Milton

Preman dari Maluku. Namanya mencuat karena peristiwa konflik Ambon.

Belum ada biografi atau biodata dari Milton

++++++++++++++++++

dari Ambon Express

AE | TAJUK |

Preman dan Maluku
Nyaris sebulan Ambon, dan Maluku menjadi buah bibir publik Indonesia. Mereka yang di Sigi, Aceh mungkin baru mendengar nama daerah yang bersama tujuh provinsi lainnya mendirikan Republik ini.Bukan dikenal karena kebaikan, kemajuan, atau hal-hal yang berbau positif. Ambon dan Maluku dikenal karena anak mudahnya yang nakal di Jakarta.Dunia gelap, sampai lorong gelap, ada nama Ambon. Wajah garang, tapi tubuh tak besar-besar amat laiknya seorang binaragawan. Ada bertubuh mungil sampai tinggi besar. Kerja mereka berhubungan dengan maut. Maut untuk dirinya, juga untuk orang lain. Tugasnya tidak sederhana. Menagih, bisa juga membunuh. Lakon ini dimainkan oleh anak-anak Maluku.Ada John Kei, Umar Kei, Ongen Sangadji, dan sederet nama beken lainnya di dunia preman. Mereka tugasnya beradu otot, dan beradu kegarangan. Kebetulan face Maluku terlihat garang dan kasar. Padahal orang Maluku terbilang sangat santun. Santun buat siapa saja. Buktinya siapa saja bisa menetap di Maluku tanpa gangguan.

Kehidupan anak-anak Maluku di Jakarta bukan baru sekarang. Mereka sudah lama disana. Hidup dengan maut. Dulu kita kenal Milton, Dedy Hamdun, Ongky Piters, dan beberapa nama lainnya. Setelah mereka generasi berikutnya, Basri Sangadji. Basri dibunuh, kemudian naik John Kei. John Kei beberapa kali berbenturan dengan sesama saudaranya anak Maluku, termasuk Hercules kelompok Flores.

John ditangkap dua pekan lalu. Dia ditembak, dan dijebloskan ke penjara. Jhon diduga terlibat dalam pembunuhan bos PT Sanex Steel, Ayun. Ayun dibunuh di Swissbel Hotel dengan puluhan luka tusukan. Polisi belum memeriksa John, tapi praperadian terhadap penangkapan John telah digelar.

Kasus John belum tuntas, datang lagi peristiwa baru. Penyerangan terhadap sekelompok anak muda Ambon di rumah sakit RSPAD, Jakarta. Dua orang tewas. Ironisnya, penyerangan itu juga dilakukan oleh saudara-saudara mereka dari Ambon. Mereka kini satu per satu diringkus polisi termasuk seorang wanita yang diduga ikut angkat parang untuk membunuh.

Perang sesama anak Ambon terjadi di tanah orang. Mereka hidup dari maut. Tak penting fisik akan hancur oleh kejamnya pekerjaan yang digeluti. Mereka merasa besar, ketika bisa menjalankan perintah panglimanya. Tagih menagih sampai bisnis narkoba digeluti mereka. Kampung Ambon di Jakarta kemudian dikenal sebagai sarang Narkoba.

Ya..anak Maluku di Jakarta selalu diidentikan dengan premanisme. Tapi bukan mereka saja. Ada kelompok Batak, Betawi, dan Flores. Mereka ini kadang akur, kadang juga saling membunuh. Tidak ada teman, yang ada bagimana mereka bisa bekerja menyenangkan bosnya.

BERITA LAIN :
++++++++++
Subject: [INDONESIA-L] TAJUK – Ambon Manise, dalam Tiga Versi
Mime-Version: 1.0
Content-Type: text/plain; charset=”iso-8859-1″
Message-Id: <19990406200458.CVOE23110@hp-customer>
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Content-Transfer-Encoding: 8bit
X-MIME-Autoconverted: from quoted-printable to 8bit by saltmine.radix.net id QAA20963
17-31 Maret 99
Ambon Manise, dalam Tiga Versi Pertikaian kubu Islam dan Kristen di Ambon
kian memanas. Seruan jihad terdengar di mana-mana. Siapa menggelar “pesta”?
KETIKA “dua kubu” radikal dari sebagian kalangan Islam dan Kristen merasa
terpanggil untuk melakukan perang suci (jihad), mungkin sang provikator di
balik kasus Ambon itu kini sedang tertawa. Terutama setelah melihat
eskalasi konflik yang sudah mencapai tingkat sangat mengkhawatirkan itu.
Bayangkan. Kasus yang semula hanya dipicu perkelahian antara sopir angkot
(angkutan kota) dan preman itu akhirnya meluas menjadi perang antara kubu
Islam dan Kristen. Kaum radikal dari kedua kubu menganggap “pesta” �
istilah di Ambon untuk pertempuran Islam dan Kristen � sebagai jihad. Kaum
Islam menganggap, apa yang terjadi di Ambon adalah etnic cleansing, seperti
yang terjadi di Bosnia. Karenanya puluhan ribu kaum muda Islam di Jakarta
dan beberapa kota lainnya menyatakan siap menyabung nyawa untuk menolong
saudara-saudara mereka di Ambon.
Front Pembela Islam (FPI) misalnya. Kelompok yang mengklaim memiliki
anggota sekitar 15 juta orang ini menyatakan siap mengirimkan anggotanya ke
Ambon. “Mereka ini adalah pasukan Islam yang siap mengorbankan nyawanya
untuk membela agama. Tinggal memberangkatkan,” tegas Ketua Umum FPI Habib
Rizieq Syihab sambil menunjuk deretan pemuda yang menemaninya ketika
menerima Tajuk. Para pemuda yang mengenakan kopiah, baju taqwa warna putih
dengan badge dan bros bertuliskan Laskar FPI, ini mengangguk tersenyum
membenarkan ucapan Habib Rizieq.Bukan hanya FPI yang menyiapkan pasukannya. Komite Islam untuk Solidaritas
Dunia Islam (KISDI) pun tak kalah siap. Minggu (7/3) mereka show of force
dengan menggelar aksi long march dari Tebet menuju Masjid Al-Azhar,
Kebayoran. Dua hari sebelumnya, Jumat (5/3), bersama beberapa ormas Islam
lain KISDI juga menggelar Tablig Akbar yang dihadiri ribuan massa Islam
dari berbagai penjuru Jabotabek.
Sungguh sebuah pertunjukan yang menyedihkan. Kedua kubu, Islam maupun
Kristen, diadu domba untuk kepentingan segelintir elite politik di tingkat
lokal maupun pusat. Mereka yang mendesain peristiwa ini, pasti, kini tengah
asyik menikmati kerja mereka melalui layar kaca maupun berita-berita media
cetak. Pertanyaannya: Siapa mereka?
Memang tidak mudah mencari jawab siapa yang berada di belakang geger Ambon.
Ada yang mengaitkan peristiwa Ambon dengan peristiwa Ketapang, Jakarta, dan
Kupang, Nusa Tenggara Timur. Keributan di Ambon, kata versi ini, diawali
perebutan jalur emas yang menjadi lahan rezeki kalangan preman. Yaitu,
daerah Priok-Hayam Wuruk-Gajah Mada-Mangga Besar antara geng preman Ambon
Islam yang dipimpin Basri dan Ongen Sangaji dan preman Ambon Kristen yang
dipimpin Milton, Ongky Pieters, Cornelis, dll. Dua kelompok ini sudah
bertahun-tahun memperebutkan jalur gemuk itu.
Untuk memenangkan persaingan, kelompok Ongen Sangaji berusaha memanfaatkan
Habib Rizieq dengan FPI-nya. Perkenalan Ongen dengan Habib Rizieq sendiri,
menurut Badan Perjuangan Republik Indonesia (BPI Reformasi), diperantarai
oleh Habib Ali bin Alwi Ba�agil. Kelompok Ongen memberikan informasi,
tempat-tempat maksiat di Ibu Kota dibeking oleh kelompok Milton. Hal ini
konon membuat Habib Rizieq marah dan memprotes keras keberadaan
tempat-tempat maksiat itu. Bahkan dua hari sebelum meletus kerusuhan
Ketapang, dalam sebuah acara peringatan Maulid Nabi di Jln. Pembangunan,
Habib Rizieq dkk. menyatakan, sebelum Ramadan Jakarta harus bersih dari
bisnis maksiat.
Sebelumnya, pada Mei-Juni 1998 terjadi aksi perusakan sejumlah diskotek dan
night club di jalur Puncak. Sindikat bisnis hiburan malam menyimpulkan, FPI
yang ditunggangi oleh Ongen berada di belakang aksi itu. Karenanya Milton
cs kemudian melakukan aksi balas dendam dengan menyerang warga muslim di
Ketapang. Dalam penyerbuan itu belasan preman dari kelompok Milton tewas.
Sialnya, peristiwa ini kemudian berkembang menjadi kerusuhan berbau SARA.
Karena, tersiar kabar, preman-preman itu merusak masjid. Akibatnya beberapa
gereja hancur dibakar massa yang sudah terprovokasi.
Preman-preman kelompok Milton yang dikenal dengan sebutan Ambon Hapas pun
terus dikejar-kejar massa. Beruntung sebagian besar dari mereka bisa
diamankan pihak aparat. Sejumlah preman terus ditahan, namun sebagian besar
di antara mereka dilepas. Mereka yang bebas, demi keamanan jiwanya,
terpaksa harus balik kampung. Nah, mereka yang mudik ke Ambon inilah yang
diduga keras diperalat untuk mengacaukan keadaan. Dugaan itu diperkuat
dengan ditemukannya mayat beberapa preman “alumni Ketapang”. Menurut Des
Alwi, anggota Tim Pencari Fakta (TPF) Ambon, enam dari 18 orang yang
tertembak dalam kerusuhan adalah anak buah Milton.Menurutnya, aksi preman ini semula hanya untuk menggembosi kelompok muslim
BBM (Bugis, Buton, dan Makasar) yang menguasai sektor informal di Ambon.
Celakanya, penduduk asli muslim pun ikut mereka gembosi. Kelompok muslim
asli kemudian menganggap, aksi para preman itu tidak semata-mata ditunjukan
kepada BBM, melainkan orang muslim secara keseluruhan. Akibatnya muncullah
semacam “Perang Salib” gaya Ambon.
Versi lain menyebut, Mayjen Kivlan Zein berada di belakang kerusuhan Ambon.
Dua hari setelah kerusuhan Ambon, warga di Kecamatan Halmahera Tengah
pernah kedatangan orang yang mengaku bernama Kivlan. Orang yang menurut
informasi menginap di Hotel Ternate City ini mengabarkan, Masjid Al-Fatah
sudah rata dengan tanah. Warga setempat hampir saja menelan mentah-mentah
kabar ini. Namun, beruntung warga ingin tahu lebih lanjut tentang informasi
itu. Tapi, sayang, orang yang mengaku bernama Kivlan ini sudah lenyap.

Tajuk mencoba menelusuri kebenaran informasi itu. Ketika ditanya bagaimana
ciri-ciri orang yang mengaku bernama Kivlan tersebut, salah seorang sumber
Tajuk menyebut, orangnya berambut cepak dan berbadan atletis. Ini bukan
ciri yang dimiliki Mayjen Kivlan. Mantan kaskostrad ini sama sekali tidak
berambut cepak. Mayjen Kivlan sendiri ketika dimintai konfirmasi mengenai
hal itu tegas menolak. “Demi Allah, demi Rasul, saya tidak pernah ke
Ternate. Dan, bulan Januari saya baru saja dilantik menjadi koordinator
staf ahli KSAD. Saya tidak bisa meninggalkan Jakarta. Saya ke mana-mana
dengan KSAD,” jelasnya. “Tunjukkan orang yang menyebarkan cerita itu, saya
akan tuntut ke pengadilan,” tantangnya pula.
Kivlan menduga, ada orang atau kelompok yang sengaja ingin menghabisi
dirinya, seperti halnya yang dilakukan terhadap Prabowo. “Karena saya
adalah satu-satunya simbol yang bisa menggerakkan perlawanan terhadap
mereka,” ujarnya. Kivlan mengaku capek dan tertekan dengan segala tudingan
itu. Energinya terkuras untuk menjawab berbagai tudingan yang diarahkan
kepadanya. Lebih-lebih setelah “Komisaris Utama” Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB) Abdurrahman Wahid menyatakan, Mayjen K-lah yang berada di balik
berbagai peristiwa kerusuhan di tanah air, termasuk Ambon.
Namun kini Kivlan boleh sedikit lega. Pasalnya, Mayjen K yang dimaksud kiai
penggemar musik klasik itu bukan dirinya. Sambil bergurau Gus Dur menyebut,
Mayjen K yang dimaksudnya adalah Mayjen Kunyuk. Untuk menenangkan dirinya,
Kivlan bersiap melaksanakan ibadah haji ke tanah suci.
Versi yang satu lagi menyebut, kelompok RMS biang segala kekacauan.
Koordinator Tim Advokasi Posko Idul Fitri Berdarah M. Nadjib Atamimi, S.H.
tegas menyatakan, RMS-lah yang memanaskan suasana di Ambon. Sejumlah
bendera RMS, katanya, ditemukan berkibar di daerah Kuda Mati. “Suatu hari
mereka menerobos masuk ke
pusat kota. Mereka meneriakkan yel-yel hidup RMS,” kata Nadjib. Sebelum
kerusuhan meletus, aktivis RMS melakukan aksi-aksi penggalangan massa. Demo
mahasiswa Universitas Pattimura tanggal 14-18 November 1998 di depan
Makorem 174 Pattimura meneriakkan yel-yel RMS. Kemudian tanggal 19 Desember
1998 dilakukan reproklamasi (proklamasi ulang) RMS. Pada reproklamasi itu
disebutkan nama Tutu Hatunewa sebagai presiden RMS. Namun, bisa jadi ini
bagian dari teknik pengelabuan sang provokator.
Dugaan keterlibatan RMS juga dikemukakan tokoh pemuda Ambon, Fuad M. Aziz.
Tokoh yang getol membantu korban kerusuhan ini mengatakan, target RMS
adalah menggagalkan pemilu Juni 1999 mendatang. Jika pemilu gagal,
daerah-daerah tertentu akan meminta otonomi atau bahkan melepaskan diri.
“Nah, di situ RMS akan memanfaatkan peluang untuk mendirikan negara,”
ujarnya.
Namun Gubernur Maluku Saleh Latuconsina meragukan keterlibatan RMS dalam
kerusuhan yang menimpa Ambon. Menurutnya, RMS itu sebenarnya tidak ada.
“Hanya saja selalu dikatakan ada untuk menjaga eksitensi mereka,” kata
Saleh. Saleh mengakui, selalu ada pengibaran bendera RMS. Tapi bukan di
tempat umum. Pengibaran bendera ini kemudian difoto dan dikirimkan ke
Negeri Belanda, negeri yang banyak menampung aktivis RMS.
Di antara ketiga versi itu belum jelas benar mana yang mendekati kebenaran.
Perlu bukti-bukti faktual yang bisa menjelaskan versi mana yang sahih:
Kunyuk, preman, atau RMS.
Miftahuddin, Usman Sosiawan, Muanas (Ambon), dan Hartono

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: