Chairun Nisa

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Golkar , Bendahara MUI di Divisi sebagai bendahara pengurus Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI.

kaki tangan Hakim Konstitusi korup Akil Mochtar (Golkar)

 

 

+++++++++++

Chairunnisa dikenal sebagai akademisi senior di lingkungan akademis Universitas Palangkaraya, selain sebagai politisi senior Chairunnisa menjabat sebagai Bendahara MUI di Divisi sebagai bendahara pengurus Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI.

 

Chairunnisa Anggota DPR RI Dari Fraksi Golkar Yang Juga Bendahara MUI

 

Jakarta-Kluget.com, Fatwa MUI ternyata tidak ampuh untuk anggota MUI-nya sendiri. Fatwa Haram yang  didefinisi suap, seperti duit pelicin, money politic, dan lain sebagainya. Suap ini dapat dikategorikan sebagai “risywah” apabila tujuannya untuk meluluskan sesuatu yang batil atau membatilkan perbuatan yang hak.

Ternyata Chairunnisa selain politisi adalah bendahara MUI. Perempuan anggota DPR ini telah ditangkap KPK dengan dugaan menyogok pejabat negara dalam kasus sengketa Pilkada di Gunung Mas Kalimantan. Chairunnisa yang diduga berperan sebagai makelar politik memberikan duit kepada Akil Mochtar agar keputusan konstitusi Mochtar dalam sengketa perebutan jabatan Bupati dimenangkan oleh Hambit Bintih.

Chairunnisa, bisa dibilang dedengkot wakil rakyat, dia sudah tiga periode menjabat anggota DPR RI. Perempuan yang berlatar belakang dosen selalu dipercaya mewakili Golkar di Kalimantan Tengah. Perempuan kelahiran Solo, 27 September 1958 memiliki latar belakang akademis yang baik, ia menyelesaikan S1-nya di IAIN Kalijaga Yogyakarta, lalu S2 di Fakultas Pendidikan IAIN Kalijaga dan pernah menempuh program doktoral di Universitas Negeri Jakarta mengambil Studi Manajemen Pendidikan.

Chairunnisa dikenal sebagai akademisi senior di lingkungan akademis Universitas Palangkaraya, selain sebagai politisi senior Chairunnisa menjabat sebagai Bendahara MUI di Divisi sebagai bendahara pengurus Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI.

Bukan kali ini saja Chairunnisa melakukan perbuatan memalukan, sebelumnya dia juga bermain dalam kasus korupsi pengadaan Al Qur’an yang melibatkan politisi Golkar Dzulkarnaen Djabbar dan anaknya Dendy Prasetya. Chairunnisa dijadikan saksi atas kasus ini.

+++++

Chairun Nisa Diancam Hukuman 20 Tahun Penjara
RABU, 08 JANUARI 2014 | 15:25 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Politikus Partai Golongan Karya Chairun Nisa didakwa menjadi perantara suap terhadap M. Akil Mochtar –bekas Ketua Mahkamah Konstitusi– sebesar SGD 294.050, USD 22 ribu, dan Rp 766 ribu (seluruhnya sekitar Rp 3 miliar). Serta menerima komisi Rp 75 juta dari calon Bupati Gunung Mas terpilih, Hambit Bintih dan Cornelis Nalau Antun.

“Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara kepadanya untuk diadili,” kata Jaksa Penuntut Umum Sigit Waseso saat membacakan dakwaan pada sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2014.

Hambit dan Cornelis dianggap menyuap mantan Ketua MK, Akil Mochtar melalui politikus Partai Golkar, Chairun Nisa. Tujuannya, untuk mempengaruhi putusan gugatan Pilkada Kabupaten Gunung Mas yang diajukan oleh pasangan Alfridel Jinu-Ude Arnold Pisy dan pasangan Jaya Samaya Monong-Daldin. Perkara ini ditangani Akil selaku hakim ketua merangkap anggota, Maria Farida Indrati dan Anwar Usman sebagai anggota.

Hambit berharap gugatan yang diajukan pasangan Alfridel Jinu-Ude Arnold Pisy dan pasangan Jaya Samaya Monong-Daldin ditolak dan putusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Gunung Mas yang menetapkan Hambit dan Arton S. Dohong sebagai pemenang Pilkada Gunung Mas dinyatakan sah.

Pada 19 September 2013, Hambit bertemu dengan Chairun Nisa di sebuah restoran di Hotel Sahid, Jakarta, meminta bantuan mengurus keberatan tersebut dengan cara mendekati pejabat MK. Atas permintaan itu, Chairun Nisa menghubungi Akil. Kemudian, pada 20 September 2013, Hambit menemui Akil di rumah dinas Ketua MK, meminta bantuan terkait permohonan keberatan hasil Pilkada Gunung Mas itu. Lantas Akil menyampaikan agar Hambit mengurusnya melalui Chairun Nisa.

Pada 24 September 2013 Akil menginformasikan ke Chairun Nisa bahwa sidang akan digelar keesokan harinya. Ia meminta disampaikan kepada Hambit, untuk menyediakan uang Rp 3 miliar dalam bentuk dolar Amerika Serikat.

Chairun Nisa menginformasikan pesan Akil kepada Hambit, dan disanggupi. Hambit lantas meminta Cornelis Nalau menyiapkan duit dan menyerahkannya kepada Akil. Karena telah menghubungkan ke Akil, Chairun Nisa memperoleh komisi Rp 75 juta dari Hambit yang diserahkan pada 2 Oktober 2013 siang. “Hambit menyerahkan uang sebesar Rp 75 juta yang dibungkus koran kepada terdakwa terkait pengurusan gugatan Pilkada Gunung Mas di MK RI,” ujar Sigit.

Sigit menyebutkan, pada malam harinya, Chairun Nisa didampingi Cornelis ke rumah dinas Akil untuk mengantarkan duit tersebut. Namun, saat masih duduk di teras menunggu Akil keluar, petugas KPK langsung mencokoknya.

Atas perbuatannya, Chairun Nisa didakwa melanggar pasal 12 huruf c Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun. Bekas Anggota Komisi II DPR RI itu terancam pidana 20 tahun bui.

Menanggapi tuduhan itu, kuasa hukum Chairun Nisa, Soesilo Ariwibowo menyatakan akan mengajukan nota keberatan. “Setelah kami membaca dan mencermati dakwaan penuntut umum, kami akan mengajukan eksepsi,” kata Soesilo. Ketua majelis hakim Suwidya menjadwalkan sidang pembacaan keberatan itu pada Senin pekan depan.

LINDA TRIANITA

 

++++

Percakapan Chairun Nisa dan Akil M

 

Senin, 20 Januari 2014 | 00:26 WIB

Percakapan Akil Mochtar Soal Pembagian Suap

 

 

TEMPO.CO, JakartaAkil Mochtar ternyata medit. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini ogah membagi duit suap yang diterimanya dari Hambit Bintih, bupati inkamben Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang perkaranya ditangani dia tangani.

 

 
Akil, 53 tahun, dua kali menolak permintaan Chairun Nisa, politikus Partai Golkar, yang jadi perantaranya dengan Hambit. Penolakan ini terekam dalam percakapan pesan pendek antara Akil dan Nisa, 55 tahun. Baik Akil dan Nisa membenarkan isi SMS itu ketika diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi pada saat yang berbeda. Berikut percakapan SMS tersebut:

24 September 2013
Nisa: Pak akil, sy mau minta bantu nih..untk (untuk) gunung mas. Tp (tapi) untuk incumbent yg (yang) menang
Akil: Ya pokoknya siapkan 3 ton deh emasnya ya, itu paling kurang
Nisa: Ya..ok..ntar aku bawa truk untk ngangkutnya ya..he..he..
Akil: 3 M (Rp 3 miliar) maksudnya
Nisa: Ya akan sy (saya) sampekan (sampaikan).tp bagi dua ya. He..he..
Akil: Itu kurang, kl (kalau) satu-satu ya 9 M (Rp 9 miliar)

26 September 2013
Nisa: ok deh bsk (besok) sy (saya) coba bicara dg (dengan) beliau (Hambit). Tp (tapi) pak akil kasih aku fee ya…ongkos bawa nya…
Akil: Emangnya belanja? , gawat nih, minta sama dia (Hambit) donk (dong) kan dia minta tolong sama ibu, dan dia ngomong sendiri ke aku lewat ibu aja katanya
Nisa: He..he.. becanda kok pak..

Farid Hasbi, penasihat hukum Chairun Nisa, mengakui kebenaran percakapan tersebut. Namun, dia melanjutkan, kliennya hanya bercanda. “Untuk mencairkan suasana,” ujar Farid.

Sedangkan Adardam Achyar, penasihat hukum Akil, tak mau membenarkan atau menyangkal rangkaian sms tersebut. “Biarkan proses hukum yang berjalan,” katanya. (Baca juga: Ngotot Minta Duit, Akil Nge-PING)

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: