Abdullah Sunata

Uzdatz teroris /syaiton

++++
Abdullah Sunata Rancang Pembunuhan Presiden
SABTU, 15 MEI 2010 | 07:36 WIB
Besar Kecil Normal
Abdullah Sonata. TEMPO/Yosep Arkian

TEMPO Interaktif, Jakarta – Polisi mengklaim kelompok yang dipimpin Arman Kristianto alias Abdullah Sunata merencanakan penyerangan terhadap Istana Negara pada 17 Agustus 2010. Kelompok teroris yang menyebut dirinya Al-Qaidah Indonesia Wilayah Serambi Mekkah itu telah menyiapkan puluhan senjata dan peluncur granat.

“Mereka akan serang dan bunuh RI-1, pejabat, dan tamu negara yang sedang upacara di Istana,” kata Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam jumpa pers di kantornya kemarin.

Suhardi alias Usman alias Rosikienoor sudah diperintahkan mengambil 21 pucuk senjata dari Mindanao, termasuk peluncur granat, untuk Hari Kemerdekaan. Di antara senapan itu ada senapan jarak jauh yang biasa digunakan para sniper.

“Semua itu diperintahkan oleh Maulana.” Ahmad Maulana alias Zakaria Samad alias Malik alias Luqman adalah lelaki yang ditembak mati petugas Detasemen Khusus 88 Antiteror pada Rabu lalu di Cawang, Jakarta Timur.

Kepala Polri kemarin menunjukkan sebuah bagan organisasi yang menggambarkan jabatan Sunata sejajar dengan para senior kelompok ini, misalnya Dulmatin, yang tewas dalam penggerebekan di Pamulang, Maret silam. Bersama Dulmatin, Sunata juga memimpin 15 orang di Aceh dan 45 orang di luar Aceh.

Sunata adalah atasan Maulana, Sofyan, Mustakin, Ardi, Mahfud, Yudi, dan Jaja. Jaja tewas di Aceh, sedangkan adiknya, Slamet Saptono, ditembak mati pada Rabu sore lalu di Cikampek, Jawa Barat.

Menurut dia, gerak-gerik Sunata sudah lama diamati Detasemen Khusus. Abdullah Sunata adalah pemimpin kelompok Komite Aksi Penanggulangan Krisis (Kompak) di Ambon. Sunata pernah ditangkap pada 2 Juli 2005 karena menyembunyikan Noor Din M. Top dan menyimpan senjata api. Pada Mei 2006, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonisnya tujuh tahun penjara. Setelah keluar dari penjara, ia kerap muncul di berbagai media massa untuk menjelaskan soal teroris.

Belakangan, kata Bambang Hendarso, “Dia kembali memimpin Kompak dan jadi buron sampai sekarang,” katanya. Nama Sunata masuk daftar 12 buron kasus terorisme di Aceh setelah sejumlah tersangka teroris Aceh yang ditangkap “bernyanyi”.

Sunata lahir di Bambu Apus, Jakarta Timur, 4 Oktober 1978. Ia disegani setelah menjadi Komandan Laskar Mujahidin Kompak di Ambon. Polisi menuduhnya menyabot gudang senjata Brimob Polri di Tantui, Ambon, pada 2000. Di Poso, Sulawesi Tengah, ia memimpin Kompak Kayamanya.

Pada 2002, setelah Bom Bali I, Sunata konon bertemu dengan Dulmatin dan Umar Patek di Jakarta. Polisi menengarai, dia dan Maulana membantu membuka kamp pelatihan di Mindanao, Filipina, sekaligus memasok dana dari Timur Tengah. Pada April 2004, Sunata membangun kamp pelatihan Olas, Seram Barat, untuk konflik di Ambon.

“Sunata seorang organisatoris,” kata pengamat intelijen Dynno Chressbon. Sunata menolak aksi bom bunuh diri di sembarang tempat. Ia berpendapat medan tempur hanya di daerah konflik semacam Poso, Ambon, dan Aceh. “Dia tak mau menyerang Jakarta dan Bali,” ucapnya. Tapi ia sepakat dengan rekan-rekannya soal pembunuhan pemimpin negeri yang mereka perangi.

Polisi memburu Sunata, Patek, dan Abu Tholut di Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatera Barat. “Posisi mereka terkunci. Tinggal didor,” Dynno menambahkan.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: