Anton Medan

Dari Wikipedia
Anton Medan (lahir dengan nama Tan Hok Liang; lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 10 Oktober 1957; umur 56 tahun) adalah mantan perampok dan bandar judi yang kini telah insaf. Ia memeluk agama Islam sejak 1992. Ia mendirikan rumah ibadah yang diberi nama Masjid Jami’ Tan Hok Liang. Masjid itu terletak di areal Pondok Pesantren At-Ta’ibin, Pondok Rajeg, Cibinong.
++++
Interview Tabloid Adil

H. Anton Medan, Mantan Bandar Judi/Pengasuh Ponpes At-Taibin

Kita Pakai Singkatan TW

Anda setuju soal melokalisasi perjudian?
Jika tujuannya untuk APBD, umat Islam harus menolak. Tapi untuk
mencegah judi kolektif alias kasino, boleh saja. Dibicarakan juga,
judi masalnya. Ada dua bentuk perjudian. Judi kolektif atau kasino.
Dampak kasino tidak langsung terhadap masyarakat bawah, orang
tertentu saja. Yang berbahaya, judi massal, contohnya, togel, Pa
Kong, Sampurna, Bola Mas, dan Wah Woi.

Judi kasino dilokalisir, Anda setuju?
“Setuju”. Maksudnya, disahkan Keppres. Kalau disahkan kebijakan
gubernur karena otonomi daerah, semua daerah boleh buka, saya gempur
habis dengan massa saya. Tapi kalau Keppres, Indonesia hanya ada satu
keputusan. Umat Islam tidak boleh masuk dan jadi karyawan. Jika itu
yang dilakukan, saya mendukung. Dengan catatan, aturan judi di pasal
303 KUHP, direvisi.

Bagian mana yang perlu direvisi dari pasal 303 KUHP?
Ada klasifikasi jelas bentuk judi kolektif dan judi massal. Sanksinya
pun harus ditambah bagi yang pasang badan. Karena, tidak pernah ada
bos judi masuk penjara. Kapan bos judi masuk penjara, kecuali Hong
Li.20Apa dengan melokalisasi judi kolektif sudah menjawab persoalan?
Menurut saya tidak.

Kenapa?
Yang meresahkan masyarakat; judi massal seperti togel. Padahal togel
bisa dicegah. Barang bukti lengkap. Pengecer diseret hukuman minimal
5 tahun. Siapa yang berani pasang badan?

Sebenarnya ada apa di balik lokalisasi perjudian?
Sutiyoso dimanfaatkan Tommy Winata. Tanpa disadari, Sutiyoso masuk
dalam jebakan. Yang terpenting, itu proyek besar, yang mengeluarkan
kebijakan. Nilai kontraknya bisa mencapai Rp 50 miliar hingga Rp 100
miliar.

Indikasinya?
Anda cek di Pulau Seribu. Judi mickey mouse ada atau tidak? Ada.
Menurut bupati, judi di Pulau Seribu dikelola grup Rudi Raja Mas,
pemilik koran di Jakarta. Ada Tommy Winata, Ali Cocong, dan Eng San.
Jika Apoh, sepertinya tidak. Sebab, ia bekas anak buah saya. Ini
sangat mengerikan, seorang bandar judi gelap punya media massa.

Siapa yang berkepentingan dengan lokalisasi perjudian?
Kepentingan pejabat untuk kekayaan pribadi. Kita tidak dapat
menyalahkan bos judi, Tommy Winata, Rudi, Ali Cocong dsb. Kita tidak
bisa salahkan. Kenapa? Mereka bisnis. Naluri bisnis itu semudah-
mudahnya. Sekarang yang diuji kan moral, mentalitas dan etika pejabat.

Bagaimana peta perjudian saat ini?
Ada oknum Angkatan Darat yang ikut campur tangan. Sutiyoso dari
Angkatan Darat (AD). Tommy Winata dengan kekuatan AD. Kalau Apoh, dia
murni upeti dengan polisi. Sejak reformasi, tokoh-tokoh yang tadinya
tidak berperan, sekarang muncul.

Siapa God Father (penguasa) dari bisnis perjudian ini?
Ya… itu, kita pakai nama singkatan si TW. Karena apa? untuk
membuktikan, dia tidak di lokasi. Kan sulit. Tapi, sopir taksi pun
tahu, kalau TW itu punya Tommy Winata. Semua orang tahu, mereka juga
kan? Namun, bisa tidak dibuktikan. Tak pernah yang namanya bos judi
turun langsung ke lapangan. Kenapa koin kok tidak uang kontan? Karena
kalau digerebek tak jadi masalah, uang dapat dikembalikan dari hasil
penukaran koin. Kalau polisi menangkap sulit dengan barang bukti
duit. Paling yang ada, receh-receh.

Kenapa Tommy Winata ditakuti terutama di kalangan etnis Tionghoa?
Siapa yang takut? Demi Allah, saya tidak takut pada dia. Dia makan
nasi. Dulu, siapa yang tidak kenal raja judi Hong Li. Habis oleh
saya. Lantas, saya naik bendera. Karena saya masuk Islam, haram buat
saya, saya jauhi. Tapi, bekas anak buah saya tidak sedikit. Sekarang,
Apoh big boss. Dia, anak buah saya. Apa saya ngiler dengan harta
mereka? Tidak.

Tommy Winata bisnis judi togel dan ketangkasan?
Dari bola tangkas, togel, kasino, HPH, sampai bursa efek. Sekarang,
dia rajanya. Dia punya majalah yang terbit di Ibukota.

Siapa beking mereka?
Kalau dibilang upeti, oknum dari tingkat Polsek sampai Mabes Polri
tidak sedikit yang menolak (upeti). Mulai tingkat Koramil sampai
Kodam, banyak yang menerimanya. Kalau tidak dikasih upeti, digerebek.
Contoh, Hendarji (dulu di Pomdam Jaya, kini Wakil Danpuspom),
nggerebek judi. Kenapa? Boleh jadi, tidak dapat jatah. Marinir juga
ikut nggerebek, coba. Lucu kan?

Berapa upeti bandar judi ke polisi?
Kapolsek bisa Rp 5 juta hingga Rp 10 juta tiap minggu. Kapolres
seminggu dapat Rp 20-50 juta. Kapolda, Rp 100 juta. Perwira Mabes
Polri bisa Rp 500 juta. Bayangkan. Ketika Sofjan Jacoeb jadi Kapolda,
ia minta bantuan pada saya, Rp 1 miliar. Ia bilang, ”Tolong Pak Haji
Anton, saya meminta satu miliar”. Saya menjawab, ”Limaratus juta
deh karena tempat kita tidak ramai”. Lantas, ia bilang, ”Kalau Anda
tidak sanggup memberikan ya jangan buka”. Kapolda saja, Rp 1 miliar.
Bayangkan, saja.

Berapa total upeti yang dikeluarkan bandar judi tiap bulan?
Besar sekali. Tapi, jika untuk judi, itu tidak terlalu besar. Yang
besar untuk perempuanlah, yang tiketlah, yang tamulah, kemudian mau
beli tanah untuk bangunanlah, anaknya mau kawinlah, segala macam.

Mereka minta terang-terangan?
Biasanya, dia melalui ajudannya. ”Tolong kamu hubungi, nanti saya
yang ngomong dengan Anton”. Begitu sudah berbicara dengan saya,
tolong dong, ini, ini, ini. Ya dijalani. Jika tidak dijalani, ia
menyuruh anak buahnya untuk menangkap.

Siapa yang menikmati uang judi?
Dari Kepala Pos Polisi, Kapolsek, Kapolres, Kapolwil, Kapolda, sampai
ke perwira tinggi di Mabes Polri, menikmati uang judi. Lalu, dari
Danramil, sampai ke Pangdam. Kemudian, oknum wartawan yang biasa
mangkal di Polsek sampai Mabes Polri, juga. Bukan cuma oknum polisi,
tentara dan wartawan, namun sudah sampai ke oknum jaksa, hakim,
bahkan lembaga pemasyarakatan.

Saya tidak katakan bahwa Pak Makbul (Kapolda Metro Jaya) pernah
menerima jatah. Tapi saat saya membuka kasino gelap, ia Kapolsek
Taman Sari. Hari Montolalu dulunya Kapolsek Penjaringan. Nurfaizi,
Kapolres 702. Noegroho Djajoesman, dulu Kapolres Jakarta Pusat.
Pokoknya semua. Dengan logika, apa hubungan saya dengan mereka.
Tinggal bagaimana Anda menerjemahkan.

Bagaimana dengan organisasi kepemudaan?
Zaman saya, organisasi pemuda, saya tidak menyebutkan siapa ia tapi
Anda dapat mengasumsikan. Dulunya, siapa organisasi kepemudaan yang
terkenal? Kini, sampai pada oknum ormas Islam. Jika dia tak
mengatasnamakan ormas, tapi orang tahu dia berada di ormas. Juga OKP,
bahkan mereka membekingi.

Partai juga kebagian upeti?
Zaman saya, tidak. Partai cuma PPP, PDI, dan Golkar. Semua, tak ada
itu. Tidak saya pandang kok. Seperti, PP (Pemuda Pancasila), juga
tidak ada. Paling, saya merekrut jagoan-jagoannya. Dia mau ambil
jatah jagoan, gue jagoan. Kalau lu kuat tahan bacok, lu nggak apa-apa
lawan gue. Kalau saya kasih, itu paling hanya kebijakan antara teman.
Tapi, kalau untuk oknum wartawan dan aparat memang harus dikasih.
Daripada digerebek terus ditutup, ya dikasih.

Siapa di belakang Yayasan Bina Dana Sosial?
Siapa yang dulu mengelola SDSB? Kini sudah bergeser. Tadinya tidak
punya peran, sekarang muncul dengan nama yayasan. Tapi di belakangnya
tetap si Tommy Winata, Rudi Raja Mas, Ali Cocong dan Engsan. Kelompok
Delapan itu kan mereka. Mereka masih berperan besar. Perputaran uang
di Harco Mangga Dua, Rp 1 triliun tiap hari.
(kar/dan/ad)

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: