Suripto : jagoan Intelijen politik

Profil : versi wap.Indosiar.com

Intelejen Hanya Alat Mencari Informasi
– Lahir di Bandung 20 November 1936, Suripto merupakan anak pertama dari lima
bersaudara pasangan R. Djoko Said yang berasal dari Surabaya dengan Siti Nursyiah
Lubis yang berasal dari Mandailing, Sumatera Utara.
Ayah Suripto seorang pamongpraja yang pernah bertugas sebagai Bupati Cirebon
pada tahun 1955 dan meninggal dunia pada tahun 1985 saat berusia 85 tahun. Sementara
itu, ibunya yang lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga, meninggal dunia
pada tahun 1959 dalam usia 40 tahun.
Masa kanak-kanak dan remaja Suripto dilalui di beberapa kota seperti Solo,
Magelang, Cirebon, Indramayu dan Jakarta, seiring dengan tugas ayahnya yang
berpindah-pindah kota, sehingga sekolahnya pun berpindah-pindah.
Ia mengenyam pendidikan tinggi di FH Unpad dan lulus pada tahun 1964. Setahun
setelah menamatkan kuliahnya, Suripto yang pernah bercita-cita menjadi pilot
dan memiliki hobi sepakbola, tinju, dan jogging ini, menikahi Martini Sondjana
di Cirebon pada tahun 1965.
Dari perkawinannya itu, Suripto dikarunia tiga orang putra putri, yakni Rizal
Darmaputra yang lahir di Jakarta 15 April 1967, Andi Suryahadi yang lahir di
Jakarta 6 Juni 1971 dan Maryani Suripto yang lahir di Jakarta 13 Agustus 1972.

Seusai peristiwa malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974, Martini sakit keras
dan akhirnya meninggal dunia karena shock dan tertekan jiwanya, setelah Suripto
dituduh penguasa Orde Baru berada dibelakang aksi kerusuhan massa tersebut.
Suripto menceritakan, nasibnya sama seperti yang dialami Hariman Siregar, salah
satu aktivis yang ditahan akibat peristiwa tersebut. Istri Hariman sakit keras
karena merasa tertekan.
Sekitar lima tahun setelah peristiwa Malari, Suripto menikah lagi di Jakarta
dengan Nur Halimah, seorang janda asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang
juga ditinggal mati suaminya. Perkawinan Suripto dan Nur Halimah membuahkan
seorang putra yakni Sukma Kelana Saputra yang lahir di Jakarta 15 April 1981.
Bagi anak-anaknya, Suripto merupakan figur bapak yang sangat perhatian dan
penyayang. Dia tidak pernah membeda-bedakan anaknya. Mereka dapat berkumpul
bersama dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik, hingga mereka dewasa
dan berkeluarga.
Suripto juga memberikan kebebasan penuh kepada anak-anaknya untuk pengenyam
pendidikan atau bekerja sesuai bidang yang diinginkan, termasuk dalam memilih
jodoh dengan syarat harus beragama Islam. Dimata anak-anaknya Suripto pun dinilai
sebagai sosok yang demokratis, bahkan cenderung sebagai sahabat. Suripto tidak
pernah marah kepada anak-anaknya. Sebaliknya, mereka sangat mendukung apa yang
dilakukan sang bapak dalam tugas.;Dalam
ingatan Nur Halimah, Suripto adalah sosok yang seringkali mengingatkan keluarganya
bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus dilandasi niat ibadah. Dengan niat
ibadah, pekerjaan menjadi terasa ringan, dilakukan dengan tulus ikhlas dan tanpa
pamrih, serta mengundang berkah.
Saat Suripto diangkat menjadi Sekjen Dephut, pada mulanya Nur Halimah keberatan
mengingat departemen tersebut merupakan salah satu sarang KKN, sehingga kalau
tidak pandai-pandai membawa diri akan terperangkap dalam tindakan pelanggaran
hukum dan hasilnya pun menjadi haram.
Namun, Suripto kembali mengingatkan dirinya bahwa penugasan itu pun merupakan
amanah sekaligus ibadah. Ia justru merasa tertantang untuk memberantas KKN tersebut.

Selama Suripto menjadi Sekjen Dephut, Nur Halimah menceritakan banyak orang
yang mendatanginya, dari yang minta proyek, minta naik jabatan, minta izin HPH,
hingga minta agar bisnis mereka yang mengandung unsur KKN tidak diungkap Suripto.
Semua datang dengan iming-iming materi. Namun, Nur Halimah tidak terpancing.

Mengenai tuduhan makar yang mewarnai pemberhentian Suripto, Nur Halimah mengatakan,danamp;quot;Saya
pikir Gus Dur kan, orangnya begitu, kadang-kadang dia ngomong begini ngomong
begitu, dia tidak ngaku. Dia bilang ngak pernah bilang bahwa Suripto makar,
itu hanya Nurmahmudi saja, bisa-bisanya. Ini tersebar kemana-mana, sampai kampung
saya di Banjarmasin. Masak presiden begitu sih, danamp;quot;katanya.
Berbagai Ragam Pekerjaan Yang Dialami
;Suripto
merupakan contoh dari sedikit orang yang tidak mengejar-ngejar jabatan atau
karier. Perjalanan hidupnya dalam menunaikan tugas dibiarkan mengalir apa adanya
dengan tetap memegang teguh komitmen dan prinsip-prinsip di dalam dirinya.
Hal itu sesuai wasiat dari orang tuanya bahwa bekerja menjadi apa saja dan
di mana saja bagus, apakah jadi supir sekalipun atau apa saja, yang penting
bekerja sebaik-baiknya. Entah sebuah kebetulan atau tidak, Suripto pernah terpaksa
harus menjadi seorang supir. Pekerjaan sebagai sopir taksi 4848 jurusan Bandung
– Jakarta dilakoninya sewaktu menjadi mahasiswa.
Pada masa-masa kuliahnya sekitar 1957 -1964, Suripto mulai tampil sebagai aktivis
mahasiswa sosialis. Alasannya menjadi aktivis, antara lain terpengaruh pandangan
mantan Perdan Menteri RI Sjahrir dalam buku-bukunya yang menjunjung tinggi pada
nilai-nilai humannisme, perikemanusiaan. Suripto pernah menjadi Ketua Cabang
Gemsos – organisasi massa onderbouw Partai Sosialis Indonesia (PSI) di Bandung.

Sebagai mahasiswa, ia juga melawan tekanan rezim Orde Lama pimpinan presiden
Soekarno yang saat itu menerapkan Demokrasi Terpimpin dan ajaran Nasionalisme,
Agama dan Komunis (Nasakom). Pada saat itu pengaruh komunisme sangat terasa
didalam perguruan tinggi, termasuk di almamaternya. Proses Nasakomisasi berlangsung
sangat agresif di kampus-kampus. Diakui Suripto, tidak sedikit mahasiswa komunis,
terhimpun dalam Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI).
Untuk memerangi tekanan-tekanan dari PKI, terutama dikalangan kampus, para
aktivis mahasiswa anti PKI bersinergi dengan Kodam VI Siliwangi yang saat itu
memang anti PKI. Suripto bersama sebilan aktivis mahasiswa lainnya dari Unpad
dan Institut Teknologi Bandung (ITB), antara lain Udaya, Mulyono dan Hartani
Mukti, direkrut untuk mengikuti pendidikan dasar inteljen oleh Kodam VI Siliwangi
tahun 1962 dan dilatih oleh Kharis Suhud, yang kemudian sempat menjadi Ketua
DPR/MPR.
Dalam pendidikan intelijen yang berlangsung selama tiga bulan itu, mereka dilatih
teknik-teknik inteljen dan melakukan surveilance terhadap kekuatan basis-basis
PKI di Jawa Barat. Setelah mengikuti pendidikan dasar inteljen itu, mereka kembali
ke kampus masing-masing, kuliah sambil tetap aktif dalam gerakan kemahasiswaan.
Setiap perkembangan yang terjadi di kampus mereka analisis bersama Kharis Suhud.
Pada 10 Mei 1963 terjadi kerusuhan massa di Bandung menyusul dibukanya poros
Jakarta – Peking oleh Presiden Soekarna. Kerusuhan bermula dari pembakaran sepeda
motor milik orang keturunan Cina di Jalan Ganesha di dekat kampus ITB. Kemudian
mobil-mobil milik keturunan Cina yang lalu lalang di sepanjang Jalan Juanda
(Dago) juga dicegat dan dibakar. Aksi pembakaran mobil dan toko-toko milik orang
keturunan Cina meluas ke seluruh wilayah Bandung.
Akibat kerusuhan itu, Suripto ditahan di Kantor Besar Kepolisian Bandung dan
dijatuhi hukuman selama dua tahun oleh Pengadilan Negeri Bandung, bersama aktivis
lainnya seperti Siswono Yudohusodo, Muslimin Nasution, Abdul Qoyum, dan Deddy
Kurnia. Namun ditahanan itu pula, dia menyelesaikan skripsinya yang berjudul
danamp;quot;Beberapa Tjatatan Mengenai Kekuasaan Dewan Keamanan PBB Dalam Memelihara
atau Memulihkan dan Perdamaian Internasional.danamp;quot;
Setelah selasai kuliah dan meraih gelar Sarjana Hukum (SH), dia mengikuti pendidikan
militer (Milsuk) tahun 1964 dan setahun kemudian direkrut sebagai anggotan Tim
Sarjana G (Gabungan) V Komando Mandala Siaga di Komando Cadangan Strategis TNI
Angkatan Darat (Kostrad). Antara tahun 1966 sampai 1967, ia menjadi staf G (Gabungan)
1 Komando Operasi Tertinggi (Koti) yang membidangi Inteljen. Saat itu, Suripto
dilatih oleh Brigjen Ahmad Wiranatakusuma.
Suripto menceritakan alasan dirinya bergabung dengan Kostrad karena ia melihat
tentara perlu diperkuat dengan pemikiran-pemikiran anti PKI. Pada saat itu,
ia mengakui bahwa dirinya antek TNI-AD yang melawan PKI. Namun sebagaimana diketahui,
PKI sangat agresif dalam memerangi TNI-AD, antara lain menghembuskan isu adanya
Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarna. Jenderal-jenderal
TNI AD itu kemudian diculik, dianiaya dan dibunuh oleh PKI dalam suatu Gerakan
30 September 1965.
Tahun 1967-1970, dia menjalankan tugas sebagai staf Kepala Badan Koordinasi
Intelijen Negara (Bakin). Tidak banyak yang diceritakan oleh Suripto mengenai
tugasnya di Bakin tersebut, kecuali memberikan berbagai analisis dan masukan
dari lapangan tentang dinamika kehidupan politik dalam negeri setelah Jenderal
Soeharto naik menjadi presiden. Tahun
1970 sampai 1981, ia menjadi Sekretaris Lembaga Studi Strategis. Lembaga bentukan
Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) Dephankam ini merupakan
kumpulan tokoh-tokoh akademisi, antara lain seperti Yuwono Sudarsono, Sarlito
Wirawan, dan Fuad Hassan dengan tugas membuat kajian-kajian strategis tentang
berbagai persoalan bangsa.
Selain di LSS, sejak tahun 1974 setelah peristiwa Malari, Suripto diperbantukan
di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya didalam sebuah tim di Direktorat
Kemahasiswaan. Suripto direkrut ke direktorat itu karena wawasan dan pergaulannya
yang luas dilingkungan kampus dan gerakan mahasiswa.
Ia juga sempat menjadi Ketua Tim Penanganan Masalah Khusus Kemahasiswaan hingga
tahun 1999, sebelum kemudian diangkat menjadi Sekjen Dephut. Selama menunaikan
tugas di Direktorat Kemahasiswaan tersebut, ia memberikan ilmu dan pengalamannya
kepada para mahasiswa, mengenai pergerakan mahasiswa, memberikan pelatihan tentang
intelijen dan sebagainya.
Latar belakang pengalamannya mengikuti pendidikan inteljen itu sempat dicurigai
mahasiswa. Mereka mengira Suripto merupakan inteljen yang ditugaskan untuk memata-matai
dan membocorkan gerakan mahasiswa. Apalagi pada era represif di zaman Orde Baru
dinamika kampus dipasung.
Namun dia dapat menjelaskan siapa jati dirinya, sehingga mahasiswa pun banyak
yang bergabung dengannya. Apalagi kepada para mahasiswa, ia mengatakan bahwa
dirinya bukan intel dengan tugas memata-matai mahasiswa. Seluruh anggota masyarakat
pada dasarnya mempunyai pengetahuan inteljen. Sebagai sebuah pengetahuan, inteljen
itu sudah menjadi milik masyarakat dan bukan hanya milik Bakin, Badan Inteljen
Strategis (Bais), atau Badan Inteljen ABRI (BIA).
Bagi Suripto sendiri, intelijen itu tidak lebih dari alat atau metodologi dalam
mencari informasi sehingga semua orang bisa melakukan. Karena itu, dunia intelijen
bukan hal yang menakutkan. Dalam pandangannya, intelijen sebagai alat represif
yang diterapkan di pemerintah otoriter dan tiran, seperti Uni Soviet dan Rumania,
yang langsung menjebloskan lawan politiknya ke penjara.
Berbekal pengalaman di dunia inteljen itu pula, Suripto kemudian mencoba kemampuannya
di Republik Rakyat Cina (RRC) ketika pada tahun 1981 mendapat tugas rahasia
dari Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja. Saat itu, ia harus menjajagi
kemungkinan normalisasi hubungan RI – Cina, meskipun Mabes ABRI saat itu dengan
tegas menolak normalisasi hubungan diplomatik mengingat bahaya komunis.
danamp;quot;Saat itu saya seperti ‘James Bond’ hingga akhirnya ketemu Wakil Menlu
Cina Han Nian Long,danamp;quot; kenang Suripto. Sekembalinya dari Cina, Suripto menyampaikan
laporan kepada Mochtar Kusumaatmadja untuk kemudian diteruskan kepada Presiden
Soeharto. Namun karena misi rahasia itu pula, Benny Moerdani yang saat itu menjabat
Wakil Kepala Bakin menginstruksikan agar Suripto diinterogasi di Bakin yang
berujung pada pengunduran diri Suripto dari LSS Wanhankamnas. Tak lama kejadian
itu, LSS kemudian bubar.
Dalam kiprahnya, Suripto kemudian juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan
Saudara Baru Indonesia (Persabi), sebuah organisasi kemasyarakatan muslim keturunan
Cina.
Bulan November sampai Desember 1992, Suripto juga berkesempatan mengemban misi
mendebarkan di Bosnia dengan tugas memasok senjata kepada para pejuang Muslim
Bosnia yang sedang berperang dengan Serbia di negeri pecahan Yugoslavia itu.
Ia menjadi utusan dari Komite Solidaritas untuk Bosnia yang diketahui pengusaha
Probosutedjo. ;Pada
mulanya kepergian Suripto ke Bosnia untuk memberikan sumbangan pakaian dan makanan.
Namun, kenyataan di lapangan sangat lain. Para pejuang Muslim Bosnia menyatakan
bahwa korban perang di Bosnia memang membutuhkan pakaian dan makanan, tetapi
yang lebih penting adalah sumbangan senjata yang dapat melindungi mereka. Maka
Suripto kembali bergelilya dalam dunia inteljen untuk membeli senjata di Kroasia
bagi para pejuang Muslim Bosnia.
Tahun 1995, Suripto membentuk Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis
Indonesia (Lesperssi) dan duduk menjadi ketua dewan penasehat, dengan anggota
terdiri atas Yuwono Sudarsono, Sarlito Wirawan, dan A. Muis.
Seperti ketika ditunjuk sebagai utusan untuk membeli dan menyerahkan bantuan
senjata ke Bosnia, Suripto juga sama sekali tidak menyangka atau bermimpi bahwa
dirinya diangkat menjadi Sekjen Dephutbun pada November 1999, dua bulan setelah
Nurmahmudi Ismail menjadi Menhut.
Suripto mengenal Nurmahmudi Ismail sejak tahun 1990-an ketika mantan Menhut
itu masih bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dia mengaku
bertemu dengan Nurmahmudi dalam berbagai seminar. danamp;quot;Saat menjadi Menhut,
Nurmahmudi menawari saya untuk menjadi Sekjen,danamp;quot; kata Suripto.
Suripto juga menegaskan bahwa hubungannya dengan Nurmahmudi hanya sebatas itu,
bukan karena dia merupakan simpatisan atau deklarator Partai Keadilan yang pernah
dipimpin Nurmahmudi.
Mengenai demonstrasi dari sebagian karyawan dan beberapa LSM yang menolak kehadirannya
di Dephut, ia mengenang itu sebagai satu kesalahpahaman saja. Terbukti, setelah
menggeluti pekerjaan tersebut, Suripto dapat bekerja sama dan mampu mengatasi
kasus-kasus pelangarn hukum dibidang kehutanan, hingga akhirnya dicopot pada
27 Maret 2001.
Suripto mengakui bahwa di masa mudanya dahulu, dia jarang mengingat Tuhan dalam
artian tidak sholat lima kali dalam setiap hari, terlebih lagi Suripto seorang
sosialis. Pengetahuan agama Islamnya pun tidak mendalam.
Menurut Suripto, gerakan sosialis memang sangat kurang memberi perhatian pada
segi akidah. Gerakan itu tidak memahami bahwa ada sesuatu yang harus diperjuangkan
dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka tidak berpikir
untuk menabung sebagai bekal di akhirat. Penanaman idealisme sosialis lebih
terarah pada idealisme materiil.
Yang kemudian mengubah keyakinan Suripto untuk rajin beribadah adalah seorang
ustad muda yang ditemuinya pada tahun 1983. Suripto tidak bersedia menyebutkan
nama ustad tersebut. Saat itu, memang dia sedang mencari-cari orang yang bisa
menjelaskan kepada dirinya tentang Islam secara rasional dan bisa menggugah
isi hatinya.
danamp;quot;Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan salah seorang ustad yang saya
kira cocok dengan keinginan saya,danamp;quot;katanya. Ia terkesan pada ustad tersebut
karena dalam memberikan dakwahnya dia bisa menjelaskan isi kandungan Kitab Suci
Al-Qur’an secara kontekstual. Sebelumnya, oleh ustad-ustad yang lain, dirinya
cuman diajari isi Al Qur’an ayat per ayat. Dengan itu kata Suripto tidak bisa
memahami persoalan hidup dari perspektif Al Qur’an. Sejak saat itu ia tertarik
dan mengikuti terus kajian-kajian keislaman.
Pada usianya yang kian senja, dia semakin dalam menekuni kajian-kajian ke-Islaman
dan aktif dalam kegiatan sosial serta dakwah pada lembaga yang dipimpinnya Persaudaraan
Baru Indonesia (Persabi) yang anggota-anggotanya terdiri atas mualaf (orang
yang baru memeluk agama Islam) keturunan Cina. Jumlah anggota Persabi mencapai
30 ribu orang.
Suripto telah empat kali menunaikan ibadah haji sejak tahun 1984 dan dari pengalaman
ritual dalam menjalankan rukun Islam kelima itu pula, dia merasa semakin dekat
dengan Sang Maha Pencipta, Allah SWT.(Dikutip dari Suripto – Menguak Tabir
Perjuangan)

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: