Bachtiar Chamsyah

H. Bachtiar Chamsyah, SE (lahir di Sigli, Aceh, 31 Desember 1945; umur 64 tahun) adalah Menteri Sosial pada Kabinet Indonesia Bersatu. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ekonomi, Universitas Medan Area pada tahun 1997 (dari Wikipedia)

Sekarang : Tersangka kasus korupsi di Departemen Sosial

++

Liputan6.com, Jakarta: Menjadi tersangka korupsi dalam kasus pengadaan impor sapi dan mesin jahit, mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah menyatakan siap menghadapi.

Ditemui usai ibadah salat Jumat di Jakarta, hari ini (5/2), Bachtiar yang pernah menjadi anggota DPR itu mengaku mendapat musibah. Ia juga merasa disalahkan atas apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab pejabat Departemen Sosial di tingkat direktur jenderal.

Namun ia menolak mengomentari rencana Partai Persatuan Pembangunan untuk hengkang dari koalisi dengan Partai Demokrat terkait kasusnya itu. Saat ini,
Bachtiar mengaku hanya fokus dalam masalah hukum dan enggan masuk ke ranah politik.

Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Bachtiar sebagai tersangka dalam proyek pengadaan sapi impor dan mesin jahit di Depsos pada 2004-2006. Dugaan korupsi di proyek tersebut dianggap merugikan keuangan negara Rp 27,6 miliar.(TES/YUS)

+++
Bachtiar Chamsyah Seret Politikus Demokrat
Jum’at, 05 Februari 2010 | 13:42 WIB
Tersangka bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah menimpakan kesalahan dalam kasus yang menjerat dirinya kepada anak buahnya. Selain rekanan, Bachtiar juga menyebut politikus Partai Demokrat, Amrun Daulay, sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam proyek pengadaan mesin jahit dan sapi impor pada 2004-2006 di departemennya.

“Saya prihatin sama Dirjen. Tanggung jawab ada pada birokrasi di bawah saya,” kata Bachtiar di Jakarta, Jumat (5/2).

Menurut Bachtiar, saat kasus terjadi, Amrun menjabat Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Departemen Sosial. Amrun, kata dia, adalah orang yang mengusulkan proyek tersebut. Bawahannya itu juga, kata dia, yang bekerja sama dengan rekanan dalam penentuan harga proyek. “Kalau dulu saya tahu ada mark up, saya pecat itu staf,” ujarnya.

Dia menuturkan, sewaktu Badan Pemeriksa Keuangan menyatakan proyek tersebut tak efisien, dirinya segera memanggil Amrun. “Saya marah sama Dirjen (Amrun),” katanya. Dia lantas memerintahkan inspektur jenderal membereskan masalah proyek itu.

Bachtiar juga menyebut tak ada keterlibatan bekas staf ahlinya, Sigid Haryo Wibisono, dalam kasus yang diduga merugikan negara sekitar Rp 37,8 miliar itu. “Sigid itu saya pakai waktu konflik di Aceh,” katanya. Proyek tersebut, kata Bachtiar, tak terkait proyek pengadaan sapi dan mesin jahit yang kini membelitnya.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: