafy kemudian mendirikan sebuah pesantren yang bernama Ihya As Sunnah di Dusun Degolan, Sleman, Yogyakarta. Di atas sebuah tanah wakaf dari keponakan petinggi TNI saat itu.[rujukan?]

Mantan wapres Hamzah Haz adalah salah seorang pengagum Ja’far Umar Thalib. Ia pernah menjenguk Ja’far ketika ia mendekam di sel pada awal tahun 2002.[rujukan?]

Tahun 2002, tepatnya di bulan Oktober, Laskar Jihad Ahlussunnah wal Jamaah resmi dibubarkan oleh staf dan dewan pembina FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jama’ah), setelah rapat maraton sejak tanggal 3 – 7 Oktober 2002. Ja’far Umar Thalib tidak setuju, karena masih berurusan dengan Pengadilan Negeri Jaktim untuk kasus makar, menghasut, dan menghina Presiden Megawati Sukarnoputri. Namun, Ja’far terpaksa mengumumkan pembubarannya ketika dikonfirmasi wartawan beberapa saat setelah terjadinya peristiwa bom Bali I, yakni tanggal 16 Oktober 2002.[rujukan?]

Ja’far nampaknya masih memerlukan pasukan untuk melakukan demonstrasi sehingga bisa menekan pemerintah, dalam hal ini Pengadilan Negeri Jakarta Timur, agar tidak memberatkan hukumannya. Kendati demikian ternyata dengan bubarnya Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib justru divonis bebas. Menurut majelis hakim, Ja’far tidak terbukti menghina Presiden Presiden Megawati Sukarnoputri, menghasut massa, dan mengobarkan rasa permusuhan dalam ceramahnya Masjid Al-Fatah Ambon, Maluku, 26 April 2002. Sehingga tanggal 30 Januari 2003 adalah hari kebebasannya.[rujukan?]

++++

Ja’far Umar Thalib: Saya Siap Perang Melawan Pluralisme

Ja’far Umar Thalib: Saya Siap Perang Melawan PluralismePanglima Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib di Tabligh Akbar yang digelar di Masjid Kauman Yogyakarta, Minggu (8/6). (Foto: Febriana)

KBR, Yogyakarta – Panglima Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib menegaskan dirinya tidak takut kepada Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Hal ini dinyatakan di hadapan ratusan orang dalam acara tabligh akbar berjudul “Perang Melawan Pluralisme” di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Minggu (8/6).

Ja’far mengatakan dirinya siap berperang melawan pluralisme karena menurut dia, Islam tidak mengenal paham tersebut. Penolakan dan kecaman untuk hidup dalam keberagaman itu ditujukan juga kepada Raja Kraton Yogyakarta yang dianggap selalu menyerukan pluralisme.

“Umat Islam menentang pluralisme. Biarpun Sultan bilang begitu, saya tidak takut kepada Sultan. Meskipun ratusan Kraton bersatu, saya tidak takut,” katanya.

Ia pun mengatakan, salah satu resiko berperang melawan pluralisme adalah ditangkap Polisi. Tapi menurut dia, itu adalah resiko biasa dalam berperang. Ditambah lagi, Ja’far Umar Thalib mengaku tidak punya rasa takut kepada Kapolda. “Meskipun TNI dan Polri melebur, saya tidak takut pada Kapolda.”

Sebelumnya, pengurus Masjid Kauman menolak untuk memberikan izin penyelenggarakan tabligh akbar karena tema yang diusung acara tersebut yaitu “Perang Melawan Pluralisme”. Tema itu dianggap tidak sesuai dengan kondisi Yogyakarta.

“Izin sudah diajukan seminggu lalu, tapi belum ada temanya,” jelas pengurus Masjid Gede Kauman, Budi Setyawan. “Kalau tema yang “Perang Melawan Pluralisme” itu tidak boleh, lalu kemudian mereka menggantinya.”

Kepolisian Yogyakarta juga sudah mengeluarkan izin untuk pelaksanaan tabligh akbar ini, yang akhirnya berubah judul menjadi “Umat Indonesia Bersatu untuk Indonesia yang Maju”.

Saat acara berlangsung, tidak nampak pengamanan ketat dari pihak Kepolisian. Polisi hanya berjaga – jaga disepanjang jalan raya menuju Masjid Gede Kauman.

Masjid Gede Kauman adalah masjid tertua di Yogyakarta. Biasanya Sultan dan keluarganya memilih masjid ini untuk shalat Jumat dan hari raya keagaaman. Masjid yang terletak di alun-alun utara ini hanya berjarak satu kilometer dari tempat tinggal Sultan Hamengku Buwono X.

Editor: Citra Dyah Prastuti

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: