Michael Riady,

cucu konglomerat Mochtar Riady
++++++++++
Michael Riady, Terinspirasi Majalah Forbes
Headline

Michael Riady, CEO Lippo Malls
Oleh: Hideko
ekonomi – Selasa, 4 Desember 2012 | 13:22 WIB
Berita Terkait

Select LanguageEnglishAfrikaansAlbanianArabicArmenianAzerbaijaniBasqueBelarusianBengaliBulgarianCatalanChinese (Simplified)Chinese (Traditional)CroatianCzechDanishDutchEsperantoEstonianFilipinoFinnishFrenchGalicianGeorgianGermanGreekGujaratiHaitian CreoleHebrewHindiHungarianIcelandicIrishItalianJapaneseKannadaKoreanLaoLatinLatvianLithuanianMacedonianMalayMalteseNorwegianPersianPolishPortugueseRomanianRussianSerbianSlovakSlovenianSpanishSwahiliSwedishTamilTeluguThaiTurkishUkrainianUrduVietnameseWelshYiddish

Powered by Translate

DI USIANYA di usianya yang masih tergolong muda ia mampu mengelola mega proyek properti senilai Rp 11 triliun. Sukses ini diraihnya berkat beguru dengan sang kakek.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Grup Lippo terlihat makin agesif membangun pusat-pusat perbelanjaan di berbagai daerah, terutama di kawasan Indonesia Timur. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, kawasan Indonesia Timur dinilai memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Pendapatan penduduknya juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya di tanah air.

Setelah menyasar Makasar (Sulawesi Selatan), daerah Timur lainnya yang tengah diincar oleh Lippo adalah Jayapura. Ibukota Papua ini dinilai memiliki potensi ekonomi yang cukup besar dan terus berkembang. Setelah itu ekspansi akan dilanjutkan ke kota Kupang (NTT) dan Ambon (Maluku). Pembangunan mal di tiga kota tersebut untuk menyasar konsumen di kawasan Timur Indonesia.

Agresivitas Lippo itu tak lepas dari sosok Michael Riady, CEO Lippo Malls. Kendati baru bergabung dengan Lippo pada tahun 2004, cucu dari konglomerat Mochtar Riady (pendiri Grup Lippo) ini sudah berani mencanangkan pembangunjan 50 unit mal di seluruh Indonesia.

Betul, saat ini baru Lippo Malls baru mengoperasikan 31 mal. Namun pembangunan mal lainnya akan segera dibangun karena sebagian besar lahannya sudah tersedia. Begitu juga dengan pendanaan. Kabarnya, Lippo telah menyediakan anggaran yang sangat besar untuk membangun mal-mal ini. Maklum, setiap mal baru menghabiskan investasi anatara Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun.

Pria yang lahir di Jakarta 32 tahun silam ini memang tengah naik daun.Saat ini, Michael juga menjabat sebagai Presiden Direktur St Moritz Penthouses and Residences. Proyek properti fenomenal yang tengah digarapnya ini nilainya tak main-main, lebih dari Rp 11 triliun. Melalui proyek St Moritz inilah yang melambungkan nama Michael sehingga sejajar dengan pengusaha properti senior.

Di bawah tangan dingin Michael, Grup Lippo juga akan membangun kawasan terpadu yang berisi gedung perkantoran tertinggi di Indonesia dengan 65 lantai. ”Itu akan menjadi semacam International Financial Center di Hongkong. Tentu gedung tersebut memperhatikan segala aspek, termasuk ketahanan terhadap gempa,” tegasnya.

Selain itu, Lippo berencana membangun mal terbesar di Indonesia dengan seluas 450.000 meter persegi. Di kawasan tersebut, bakal dibangun mal yang mengelilingi delapan menara apartemen dalam empat tahap pembangunan. ”Di St Moritz akan dibangun gedung konvensi seluas 6.000 M2, setara Jakarta Conventional Centre. Juga Sea World seperti di Ancol seluas 4.000 M2,” jelas Michael.

Belajar dari sang kakek

Meski tergolong masih muda, lulusan finance department dari Orange County University, California, Amerika ini memiliki visi yang cukup tajam di bidang bisnis. Menurutnya, Lippo harus bisa memanfaatkan momentum kebangkitan ekonomi yang ditandai naiknya jumlah kelas menengah. Termasuk pengembangan infrastruktur, khususnya di Kawasan Timur Indonesia. “Itulah sebabnya, kami merambah Indonesia Timur karena akan menjadi basis pertumbuhan terdepan di Asia Tenggara. Potensinya luar biasa,” ujarnya.

Mengawali kariernya sebagai staf keuangan di Fidelity Investment yang bergerak di sektor investasi dan perusahaan sektor hukum real estat Manatt, Phelps & Phillips Law Firm. Lelaki berkacamata ini telah bergabung dengan imperium bisnis Lippo sejak Agustus 2004 sebagai manajer proyek Metropolis Town Square, Tangerang.

Sebelumnya, tidak pernah terpikir oleh Michael jika dirinya bakal masuk ke dalam bisnis keluarga. Apalagi, keluarganya tidak pernah memaksa untuk bergabung dengan Grup Lippo. ”Kami semua diberi kesempatan untuk memilih bisnis mana yang sesuai dengan talenta yang dimiliki. Jadi, kami yang memutuskan,” katanya.

Ketertarikannya akan dunia properti diawalinya saat Miacheal masihkuliah. Ia tertarik ke dunia ini setelah membaca majalah Forbes yang mengulas orang-orang terkaya dunia. Dari majalah inilah ia menemukan jawaban. Ternyata, sekitar 60% orang kaya di dunia terkait dengan bisnis properti. Ini berbeda dengan bisnis yang digeluti oleh kakek serta paman-pamannya, yaitu jasa keuangan.

Namun, Michael mengaku banyak belajar bisnis dari keluarganya. ”Saya banyak sekali belajar dari kakek (Mochtar Riady). Bahkan, selama masih kuliah, sudah diharuskan magang,” katanya. Makanya, hampir setiap tahun ia harus berpindah-pindah perusahaan dan bidang pekerjaan agar lebih mengenal banyak hal. Termasuk pekerjaan teller dan customer service.

Baru setelah pulang ke Indonesia pada 2004, Michael benar-benar diarahkan ke sektor properti. Di sini ia belajar bisnis langsung dari sang kakek. Jadi boleh, Mochtar Riady-lah yang telah membimbing sang cucu untuk menemukan talenta bisnisnya.

Meskipun telah tujuh tahun berkiprah di dunia properti, namun itu tak membuatnya merasa puas. Menurutnya, sebagai pengusaha jangan pernah merasa bahwa ilmu yang dimiliki itu sudah cukup. Sebab, belajar dengan keraslah yang membedakan pimpinan dengan orang biasa. “Pemimpin tidak pernah berhenti belajar,” katanya.

Namun ia menyadari, kesuksesan yang diraihnya tidak bisa diraih sendiri. Diperlukan anggota tim yang solid. Karena itu, Michael terus mencari orang-orang profesional di bidangnya. Beruntung, sekarang ia memiliki anak-anak muda yang dapat diandalkan. Di tangan merekalah Lippo Malls terus berekspansi ke seluruh Indonesia.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-14 tahun II yang terbit Senin, 3 Desember 2012. [tjs]

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: