Djoko Pramono

Mantan komandan Marinir 1994-1996/

 

+++++++++++++++++

Biografi dari Kompas

Kompas, 05 Desember 2011

“Tangan Dingin” Djoko Pramono

MAYOR JENDERAL (PURNAWIRAWAN) DJOKO PRAMONO
Lahir : Surabaya, 5 Agustus 1942
Istri : Pudja Riah, SH
Pendidikan :
– 1956-1966 : SD-SMA di Bandung
– 1966 : Akademi Angkatan Laut XII, Surabaya
Pekerjaan, antara lain :
– 1970: Instruktur Pendidikan komando dan Hutan, Pusat Pendidikan Korps
  Komando (KKO)
– 1994-1996 Komandan Korps Marinir
– 1998-1999 Inspektur Jenderal Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi
– 1999-2000 Sekretaris Jenderal departemen Pariwisata, Seni dan Budaya
Riwayat keolahragaan, antara lain :
– 1972-1975 Sekretaris Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Jakarta
  Selatan
– 1979-1981 Ketua Cabang Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI)
  Surabaya
– 198902000 Sekretaris Jenderal Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia
  (PABBSI)
– 1996-2007 Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Selam Seluruh
  Indonesia (POSSI)
– 1996-1997 Komandan Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) SEA Games,
  yang membawa Indonesia juara umum
– 2001-2006 Pembina Olahraga Air dan Wisata Bahari di Nongsa, Batam
– 2003-2007 Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Komite Olahraga Nasional
  Indonesia
– 2003 Komandan Pelatnas SEA Games, Vietnam
– 2005 Komandan Pelatnas SEA Games, Filipina
– 2002-2007 Wakil Ketu Umum KONI Pusat membidangi Pembinaan Prestasi
  dan Penelitian Pengembangan
– 2007-2011 Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Layar Seluruh
  Indonesia (PB PORLASI)
– 2007-2008 Komandan Pelatnas 1st Asian Beach Games Bali 2008
Hiruk pikuk perhelatan SEA Games XXVI/2011 usai sudah. Gegap gempita di arena pertandingan tak lagi terlihat. Kehidupan kembali normal seperti sediakala. Keramaian selama 11 hari, 11-22 November 2011, yang didahului persiapan dan ditutup dengan gelar juara umum bagi kontingen tuan rumah Indonesia, tak lepas dari peran Djoko Pramono. Bisa dikatakan dialah “otak” perhelatan itu.
 
OLEH HELENA F NABABAN DAN MAHDI MUHAMMAD
 
Bayangkan saja, hingga beberapa hari menjelang pesta olahraga yang tak lain perhelatan bangsa indonesia ini, arena belum siap. Peralatan,khususnya pencatat waktu dan skor, belum terpasang semuanya. Belum lagi masalah teknologi informasi terkait dengan proses akreditasi atlet dan kontingen yang juga tak berlangsung mulus.
     Panitia kalang kabut. Djoko yang bertanggung jawab membidangi Sport dan Venue pada Panitia Penyelenggara SEA Games XXVI/2011 bertindak. Menggunakan sistem tekonologi informasi, akreditasi dilakukan setengah manual.
     “Mau enggak mau, suka tidak suka, saya harus cepat mengambil tindakan. Kalau enggak, semua berantakan,” katanya.
     Keluhan juga menghampirinya saat pelaksanaan. Ketika SEA Games berjalan pun telepon Djoko tak berhenti berdering. Mulai dari pengaduan masalah penginapan dan uang saku atlet hingga masalah medali yang belum selesai disepuh.
     Hasilnya, perban yang membalut sisa suntikan infus masih terpasang di tangan kanannya saat kami berkunjung ke ruang kerjanya di gedung KONI Pusat lantai 11, Jakarta, awal pekan ini.
Sigap dan cepat
     Bisa dikatakan, tanpa Djoko, seluruh penyelenggaraan pesta olahraga itu bakal kocar-kacir. Ia bisa langsung memutuskan bagaimana peralatan diadakan.
     Bagi purnawirawan jenderal TNI Angkatan Laut ini, tanggung jawab yang diembannya kali ini memang berbeda dengan tanggung jawabnya saat SEA Games 1997 ataupun SEA Games 2003 dan 2005.
     Pada ketiga persiapan dan pergelaran SEA Games itu, Djoko didaulat menjadi komandan pelatnas. Dia langsung mengawasi persiapan dan latihan para atlet. Selain mengawasi, dia juga bertanggung jawab untuk memotivasi para pejuang “Merah Putih”.
     Kesigapannya dalam menyelesaikan permasalahan seputar persipan acara tidak lain karena ditempa selama berkarier di jalur militer. Tidak ada dalam kamusnya sikap plin-plan dalam menyikapi dan menyelesaikan satu persoalan. Apalagi semangat perjuangan seorang atlet berbalut jiwa Marinir yang kukuh bertekad membela bangsa.
     “Kalau dulu saya betul-betul hanya memperhatikan atlet, berbeda dengan sekarang. Saya terfokus di arena pertandingan dan tidak kepada para atlet,” ujar Djoko.
     Tugas lebih fokus mengurusi arena rupanya tetap membebani pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu. Ia tetap terpacu mengupayakan segala daya dan asa untuk menyelesaikan arena yang kacau-balau. Sentuhan “tangan dinginnya” ibarat obat mujarab bagi persiapan yang tak kunjung beres.
Dari atlet untuk atlet
     Olahraga bagi Djoko bukan barang baru. Menjalani masa muda hingga usai pendidikan menengah atas di Bandung; renang, basket, dan judo adalah menu harian. Struktur tubuh yang tinggi tegap memungkinkan dia menjadi atlet dari cabang itu.
     Adalah MF Siregar, yang biasa dipanggil Opung olehnya, meminta Djoko memfokuskan diri untuk memperdalam kemampuan dalam cabang olahraga polo air.
     “Kata Opung, teknik renang dan cara menggolkan bola ke gawang saya sudah bagus. Cuma perlu terus dipoles,’ tuturnya mengenang almarhum.
     Meski besar di “Kota Kembang”‘ dia tak sempat memperkuat Jawa Barat. Kariernya di olahraga dimulai ketika Djoko menjalani pendidikan di Akademi Militer TNI AL di Surabaya, 1962-1966.
     Dia kembali ke “habitatnya” di polo air. Ia sempat dikenal sebagai goal getter bagi skuad polo air TNI AL. Kemampuannya menjebol gawang inilah yang kemudian membuatnya dilirik untuk memperkuat kontingen PON Jawa Timur.
     Tugas teritorial yang diemban tahun 1966-1980, termasuk Operasi Seroja di Timor Timur (1977), membuat Djoko banyak meninggalkan kegiatan keolahragaan.
     Namun, saat bertugas sebagai Komandan Kompi Protokoler Departemen  Pertahanan Keamanan (1970-1974), dia memoles tim bola voli protokoler Hankam.
“Bersama saya, voli di Hankam itu (maju) pesat. Kalau ada pekan olahraga antar-angkatan, kami selalu menang,” ungkapnya.
     Kemampuan itu mengangkatnya menjadi Sekretaris PBVSI Cabang Jakarta Selatan. Seusai kegiatan teritorial, ia kembali ke Surabaya dan didaulat menjadi Ketua Klub Renang Hiu Surabaya. Banyak perenang andal Indonesia muncul dari klub ini.
     Tak hanya moncer dalam karier militer, yang membuat Djoko diangkat menjadi Komandan Korps Marinir (1994-1996) dan kemudian sebagai inspektur jenderal (1996-1998) dengan pangkat mayor jenderal, karier keolahragaannya pun terus melesat. Bersama Bob hasan, taipan masa Presiden Soeharto, ia berhasil membesarkan olahraga angkat besi.
     Mendampingi Bob Hasan di PB Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia sebagai sekjen, Djoko tertantang membuat cabang di luar cabang olahraga tradisional penghasil medali, bulutangkis, itu tampil di olimpiade. Angan-angan suatu ketika lifter Indonesia bisa tembus ke olimpiade bukan kecap saja.
     Seperti diakui Djoko, dengan pembenahan sistem pembinaan, mulai dari perhatian soal makanan, asupan nutrisi, hingga pola latihan selama enam tahun mulai 1994, tiga lifter putri berhasil menembus Olimpiade Sydney 2000. satu perak dan dua perunggu berhasil dibawa pulang oleh kontingen “Merah Putih” dari cabang angkat besi.
     Kemampuan memoles cabang olahraga dari nol menjadi berhasil itulah yang membuat dia semakin dipercaya memegang posisi penting di organisasi induk olahraga. Sesudah angkat besi dan binaraga, dia didaulat memegang olahraga selam.
     Kini, di tengah kesibukannya berkaitan dengan SEA Games beserta segala karut-marutnya itu, dia dipercaya memegang induk cabang olahraga layar (PB Porlasi) untuk kedua kali.
     Perhelatan dua tahunan telah usai dan Djoko pun kembali pada kesibukannya semula, mengurus olahraga layar. Sekali lagi dia menginginkan para atlet muda layar bisa berlaga di olimpiade, menyusul I Made Oka Sulaksana yang berkali-kali mencicipi perhelatan empat tahunan itu.
     Memunculkan atlet layar muda Indonesia ke pentas dunia menjadi obsesinya.
Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 6 DESEMBER 2011
Diposkan oleh di 20.24

Tidak ada komentar:

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: