Soetrisno Bachir

Politikus dan Pengusaha.

Sutrisno Bachir (SB)(lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia, 10 April 1957; umur 56 tahun) adalah seorang pengusaha dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) untuk periode 20052010.

+++++++++++

 

Profil dari Harian Merdeka

 

Nama Lengkap : Sutrisno Bachir

Alias : No Alias

Profesi :

Agama : Islam

Tempat Lahir : Pekalongan, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Rabu, 10 April 1957

Zodiac : Aries

Warga Negara : Indonesia
Istri : Anita Rosana Dewi
Anak : Meisa Prasati, Layaliya Nadia Putri, Maisara Putri, Muhammad Izzam

BIOGRAFI

Soetrisno Bachir lahir di Pekalongan pada 10 April 1957, putra dari pasangan (Alm) Bachir Achmad dan Latifah Djahrie. Pada periode 2005-2010 ia menjabat sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).

Ia banyak menghabiskan waktunya di sekitar Pekalongan. Ia menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD) 1969, SLTP 1972 dan SLTA 1975 semuanya di Pekalongan. Sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, namun tak sampai selesai. Dia kembali ke Pekalongan untuk menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan (Unika), Jawa Tengah.

Soetrisno lahir dan dibesarkan dari keluarga pedagang di Pekalongan, Jawa Tengah. Keluarganya anggota Muhammadiyah, namun punya garis NU dari salah satu pihak. Dalam organisasi, pria yang dikenal dengan inisial “SB” tersebut aktif di PII dan HMI. Di Muhammadiyah, ia menjadi anggota Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah. Ia juga sempat menjadi seorang tokoh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Sebelum terjun di dunia politik, ia terlebih dulu menjadi seorang pengusaha. Bersama kakaknya, Kamaluddin Bachir, Soetrisno menjalankan usaha di bidang properti di bawah bendera Ika Muda Group. Sebagai seorang pengusaha, awalnya SB tidak terlalu menunjukkan minat yang besar ketika diminta ikut bersaing dalam kongres PAN untuk menggantikan Amien Rais. Tapi, dia selalu ingat pesan ibunya.

Desakan dan dukungan dari sejumlah pengurus PAN turut menguatkan SB maju dalam perebutan kandidat ketua umum PAN. Ia yakin, partai modern tidak bisa ditegakkan hanya dengan wacana. Sukses partai pada masa depan tidak cukup ditopang popularitas pemimpinnya maupun banyaknya pernyataan yang dikutip media. Partai modern memerlukan kerja nyata yang sistematis yang mampu memahami secara detail kebutuhan masyarakat.

Pendiri Grup Sabira ini terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2005-2010 menggantikan Amien Rais. Dia terpilih melalui voting yang alot dalam Kongres PAN ke-2 di Semarang, 10 April 2005, bertepatan hari ulang tahun kelahirannya yang ke-48.

Riset dan Analisa oleh Nur Laila

PENDIDIKAN
  • Sekolah Dasar (SD) di Pekalongan (1969)
  • Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Pekalongan (1972)
  • Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Pekalongan (1975
  • Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti (tidak tamat)
  • Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan (Unika)
KARIR
  • Pengusaha Batik (1976-1980)
  • Vice President Direktor Ika Muda Group (sejak 1981)
  • Presiden Direktur Grup Sabira (induk bagi 10 perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, * investasi, perdagangan, konstruksi, properti, ekspor impor, pelabuhan, dan agrobisnis)
  • Ketua Umum DPP PAN (2005-2010)

Organisasi:

  • Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)
  • Partai Amanat Nasional

++++++++++++++++++

Sumber Jawa Pos

 

Takut Pusing, Minta Kader Tak Hitung Nilai Kontrak
Sumber: Jawapos, 26 Mei 2008
Tak mudah membuat deal antara pimpinan sebuah partai politik dan lembaga profesional seperti Fox Indonesia. Apalagi, itu menyangkut jumlah uang yang sangat besar.

CANDRA K-A. BOKHIN, Jakarta

SEBELUM dirilis, berbagai gagasan Fox memasarkan Soetrisno Bachir (SB) dipresentasikan di jajaran pimpinan Partai Amanat Nasional (PAN). Rizal Mallarangeng, pimpinan Fox, saat itu mengajukan konsep 3M: money, media, dan momentum.

Meski akhirnya banyak yang mendukung, saat itu tak sedikit kader PAN yang mencibir. Ada pula yang meragukan kredibilitas Rizal Mallarangeng karena dia pernah menjadi tim sukses Megawati -yang akhirnya gagal meraih kemenangan- pada Pilpres 2004.

Terlebih, kakak kandung Rizal, Andi Mallarangeng, saat ini menjadi juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejumlah kader PAN khawatir, Rizal hanya mengejar “proyek” tanpa ada kesungguhan membesarkan PAN dan menaikkan rating SB di mata publik.

Rizal tak menampik anggapan miring tersebut. Dia mengaku banyak terlibat dalam menyukseskan orang menjadi presiden. Termasuk kakaknya yang “dititipkan” ke SBY. “Tapi, saya bekerja sesuai etik dan tanggung jawab profesional. Saya membantu Mas Tris (Soetrisno Bachir, Red) hingga April 2009. Selama itu seluruh pikiran dan energi saya hanya untuk Mas Tris dan PAN,” katanya.

Selesai kontrak, kelanjutan semua kerja sama PAN dengan Fox Indonesia diserahkan kepada SB -panggilan akrab Soetrisno Bachir. “Setelah April 2009 Mas Tris mau apa, saya siap menunggu,” katanya.

April 2009 menjadi tonggak penting kontrak politik antara SB dan Fox. Sebab, saat itu bisa diketahui berapa raihan kursi PAN di DPR. Dengan demikian, hasil kinerja konsep Fox itu bisa dinilai.

Besarnya dana yang digelontorkan untuk program pencitraan diri -konon, mencapai Rp 300 miliar- yang menjadi pembicaraan para kader itu direspons Soetrisno. Dia meminta jajaran internal partainya tetap solid. Dia memastikan, dedikasi, loyalitas, dan pengorbanannya terhadap PAN tidak berkurang hanya karena menggelontorkan sejumlah uang untuk Fox. “Dana untuk partai malah akan bertambah terus,” ucapnya.

Mengenai biaya iklan dan program Fox, Soetrisno meminta jajaran partai tidak iri. Sebab, pasang iklan di televisi, bioskop, koran, radio, dan media luar ruang memang memerlukan biaya tak sedikit. “Biar tak pusing sendiri, Anda sebaiknya tak usah tanya berapa uang yang saya keluarkan. Toh, Anda tak akan mampu menghitung,” seloroh Soetrisno setiap ada kader PAN yang bertanya soal program Fox.

Rizal Mallarangeng mengakui, sekitar 70-80 persen biaya pencitraan diri itu terserap ke biaya iklan televisi. Sebab, biaya satu menit iklan di media elektronik saat prime time bisa Rp 30 juta-Rp 45 juta. Padahal, dalam sehari, rata-rata 180 kali tayang. “Anda bisa hitung sendirilah,” katanya.

SB yang berlatar belakang pengusaha memang sedang bertaruh. Dia tak ingin suara PAN pada pemilu mendatang lebih rendah dibandingkan saat dipimpin Amien Rais. Karena itu, berbagai terobosan terus dilakukan. “Saya sudah kalah segala-galanya dari Pak Amien. Kesempatan saya mengalahkan Pak Amien cuma satu, yaitu merebut kursi DPR lebih banyak,” katanya. Saat ini PAN memiliki 53 kursi di DPR.

Pertaruhan itulah yang mendorong dia mau merogoh kocek pribadi tiada henti. Berapa pun dan kapan pun. “Yang saya lakukan baru jurus biasa-biasa saja. Ini belum termasuk jurus dewa mabuk,” ujarnya.

Lalu, dari mana saja sumber uang SB? Orang hanya mengenal dia sebagai juragan batik bermerek BL (Bachir Latifah) dari Pekalongan, Jateng. Dia memang lahir dan dibesarkan dari keluarga pengusaha batik. Tapi, berkat kerja keras dan kesungguhannya, dia kini telah menjadi pebisnis andal.

Lewat bendera Sabira Group yang bermarkas di gedung Landmark Jakarta, pria kelahiran 10 April 1957 itu merambah ke berbagai bidang usaha. Bisnis utamanya ialah mengeruk uang lewat pasar modal. Saham-saham blue chips selalu menjadi incarannya. Dia juga menanamkan uang ke berbagai perusahaan yang berprospek baik, seperti sektor migas, telekomunikasi, properti, dan perkebunan.

Konsep bisnis Soetrisno umumnya penyertaan modal ke perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek baik. Termasuk bermitra dengan pengusaha-pengusaha papan atas nasional. Dengan pola itu, pundi-pundi periuknya terus membubung.

“Kalau banyak orang kesulitan mencari uang, alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk terus mencari celah mengeluarkan uang,” ucap Soetrisno.

Dia membantu para kader PAN yang maju di ajang pilkada. Lewat zakat, dia membantu para duafa di seluruh negeri. Lewat SB Foundation, dia juga membantu pengembangan kewirausahaan dan beasiswa anak-anak Indonesia.

SB juga membantu permodalan koperasi simpan pinjam syariah di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Untuk kantor DPP PAN, dia telah menghibahkan gedung berlantai tujuh di Jakarta senilai Rp 20 miliar.(el)

+++++++++++++++++++

Kamis, 13/06/2013 14:37 WIB

Jaksa Ungkap Ada Aliran Dana Kasus Alkes ke Sutrisno Bachir

Moksa Hutasoit – detikNews

Jakarta – Penuntut umum pada KPK mempertanyakan kebenaran informasi adanya aliran dana yang pernah dikirim kepada Sutrisno Bachir. Saksi yang bekerja di Sutrisno Bachir Foundation, Yurida Adlaini membenarkannya.

“Benar ada aliran dana ke Sutrisno Bachir,” kata Yurida saat bersaksi untuk perkara dugaan korupsi pengadaan alkes flu burung dengan terdakwa Ratna Dewi Umar di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jaksel, Kamis (13/6/2013).

Saat jaksa membeberkan bukti-bukti transfer pengiriman di depan majelis hakim, Yurida juga membenarkan. Yurida pernah mentransfer uang Rp 222,5 juta ke rekening Sutrisno.

“Betul,” kata Yurida saat ditanya jaksa Kiki Ahmad Yani.

Orang yang paling mengetahui detail soal pengiriman uang itu adalah Nuki Syahrun. Nama Nuki masuk ke dalam dakwaan dari PT Heltindo Internasional yang mendapat keuntungan Rp 1,717 miliar dari proyek pembelian rontgen dari PT Airindo Sentra. Namun rupanya Nuki tidak hadir dalam pemeriksaan kali ini.

++++++++++++++++++++=

 

 

Sidang Alkes Flu Burung
Saksi: Sutrisno Bachir Dapat Aliran Dana Alkes
Headline

(Foto : ilustrasi)
Oleh: Firman Qusnulyakin
nasional – Kamis, 13 Juni 2013 | 15:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saksi Yurida Adlaini dari Yayasan Sutrisno Bachir (Sutrisno Bachir Foundation / SBF) mengaku mengetahui aliran dana dari keuntungan proyek pengadaan alat kesehatan dan perbekalan dalam rangka wabah flu burung Tahun Anggaran 2006 pada Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan.

Menurut dia, salah satu penerima aliran dana itu adalah mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Sutrisno Bachir.

Menurut dia, yang tahu betul maksud aliran dana dari proyek pengadaan itu ke Sutrisno Bachir adalah sepupunya, Nungki Syahrul. Bahkan, duit itu juga masuk ke rekening perusahaan Sutrisno Bachir, PT Selaras Inti Internasional.

“Betul ada aliran dana ke Sutrisno Bachir,” kata Yurida saat bersaksi dalam sidang terdakwa Ratna Dewi Umar, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (13/6/2013).

Jaksa Kiki Ahmad Yani kemudian mencecar Yurida soal aliran dana ke Sutrisno Bachir itu.

“Apa betul ibu Nungki pernah mentransfer uang sejumlah Rp222,5 juta ke rekening Sutrisno Bachir?” tanya Jaksa Kiki. Pertanyaaan tersebut dijawab betul. “Betul,” jawab Yurida.

Yurida pun membenarkan pertanyaan Jaksa Kiki soal ada aliran dana Rp1,3 miliar ke rekening PT Selaras Inti Internasional milik SF.

Yurida yang mengaku kenal Sutrisno Bachir itu tidak tahu apakah perusahaan milik pengusaha itu ikut terlibat dalam proyek alkes flu burung. Menurut dia, aliran dana itu terkait dengan kegiatan bisnis Nungki. [mvi]

 

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: