Rosano Barack

Pengusaha kroni ORBA, salah satu pendiri group Bimantara, bersama Peter Gontha dan Bambang Trihadmodjo (anak Presiden Soeharto)

Namanya tidak banyak muncul di media setelah 1998.

+++++++

Tutut named suspect in
$306m corruption case

The Jakarta Post, Jakarta | National | Sat, February 17 2001, 7:10 AM

JAKARTA (JP): The Attorney General’s Office named former president Soeharto’s daughter Siti Hardiyanti “”Tutut”” Rukmana on Friday as a suspect in a corruption case over a US$306 million project involving state oil and gas company Pertamina.

“”Our investigation has led us to name her as a suspect in the case,”” Mulyohardjo, spokesman of the office, said.

Other suspects in the scam are former president of Pertamina Faisal Abda’oe and Rosano Barack, president of PT Triharsa Bimanusa Tunggal.

In 1987 Pertamina had a plan to construct a 320-kilometer long fuel pipeline in Java. Tutut was head of the consortium in charge of the project, and also the commissary of PT Triharsa Bimanusa Tunggal (PT TBT). The company was later appointed by Pertamina to carry out the work.

But PT TBT in 1992 applied for the cancellation of the agreement, saying it couldn’t acquire enough foreign loans to finance the project.

The company claimed that it had finished 14 percent of the work and demanded that Pertamina pay work value compensation as much as $36.69 million.

Abda’oe made the payment on Jan. 7, 1993.

“”It turned out that they had conducted only 6.4 percent of the work, not 14 percent,”” Mulyohardjo said, adding that the amount that should be paid was only $14 million.

The state suffered at least $22 million in losses.

In the morning the office summoned Tutut for questioning as a witness on Friday, but her lawyer Amir Syamsudin said she was sick.

“”We have repeatedly summoned her, but she always fails to appear,”” Mulyohardjo said.

He said that based on further investigation in the day, prosecutors decided to name Tutut as a suspect not a witness.

“”We will summon her again for questioning,”” he said without elaborating.

Soeharto’s youngest son Hutomo “”Tommy”” Mandala Putra was sentenced by the Supreme Court last year for graft in a 1995 land exchange deal which caused the state to suffer Rp 76.7 billion (US$8.07 million) in losses. A few days after President Abdurrahman Wahid turned down his request for clemency, Tommy disappeared.

He is still at large.

On Wednesday, Tutut’s younger brother Sigit Harjodjudanto was grilled by the Attorney General’s Office for his alleged part in the alleged $113 million mark-up of the Balongan oil refinery project in Indramayu, West Java.

The Attorney General’s Office is scheduled to question former mining and energy minister Ginandjar Kartasasmita, who is studying in Harvard University, Boston, over the same case on Tuesday.

Two weeks ago, the national police questioned Bambang Trihatmodjo for nearly three hours in connection with the acquisition of the assets of textile company Kanindotex, but Soeharto family lawyer Juan Felix Tampubolon insisted that Bambang was questioned only as a witness in the case.

Soeharto was to be sent to court last year in a US$571 million corruption case but the South Jakarta District Court refused to try him on the grounds that he was too sick to stand trial. The Supreme Court earlier this month ordered state prosecutors to provide medical treatment until he is declared fit enough to stand trial.

Failure

Earlier on Friday, the Indonesia Corruption Watch (ICW) called on President Abdurrahman Wahid to replace Attorney General Marzuki Darusman for his failure to settle corruptions cases and to uphold the law.

“”We need a new Attorney General who has vision, high moral integrity, credibility, courage and who is professional in eradicating corruption,”” ICW Coordinator Teten Masduki told a press meeting at his office.

He said the President should replace Marzuki if he is serious in his efforts to accelerate the fight against corruption, collusion and nepotism.

Teten also accused Marzuki of having a conflict of interests because as one of top executives in the Golkar party, on the one hand Marzuki must develop the party, but on the other hand he has to investigate and send other Golkar’s executives to court.

Teten said that prosecutors had a certain working pattern in their handling of corruption cases: charging them in obscure indictments to allow judges to twist the criminal elements in the prosecutors’ charges into a civil case.

This was reflected in the judicial process of the defendants in the Bank Bali Rp 904 billion case which ended in the court’s exoneration of defendants Djoko S. Tjandra and Pande N. Lubis.

ICW had also listed hundreds of names allegedly involve in 15 corruption cases the Attorney Office failed to question.

Among the 15 cases were the corruption scam at the State Logistic Agency, the US$6 billion corruption at state-own oil mining company Pertamina, the bribery of former Attorney General M. Andi Ghalib, Rp 572.2 billion corruption at state-owned Bank Rakyat Indonesia, Rp 9.6 trillion corruption at Texmaco group company, corruption at the Clove Buffer Stock and Managing Agency, corruption scam at Paiton 1 hydraulic power plant project, corruption at Exor Balongan oil refinery project, corruption at Freeport, Rp 138 trillion corruption in the Government Liquidity Support Funds and Rp 7.1 billion corruption at state-owned insurance company PT Jamsostek.(01/sim)

+++++

Tiga Ksatria Plaza Indonesia

July 29, 2010 by rustika herlambang

Kompetisi dalam Harmoni

Mereka tidak hanya sama visi dalam membangun bisnis, tapi juga kesenangan.

Suasana terasa dingin dan mencekam. Wajah-wajah tegang hilir mudik memasuki ruangan, ingin memastikan bahwa segala sesuatunya sudah berada pada tempatnya. Di sebuah ruang karaoke, private room, restoran Immigrant, dewi menanti pertemuan ini. Sendirian, membuat ruangan terasa semakin dingin dan menegangkan. Salah satu staff Public Relation Plaza Indonesia, Titie Ndari, berkali-kali mohon maaf. Katanya, sungguh tidak mudah meminta ketiga pria ini hadir di sini. “Pak Chano, bahkan sudah 20 tahun tak pernah mau diwawancara,” tegasnya, menyebut nama Rosano Barack, salah satu petinggi Plaza Indonesia yang dijadwalkan wawancara petang itu.

Itulah kisah pembuka pertemuan dengan tiga petinggi PT Plaza Indonesia Royalty, dalam rangka menyambut 20 tahun pusat perbelanjaan bergengsi tersebut beberapa waktu lalu. Ketiga pria tersebut adalah Franky Oesman Widjaja (Presiden Komisaris), Rosano Barack (Presiden Direktur), dan Boyke Gozali (Wakil Presiden Direktur). Ketika akhirnya Chano memasuki ruangan dan menyapa hangat, suasana sedikit mencair. Franky dan Boyke menyusul dua menit kemudian.

“Kita sebaiknya duduknya satu pandang dengan dia. Jangan terpisah-pisah, supaya bisa terlihat dari kanan kiri. Tujuannya itu,” Franky seolah mengatur tempat duduk untuk ketiganya. Empat cangkir coklat panas dipesan. “Kita terbiasa kompak,” kata mereka, hampir berbarengan. “Kebetulan saya sudah mengenalnya. Kami pernah ngopi bareng,” Chano memperkenalkan dewi – sebuah kalimat yang langsung mengubah suasana yang saat itu terasa tegang menjadi cair dan penuh tawa. Hangat. Mungkin zat-zat dalam kandungan coklat sudah bereaksi sehingga memberi rasa nyaman dan bahagia.

Keakraban itu kembali di antara mereka, membuang kekakuan yang terasa pada awal pertemuan. “Bahkan sebelum Plaza Indonesia lahir, kami sudah bersahabat,” Franky membuka perbincangan, mengomentari kedekatan mereka. “Kami bertiga tak terpisahkan. Kalau boleh dibilang… kami ini seperti The Three Musketeers,” ia mengingatkan kisah persahabatan Arthos, Porthos, dan Aramis, dalam novel The Three Musketeers karya Alexandre Dumas, dengan motto yang sangat terkenal “all for one, one for all”.

Begitulah. Mereka bersahabat sejak 27 tahun lalu. Ketika itu ketiganya terlibat dalam proyek yang sama: Plaza Indonesia – di mana pada waktu itu idenya berasal dari konsep the center of Jakarta. Para “pendahulu” mereka, yakni Eka Widjaja, Santosa, Bambang Trihatmadja, dan Chano, menantang para pria yang baru lulus kuliah bisnis di Amerika dan Jepang untuk menerjemahkan konsep tersebut. “Karena kami lulusan Jepang, maka shopping center yang ingin kami bangun harus kualitas nomor satu,” kisah Franky. Kini, 20 tahun kemudian, Plaza Indonesia masih eksis dan salah satu terbaik di antara pusat perbelanjaan yang kian menjamur di Indonesia.

Bagi ketiganya, acara ini bukan hanya soal keberhasilan mengelola Plaza Indonesia dengan baik, namun juga mengelola kebersamaan dalam rentang waktu yang panjang. Rahasianya: saling menghormati, saling mempercayai, dan ada chemistry. “Ada pepatah Cina (ia mengucapkan dalam bahasa Mandarin) yang artinya seribu cangkir anggur tak akan cukup manakala teman sejati bertemu, namun setengah kalimat terlalu banyak bila tak ada pertemuan pikiran.  Kalau chemistry cocok, seribu gelas arak kamu minum kamu akan tetap baik-baik saja, “jelas Franky.

Tak pernah ribut? Pertanyaan ini rupanya memancing keributan di antara mereka. Masing-masing berebut bercerita mengenai pengalamannya. Chano menjawab paling cepat dan nada suara yang tinggi,”Ooo, sering! Aduh.. Kadang-kadang saya yang benjol, kadang dia babak belur, kadang dia masuk “rumah sakit”. Ha ha ha. Tapi pada waktu masuk “rumah sakit”, saya jadi sadar. Benar, saya yang salah. Pantas saya saya digebukin. Kita nggak takut minta maaf.” Lalu Boyke angkat suara, seperti biasa, dengan gaya kalemnya menjelaskan,” Walau sering ribut di dalam meeting, kita bicara sebatas hal kebenaran untuk perusahaan. Tidak ada unsur personal, salah benar diterima. Jadi kalau babak belur ya babak belur. Saling memarahi, no personally.”

Meski bersama-sama mengelola PT Plaza Indonesia Royalty tbk, ketiganya juga aktif di perusahaan masing-masing. Franky menjabat sebagai Presiden Direktur PT Sinar Mas dan Presiden Komisaris PT Smart Tbk. Rossano memiliki banyak kesibukan, yakni sebagai Presiden Komisaris PT Global Mediacom Tbk., Presiden Direktur PT Plaza Nusantara Realty, Presiden Komisaris PT Media Nusantara Citra Tbk., Presiden Direktur PT Nusadua Graha International, Presiden Komisaris PT Media Nusantara Citra Tbk., dan Presiden Komisaris PT Panasonis Manufacturing Indonesia. Sementara Boyke masih aktif sebagai Presiden Komisaris PT Indonesia Paradise Island, Direktur PT Plaza Nusantara Realty, Wakil Presiden Komisaris PT Mitra Adi Perkasa Tbk., dan anggota Dewan Penasehat Sekolah Tiara Bangsa.

“Pasti ada persaingan, namanya juga masalah bisnis. Namun tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan,”Chano menanggapi kesibukan kedua patnernya. Meski demikian, mereka sepakat bahwa adanya Plaza Indonesia menjadi clue untuk yang lain. Filosofi mereka kompetisi dalam harmoni. Kompetisi pun tidak akan maju tanpa ada kompetisi, harus ada harmoni agar kompetisi itu tumbuh. “Anda lihat kan kami saling berkompetisi? Bahkan dalam wawancara ini pun kami menjawab saling rampas-rampasan. Ha ha ha…” tawa pun pecah mendengar komentar Franky.

Meski wawancara berlangsung singkat, spontanitas ini menguak perbedaan karakter di antara mereka. Chano, seperti dikatakan oleh dua sahabatnya, memiliki sifat yang direct straight forward, tak ada basa-basi, namun hatinya jujur. Itulah yang menjadi kekuatannya. Ia juga seorang risk taker.  “Sebagai presdir, karakter seperti itulah yang kita perlukan. Tegas. Tapi with a lot of passion. Itu kalau tak ada cintanya main tubruk saja,”komentar Franky. Menghadapi Chano yang panasan, keduanya mengaku memilih mundur dahulu. Setelah tenang, barulah mereka memberi tahu.

Sementara Boyke, dianggap sebagai orang yang bijak dan selalu tertawa. “Saya dan Franky paling seneng marah-marah. Boyke seperti air yang mendinginkan,” ujar Chano cepat. Sementara itu Franky di mata mereka adalah tipe orang yang teliti dan pekerja keras. Hobinya  hanya satu: Kerja. “Dia yang bisa bikin kita terganggu (distract). Yang kita pikir yang begini sudah maksimum, dia bisa membuat kita bisa lebih lagi.  Tapi, kalau tidak begini, tidak mungkin kita bisa berjalan hingga 20 tahun. Kalau dia bilang kita harus coba lagi, ya kita harus coba,” Chano menjelaskan, sebelum akhirnya Franky menjelaskan dirinya sendiri,” Saya ini orangnya cukup insist dan persistent.  Sejak 27 tahun lalu, saya sudah ngomong begini. Cerewet juga. Kalau saya belum capai, saya masih terus cerewetin.”

Tak hanya soal kerja, kesenangan pun mereka lakukan bersama-sama. Berkeliling dan survey ke berbagai negara seperti Amerika untuk menyamakan visi dan sudut pandang tentang usaha yang mereka jalankan sering dilakukan. Tak jarang mereka mengajak pasangan masing-masing untuk bertemu dan berkumpul. “Kadang istri pengaruhnya besar. Kalau mereka percaya pada kami, maka semuanya akan berjalan lancar. Kebetulan para istri juga bersahabat. Jadi kalau suatu hari saya pergi dengan Boy dan Chano, istri tenang,” tambah Franky.  “Selain bisnis, secara pribadi kita juga dekat. Tidak melulu bicara bisnis saat ketemu. Bisa stress, berantem juga nantinya,” ungkap Chano.

Dalam kegiatan sosial, mereka juga bersatu, kendati berbeda keyakinan. Bila Bila Yayasan Budha Tzu Chi milik Franky sedang ada acara, Boyke dan Chano ikut berpartisipasi menyumbang. Franky dan Boyke juga ikut membantu ketika Chano disibukkan oleh acara pengajian jemaah haji. Ketika Boyke mengadakan acara natal, dua pria lainnya hadir. Berkali-kali mereka saling membantu ketika di antara mereka mengadakan aksi sosial. “Lebihnya Pak Franky. Dia turun tangan sendiri. Bisa dibilang lebih giat.  Kalau saya… malas, pilih memberi dana sajalah. Saya malu sama Pak Franky kalau duduk di sana. Makanya saya minta ampun, mending nggak setor muka. Gak tahan lihat dia kerja sendiri.. ha ha ha..” Chano tertawa.

“Kita adalah kombinasi dari persahabatan, persaudaraan, dan patner bisnis. Tidak mudah mencari orang seperti kita bertiga untuk menjadi teman yang akrab. Ini salah satu prestasi. Saya pikir, kesuksesan Plaza Indonesia berawal dari situ. Semua staf melihat persatuan yang di atas. How strong we are,” simpul Boyke.

Lalu seperti diingatkan, “Sebenarnya beginilah suasana diskusi yang terjadi di antara kami selama 27 tahun ini. Banyak yang kita lakukan tanpa disadari dan dibicarakan. Bukan sesuatu yang diskenariokan, tapi memang sangat dinamis. Di ruangan meeting direksi pun (suasananya) seperti ini.”

Termasuk meeting di karaoke? Tawapun kembali berderai di ruangan itu. “Ini kan supaya suasana lebih santai,” ungkap Franky. Perbincangan pun berangsur ringan. Mereka berbicara mengenai hobi: dua menyukai gym, satu mencintai golf. “Pak Franky teteplah, hobinya kerja,” ujar Chano yang langsung ditanggap oleh Franky dengan cepat,”I can play hard, I can work hard. Itu yang penting. Walau memang dari kecil saya hobinya kerja.” Sementara urusan belanja, Franky dan Boyke menurut pada Chano. “Dia hobi dan jagoan soal belanja. Kacamata ini juga dari dia. Mungkin dia tak mau saya lupakan, jadi dia memberi saya kacamata. Ha ha ha..,” ujar Franky yang juga kolektor wine. Tak mau ketinggalan, Boyke memamerkan sepatu yang dikenakannya, hasil pilihan Chano.

“Saya suka fashion. Kami mendukung seluruh tenant kami. Enam puluh persen lebih tenant kita lebih 15 tahun. Dan they are happy,” kata Chano. Keberhasilan itu, katanya, karena mereka cukup antisipatif ketika krisis melanda negeri ini, salah satunya memberikan harga spesial, kendati mereka juga dibelit kewajiban lainnya. Chano adalah tipe pria flamboyan yang gemar berdandan, sementara dua sahabat lainnya menyukai gaya konservatif, dengan warna putih, hitam, biru. “Meski satu warna, tapi masing-masing warna dia punya 10. ha ha ha,” ungkap Chano yang juga dikenal sebagai kolektor jam mewah

Suasana ini kian memanas ketika akhirnya bercerita tentang tipe perempuan yang disukainya. Secara bersamaan mereka menyembut satu nama, yang kemudian disambung dengan suara tawa terbahak-bahak. “Kami tiga-tiganya sama selera. Perempuan yang menarik pertama very friendly, sangat outgoing, sangat lemah lembut, tapi tegas… Inilah nikmatnya berbisnis di dunia gaya hidup, kami bisa lihat perempuan-perempuan cantik. Ha ha ha..” Kegaduhan yang terjadi mengundang Direktur Plaza Indonesia, Mia Egron, memasuki ruangan. Ternyata wawancara harus dihentikan. Berbagai agenda sudah memenuhi jadwal mereka. Namun, begitulah akhirnya. Mereka beranjak pergi dengan senyuman yang begitu berarti. Pertunjukan ini berakhir dengan happy ending. (Rustika Herlambang) Fotografer: Anton Jhonsen. Stylist: Karin Wijaya

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: