Basrief Arief

Jaksa Agung RI
+++
Apa sih prestasi gemilang jaksa ini??
++++
SBY lantik Basrief jadi Jaksa Agung
Jumat, 26/11/2010 07:51:01 WIB
Oleh: Linda T. Silitonga
JAKARTA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini melantik Basrief Arief yang ditunjuk menjadi Jaksa Agung menggantikan Hendarman Supandji di Istana Negara pada pukul 15.00 WIB.

Seperti diketahui Kamis malam (25 November), Kepala Negara mengadakan jumpa pers di Kantor Presiden untuk mengumumkan bahwa SBY menunjuk Basrief Arief sebagai Jaksa Agung.

Basrief merupakan mantan wakil jaksa agung dan terakhir menjadi pejabat gugus tugas pemburu tersangka kasus korupsi di luar maupun dalam negeri.

Dengan dilantiknya Basrief sebagai Jaksa Agung hari ini, maka status pejabat sementara yang disandang Darmono berakhir.

Biro Pers dan Media Istana Kepresidenan menginformasikan selain akan melantik jaksa agung yang baru, Presiden hari ini juga menggelar rapat terbatas di Kantor Presiden yang dimulai pada pukul 09.30 WIB. (ln)

+++++++

Pegiat Antikorupsi Ragu terhadap Komitmen Yudhoyono
Jum’at, 26 November 2010 | 06:01 WIB
Besar Kecil Normal
foto

Basrief Arief. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kalangan pegiat antikorupsi menyayangkan langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kemarin memilih Basrief Arief sebagai Jaksa Agung menggantikan Hendarman Supandji. Mereka percaya, figur Jaksa Agung dari kalangan internal kejaksaan tidak akan membawa angin segar bagi perbaikan lembaga tersebut.

“Pemilihan Jaksa Agung dari internal kejaksaan merupakan satu bentuk penghancuran mimpi masyarakat,” kata Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia Teten Masduki saat dihubungi tadi malam.

Mimpi itu, menurut dia, tak lain adalah keinginan masyarakat melihat perubahan dalam kinerja kejaksaan sebagai salah satu institusi penegak hukum. “Sangat terlihat adanya kompromi dari dalam kejaksaan kepada Yudhoyono,” kata Teten, “Hal itu menunjukkan bahwa kejaksaan memang belum mau berubah.”

“Saya tidak tahu apa alasan Yudhoyono memilih Basrief,” kata Direktur Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Zainal Arifin Mochtar, saat dihubungi terpisah. Padahal, menurut dia, ada banyak tokoh lain yang bisa ditunjuk sebagai Jaksa Agung. “Ada masalah dari cara berpikirnya SBY, kenapa milih dia,” kata Zainal, “Tuntutan dari publik kan jelas (dari lingkup eksternal), tapi ternyata yang dipilih dari internal kejaksaan.”

Pemilihan Basrief membuat Koordinator Indonesia Corruption Watch Febri Diansyah ragu terhadap keseriusan dan komitmen Yudhoyono memberantas korupsi. Pemilihan itu dinilai kurang cermat karena Basrief diragukan bakal bisa membereskan tumpukan masalah yang ada di kejaksaan. Ia pun menantang Basrief menyuguhkan pencapaian positif segera setelah resmi menjabat Jaksa Agung. “Kita beri waktu sebulan. Kita lihat seperti apa kerjanya,” kata Febri.

Pendapat berbeda diungkapkan Wakil Ketua Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Azis Syamsuddin. Politikus Golkar ini mengaku optimistis Basrief bisa membawa kejaksaan menjadi lebih baik. “Basrief figur yang bisa diharapkan karena dia kan orang dalam yang sudah kenal kejaksaan,” katanya, “Kami yakin dia bisa melaksanakan amanah ini.”

Saat dimintai konfirmasi, Basrief tak risau atas keraguan yang muncul dari berbagai kalangan terhadap kemampuan dirinya sebagai Jaksa Agung. Namun ia berjanji akan mengajak koleganya di kejaksaan bersama-sama melakukan perubahan dan pembaruan. “Saat inilah kita harus melakukan perubahan,” katanya.

Sementara itu, berkaitan dengan terpilihnya Busyro Muqoddas sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi menggantikan Antasari Azhar oleh Dewan Perwakilan Rakyat, Teten dan Febri mengaku masih memiliki harapan kepada mantan Ketua Komisi Yudisial itu. Keduanya menyebut pemilihan Busyro sebagai langkah aman bagi Dewan.

“DPR memilih Busyro karena mereka enggak bisa menduga-duga apa yang akan dilakukan Bambang Widjojanto, kandidat lainnya, jika terpilih,” kata Febri.

Teten mengingatkan agar anggota Dewan tidak terlalu bergembira dengan pilihan mereka itu. Sebab, bisa saja pilihan aman tersebut nanti justru akan membuat mereka kecewa. “Busyro bukan orang yang mudah didikte, dan saya yakin dia memiliki visi untuk KPK ke depan,” katanya.

+++++++++++

Jumat, 26 November 2010 | 07:45 WIB
ANALISIS
Basrief, jalan tengah SBY?
Rusdi Mathari

ANTARA/Puspa Perwitasari
Basrief Arief (kedua dari kanan) bersama Erry Riyana Hardjapamekas (kanan), Todung Mulya Lubis (duduk kiri), Rhenald Kasali (kiri).
Basrief hingga kini tercatat sebagai komisaris dari sejumlah perusahaan pertambangan milik pengusaha Kiki Barki.

Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilih Basrief Arief sebagai jaksa agung, bisa dikatakan mengejutkan. Keputusan itu bukan saja bersamaan waktunya dengan pemilihan ketua KPK di Senayan, melainkan juga karena pilihan itu bertolang belakang dengan seruan Koalisi Pemantau Peradilan yang meminta Presiden tidak memilih jaksa agung dari jaksa karir.

Koalisi itu terdiri dari sejumlah LSM pemantau korupsi, antara lain ICW, Transperancy International Indonesia, PSHK, dan Konsorsium Reformasi Hukum Nasional. Mereka menilai, kinerja Kejaksaan Agung di bawah jaksa agung yang berasal dari jaksa karir jauh dari harapan publik. Koalisi mencatat, paling sedikit ada tujuh kasus korupsi kelas kakap yang dihentikan dan 40 kasus korupsi kelas kakap lainya yang tidak jelas perkembangannya oleh kejaksaan.

Mengapa SBY memilih Basrief?

Para penggiat antikorupsi mungkin akan melihat Basrief sebagai “orang dalam” Kejaksaan Agung, berdasarkan karirnya di masa lalu sebagai jaksa. Tapi Basrief sebetulnya juga sudah pensiun tiga tahun lalu. Bahkan “orang dalam” Kejaksaan Agung, bisa jadi kecewa dengan keputusan SBY memilih Basrief sebagai pengganti Hendarman Supandji. Bukankah nama Basrief tidak ada dalam rekomendasi Kejaksaan Agung kepada Presiden tentang jaksa agung?

Beberapa politisi lalu berspekulasi, keputusan Presiden memilih Basrief merupakan jalan tengah, untuk memenuhi keinginan para penggiat antikorupsi dan “orang dalam” Kejaksaan Agung. Basrief mungkin memang jaksa karir, tapi dia sudah tiga tahun tidak berkantor di Gedung Bundar. Bahwa jalan tengah itu, kemudian akan menguntungkan SBY, tentu, itu soal lain.

Basrief dan karir
Lahir di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, 23 Januari 1947, Basrief adalah sarjan hukum lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas Sumatra Barat dan mendapat master hukum dari Universitas Padjajaran, Bandung. Bersama Achmad Syafii Ma’arif, Todung Mulya Lubis, Erry Rijana Hardjapamekas dan Renald Kasali, Basrief tahun ini sempat menjadi anggota Panitia Seleksi Ketua KPK, yang kemudian menempatkan Busyro Muqoddas sebagai ketua KPK.

Di kejaksaan, karir Basrief bisa dikatakan cukup lengkap. Dia misalnya pernah menjabat sebagai kajari Belawan, Sumatra Utara, kajari Cibinong, Jawa Barat, kajari Jakarta Pusat, dan kajati DKI Jakarta. Dia juga pernah menjabat kepala pusat penerangan hukum Kejaksaan Agung.

Karir Basrief yang paling menonjol adalah ketika dia diangkat menjadi jaksa agung muda intelijen. Itu di zaman Megawati menjadi presiden. Jabatan itu dipegang Basrief hingga SBY terpilih sebagai presiden pada 2004. Tahu berikutnya dia diangkat menjadi wakil jaksa agung, hingga pensiun pada 2007.

Ketika menjabat sebagai jaksa agung muda intelijen, Basrief juga ditetapkan sebagai Ketua Tim Pemburu Koruptor yang dibentuk pemerintahan SBY. Tim itu di bawah koordinasi menko politik dan keamanan, yang saat itu dijabat Widodo AS. Hasil kerja terbesar dari tim itu adalah menangkap eks direktur dan pemilik Bank Servitia, David Nusa Wijaya, terdakwa dan buronan kasus penggelapan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia Rp 1,3 triliun.

Basrief dan bisnis
Sebelum dipilih menjadi jaksa agung oleh SBY, dan hingga sekarang, Basrief tercatat sebagai Senior Managing Partner di Konsultan Hukum dan Investasi SH dan Rekan; dan Ketua Presidium Keluarga Besar Purna Adhyaksa. Bersama Brigjen (purn.) Mazni Harun, Hikmahanto Juwana [professor hukumUI], Benny K Harman [Ketua Komisi III DPR], Chandra Motik Yusuf, Murba Sitompul, Farida Syamsi Chadaria, dan Henricus Herikes, Basrief juga tercatat sebagai pendiri Lembaga Hukum & Konstitusi Pemerintah. Mazni Harun adalah teman satu angkatan SBI di AKABRI.

Di dunia bisnis, Basrief tercatat sebagai komisaris perusahaan tambang batubara PT Harum Energy Tbk. Dia masih pula tercatat sebagai komisaris PT Drei Indonesia dan PT Mahakam Sumber Jaya. Perusahaan yang disebut terakhir adalah anak perusahaan dari Harum Energy.

Perusahaan itu dimiliki pengusaha Keluarga Kiki Barki, Ketua Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa, yang namanya pernah masuk di urutan ke-57 sebagai orang Indonesia terkaya [US$195 juta]. Selain Mahakam, anak perusahaan Harum adalah PT Tanito Harum tempat Wakil Ketua DPR Pramono Anung, meniti karir. Hingga sekarang, Pramono bahkan terlibat di perusahaan itu.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: