Roy Suryo

Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo atau disingkat KRMT Roy Suryo Notodiprojo atau lebih dikenal sebagai Roy Suryo (lahir di Yogyakarta, 18 Juli 1968; umur 42 tahun) adalah seorang pengurus Partai Demokrat di bidang Komunikasi dan Informatika. Terkenal juga karena suka arogan dan belagu.

++++++++++++
Tingkah pola si KRMT Roy Suryo, sang anggota DPR yang terhormat

Senjata itu Tak Sakti Lagi Buat Roy Suryo

Oleh Moh Anshari | Inilah – Rab, 30 Mar 2011 03.00 WIB

Email
Cetak
KONTEN TERKAIT
Perbesar Foto
Senjata itu Tak Sakti Lagi Buat Roy Suryo
INILAH.COM, Jakarta – Pangkat atau jabatan yang terhormat sering kali dipandang tidak ubahnya keris yang memiliki ‘kesaktian’. Begitu keris itu ditunjukkan, seketika itu pula orang yang melihatnya akan tertunduk, luluh tak berdaya.
Itulah mengapa banyak pejabat yang terang-terangan menenteng pangkat, jabatan, atau kedudukannya untuk keperluan lain di luar jabatannya. Mulai dari meluluhkan hati polisi lalu lintas yang mencoba menilangnya hingga meminta fasilitas untuk mendapatkan kenyamanan.
Itulah pula yang mungkin ingin diterapkan anggota Komisi I DPR Roy Suryo saat bepergian menggunakan pesawat. Pada Sabtu (26/3/2011), Roy hendak bepergian menggunakan Lion Air menuju Yogyakarta. Ia memegang tiket untuk penerbangan 07.45 WIB, namun ia mencoba meminta untuk terbang lebih awal.
Keinginannya itu dikabulkan dan ia pun mendapat tempat duduk pada penerbangan pukul 06.15 WIB. Ia pun dengan santai duduk bersama istrinya di kursi yang tertera di boarding pass miliknya. Namun, ia kaget ketika datang penumpang lain yang ternyata memiliki nomor tempat duduk yang sama. Apalagi penumpang tersebut menunjukkan bahwa ia pemegang tiket untuk penerbangan 06.15.
Cek-cok mulut pun tidak bisa dihindarkan. Keduanya sama-sama yakin bahwa dialah yang paling berhak atas tempat duduk itu. Akibatnya, penumpang lain pun terpancing hingga akhirnya suasana menjadi gaduh. Pramugari dan petugas penerbangan kemudian turun tangan.
Setelah cek sana cek sini, lihat sana lihat sini, petugas dan pramugari itu menyatakan bahwa Roy salah memasuki pesawat. Roy tak berhak menduduki kursi itu dan harus meninggalkan pesawat. Petugas itu memintanya turun dengan alasan Roy telah mengganggu penerbangan.
Tentu saja, Roy tidak terima dikatakan seperti itu. Ia pun balik menggertaknya dengan mengeluarkan ‘jurus maut’, yakni jabatannya sebagai anggota DPR yang terhormat.
“Bapak tahu siapa saya sebenarnya?” kata Roy penuh percaya diri. Kontan petugas tadi kaget mendengarnya, tapi ia malah diam. Roy kembali mempertegas gertakannya, dengan mengatakan, “Tahu enggak saya ini siapa? Cek dong,” tegasnya.
Entah gentar atau memang karena bukan lawannya, petugas yang menurut Roy berpenampilan seperti Satpam itu kemudian meninggalkan Roy. Mungkin ia tahu kalau Roy adalah anggota DPR yang terhormat. Atau paling tidak ia tahu lewat media gosip bahwa ia bukan orang sembarangan, orang yang ahli menerawang apa yang ada di balik gambar atau video porno.
Namun, petugas itu tak kehabisan akal. Ia balik lagi membawa ‘lawan’ yang sebanding untuk Roy. Ia membawa petugas counter yang memberinya tempat duduk. Petugas ini rupanya sudah biasa menghadapi banyak orang dari berbagai macam kalangan. Ia tak gentar menghadapi Roy dan mengambil keputusan yang sama dengan petugas tadi, Roy harus turun dan meninggalkan pesawat itu.
Roy kini tak bisa berbuat apa-apa lagi. Senjata ampuhnya ternyata tumpul menghadapi petugas counter tadi. Apalagi, dalam posisi terdesak itu, penumpang lain ikut nimbrung mengusirnya. Roy pun kini berhadapan dengan ‘musuh’ baru, yakni penumpang lain. Ia mencoba melayani penumpang itu dengan balas menggertak, meminta mereka untuk tidak turut campur, karena ini urusannya dengan Lion Air.
Namun, penumpang pun tidak mundur dengan perkataan Roy itu dan tetap memintanya turun. Roy akhirnya luluh oleh serbuan bertubi-tubi itu. Apalagi ada penumpang yang meneriakinya, ‘goblok’. Ia pun kemudian turun dan meninggalkan pesawat itu.
Roy mengakui ia khilaf membawa-bawa jabatannya itu untuk menggertak petugas penerbangan tersebut. Tidak seharusnya ia membawa-bawa jabatan untuk menggertak orang. “ Saya akui itu, saya khilaf karena dia menyuruh saya turun, (alasannya) karena mengganggu penerbangan. Manusia tidak ada yang sempurna, pasti pernah salah. Saya minta maaf kok dan menyalami semuanya,” ujarnya kepada INILAH.COM, Selasa (29/3/2011).
Kekhilafan itu boleh jadi menyadarkan dan membuka wawasan bahwa jabatan tidak selamanya bisa membuat semua orang mengikuti keinginannya. Jabatan hanya akan berfungsi di tempat bekerja. Jabatan yang terhormat sekalipun tidak bermanfaat jika digunakan bukan pada tempatnya, tidak bisa membawanya terbang, tidak pula sekadar untuk menumpang duduk. [tjs]

 

++++

Roy Suryo: Baru Plt Gubernur Saja Sudah Berani Desak Menteri

Selasa, 24 Juni 2014 | 07:53 WIB
Icha Rastika Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo mendatangi Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (23/6/2014) untuk berkonsultasi terkait dengan pemindahan Stadion Lebak Bulus.


JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo menyindir Basuki Tjahaja Purnama yang mendesak Kemenpora agar segera menerbitkan rekomendasi terkait pemindahan Stadion Lebak Bulus ke Taman BMW. Menurut dia, Basuki yang baru saja menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI sudah berani mendesak seorang menteri.

“Seseorang yang baru pelaksana tugas gubernur saja sudah berani desak seorang menteri untuk terbitkan rekomendasi. Padahal, kalau kami terbitkan rekomendasi, saya sama saja dengan menggantung semua staf Kemenpora untuk kemudian masuk ke gedung ini,” kata Roy Suryo di Gedung KPK, Senin (23/6/2014).

Menurut dia, lahan pengganti Stadion Lebak Bulus, yakni Taman BMW, bermasalah. Dia enggan terjerumus masalah dan keterlambatan pembangunan MRT karena adanya kasus korupsi dan kolusi yang terjadi atas tanah yang diajukan Pemprov DKI Jakarta sebagai pengganti Stadion Lebak Bulus tersebut.

Untuk memastikan hal ini, dia menanyakan langsung ke KPK. Diketahui, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto pernah melaporkan perihal permasalahan di lahan Taman BMW kepada KPK.

Roy menegaskan, pihaknya tidak akan mengeluarkan rekomendasi bagi Pemprov DKI Jakarta untuk memindahkan Stadion Lebak Bulus ke Taman BMW tersebut. Menurut dia, pihaknya baru akan mengeluarkan rekomendasi jika status Taman BMW ini sudah bersih dan jelas.

“Kalau sudah clear dari KPK salah satunya, karena kami harus verifikasi ini ke BPN (Badan Pertanahan Nasional), ke Kemenkeu, kami juga harus verifikasi ke Kementerian PU, semuanya clear, baru kami akan keluarkan rekomendasi,” kata dia.

Sekadar informasi, Pemprov DKI Jakarta berencana merobohkan Stadion Lebak Bulus untuk pembangunan depo MRT di DKI Jakarta. Sebagai gantinya, Pemprov DKI Jakarta akan membangun stadion bertaraf internasional di lahan Taman BMW. Namun, pembangunan ini terhambat karena adanya masalah sertifikasi tanah.

Badan Pertanahan Nasional belum bisa mengeluarkan sertifikat tanah lantaran masih terdapat kasus sengketa di lahan seluas 66,6 hektar itu. Seperti sudah disebutkan, masalah pembebasan lahan untuk Taman BMW ini pernah dilaporkan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto kepada KPK. Prijanto menuding mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sengketa yang belum selesai pada lahan Taman BMW.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: