Pia Akbar Nasution

Lawyer ABNR
++++++++++++++++++++++++++++++++
Pia A.R Akbar Nasution: Dicium Ayah di Ruang Rapat (1)
Senin, 03 Mei 2010
pia

Pia A.R Akbar Nasution (Foto: Ahmad Fadilah/NOVA)

Inilah Pia A.R.Akbar Nasution, S.H., LL.M (41) salah satu pengacara Gayus Tambunan, pria yang diduga telah menggelapkan uang pajak sebesar Rp 28 M. Sebelum bergabung di Adnan Buyung Nasution & Partners (ABNP) Law Firm, ibu dua anak ini rela keluar-masuk perkantoran untuk melamar pekerjaan. Lalu mengapa lawyer ini istimewa di mata Adnan Buyung Nasution?

Kenapa Anda tertarik menjadi lawyer?
Saya tertarik bidang hukum sejak SMA. Kalau tak salah kelas 2 SMA. Gara-garanya, saat Abang (Adnan Buyung Nasution, Red.) membela H.R. Darsono di pengadilan, saya melihat sesi tanya jawab di persidangan menarik sekali. Sejak itulah saya ingin jadi lawyer seperti Abang.

Anda menyapa ayah dengan sebutan ‘Abang’? Mengapa?
Iya. Itu hanya sebutan saya di kantor ketika membahas satu masalah. Di rumah, ya tetap menyapa ‘ayah’. Sebutan Abang termasuk dalam negosiasi saat saya akan masuk di Adnan Buyung Nasution & Partners (ABNP) Law Firm.

Setelah lulus sarjana, langsung bergabung di ABNP?
Setelah lulus dari Universitas Atmajaya saya bekerja di Law Firm Subagyo, Roosdiono, Jatim and Djarot dari tahun 1993 hingga 1997. Itu law firm yang kliennya berbagai perusahaan multinasional. Jadi saya tak tampil di pengadilan. Ketika Abang menyelesaikan S3-nya, dia pulang ke Indonesia lalu mengajak saya bergabung di law firm-nya. Tapi, saya tak langsung menerima.

Saya ingin digaji lebih tinggi dari law firm tempat saya bekerja sebelumnya. Saat itu, kan, saya sudah ada “harganya”. Setelah tawar-menawar selama seminggu, akhirnya Abang mau menggaji saya sebesar di kantor lama. Statusnya tetap lawyer percobaan selama tiga bulan. Kalau kerjanya baik, gaji akan dinaikkan. Tahun 2001 saya meneruskan S2 di Bond University, Gold Coast, Australia.

Apa kasus pertama yang Anda tangani di ABNP?
Basic saya, kan, corporate, tapi di ABNP setiap lawyer diharuskan bisa menangani segala kasus, tidak boleh menspesifikasikan diri. Nah, setelah lima tahun bergabung di ABNP, saya dan Sadli Hasibuan, S.H., diterjunkan untuk membela kasus pidana.

Kami menjadi kuasa hukumnya Komjen Suyitno Landung (Mantan Kabareskrim Polri 2004-2005, Red.) yang ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan wewenang saat menangani kasus pembobolan Bank BNI. Saya dicemplungkan di kasus ini tanpa didampingi Abang. Hasilnya, meski Suyitno dihukum, tapi hukumannya berkurang dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum.

Mengingat Anda putri bos, apakah lawyer dan karyawan di ABPN lain menjadi segan?
Oh tidak. Malah kadang jadi bahan ledekan. Di awal-awal saya bekerja Abang sering keceplosan, sih. Bayangkan, ketika saya sedang memimpin rapat, tiba-tiba dia masuk, lalu mencium saya, sesudah itu pergi begitu saja. Teman-teman, kan, jadi tertawa. Makanya, dulu saya suka bertengkar sama Abang. Kebiasaan itu harus dikurangi.

Abang memperlakukan saya seperti lawyer lainnya. Ruangan dan fasilitas untuk saya pun sama. Abang, kalau sedang mengamuk, ya, ngamuk. Pernah terjadi, saat menangani kasus pidana di Makassar, hasilnya di luar perkiraan kami. Strategi kami tak sesuai target.

Saat melapor ke Abang melalui telepon, dia marah besar. Suaranya menggelegar. Kami mendengarkan kemarahannya sampai terjongkok-jongkok. Begitu telepon ditutup, kami ketawa-tawa karena sampai jongkok-jongkok saat mendengarkan kemarahannya. Toh, Abang tidak melihat polah kami. Ha ha ha.

Di masa awal bekerja, Anda terbebani nama besar ayah?

Pia nasution

Adnan Buyung bersama Pia dan ABNP Law Firm (Foto: repro)

Tidak. Asal tahu saja, saking gengsinya minta tolong ke Abang, saya keliling dari gedung perkantoran satu ke gedung lainnya di sepanjang Jln. Sudirman, Jakarta sekadar mencatat law firm. Malamnya saya bikin surat lamaran. Paginya saya antar sendiri surat lamaran itu. Saya tak mencantumkan nama Abang di Curiculum Vitae. Tapi saya, kan, tak bisa menyembunyikan nama Abang di ijazah.

Bagaimana cara ayah memperkenalkan Anda ke koleganya?
Ketika pertama kali saya dibawa Abang ke Mabes Polri untuk menangani kasus Gayus, kepada penyidik Abang memperkenalkan saya begini, “Kenalkan, ini partner kerja yang kebetulan anak saya.”

Atau setiap kali Abang mendapat undangan standing party di berbagai kedutaan, saya diajak untuk mewakili ibu yang sudah tak kuat berdiri lama. Nah, biasanya sebelum orang berpikiran lain, saya langsung memperkenalkan diri sebagai anak Abang.

Soalnya, setiap kali jalan sama Abang, saya selalu menggandeng tangannya. Termasuk saat jalan di mal. Jadi jangan salah, ya, kalau melihat Abang bergandengan tangan dengan saya di tempat umum.

RINI SULISTYATI / Bersambung

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: