Ahmad Deni Daruri

Pengamat Perbankan

+++
Ahmad Deni Daruri : “SBY Bohongi Rakyat Tak Jujur Pilih Cawapres”
http://www.indonesia-monitor.com
SEBAGAI anggota PKS, Ahmad Deni Daruri begitu kecewa ketika partainya memutuskan untuk mendukung pasangan SBYBoediono. Menurut Presiden Direktur Center for Banking Crisis (CBC) itu, SBY membunyikan alasan mengapa memilih Gubernur Bank Indonesia (BI) sebagai cawapres. “Ia tidak jujur,” ujar Deni Daruri kepada Moh Anshari dari Indonesia Monitor, Rabu (20/5). Berikut ini petikan wawancara dengan mantan caleg PKS dari dapil Bali itu.

Apa alasan Anda membelot dan bergabung ke pasangan JK-Wiranto?

Pertama, karena ketidakjujuran SBY dalam memilih Gubernur BI Boediono sebagai cawapres. Kalau memilih Boediono dengan alasan agar ekonomi ke depan menjadi lebih baik dan mengantisipasi dampak krisis global hingga perlu mengangkat seorang ekonom, itu alasan yang kurang jujur. Karena sebagai lembaga ekonomi, BI juga bertugas di bidang moneter. Justru akan lebih pas kalau Boediono tetap di BI dan tidak ditarik menjadi cawapres agar lebih maksimal menjadi penjaga moneter bangsa kita. Justru kalau BI bisa maksimal maka akan makin mempercepat proses pertumbuhan ekonomi.

Alasan kedua?

SBY merusak tatanan bank sentral ke depan. Kalau menarik gubernur BI yang sudah dipilih oleh DPR dan belum habis masa jabatannya, ini kan merusak tatanan bank sentral dan lembaga negara yang mengurus ekonomi. Ini akan terjadi distrosi terhadap fundamen ekonomi kita di masa yang akan datang. Itulah yang menjadi platform saya dalam memilih pemimpin, yaitu adanya kejujuran.

Jadi, bukan karena Boediono pro-neoliberal dan tidak mewakili kelompok parpol Islam?

Prinsipnya adalah karena ketidakjujuran SBY dalam membuat alasan. Kejujuran yang paling penting dalam memimpin bangsa. Kalau sejak dini sudah begini, nanti presiden bisa dengan mudah akan mengintervensi lembaga kekuasaan tinggi lainnya untuk menjadikannya sebagai cawapres. Kalau alasannya ekonomi, jelas blunder. Memangnya BI bukan lembaga ekonomi. BI adalah bank sentral, penjaga moneter, penjaga inflasi, penjaga rupiah dan perbankan. Itu kan lembaga ekonomi juga. Justru lebih strategis BI dalam menjaga perekonomian bangsa. Kita ingin memaksimalkan peran BI di situ dengan tetap tidak mengambil gubernur BI untuk jabatan lain.

Seandainya cawapres SBY bukan Boediono, apa Anda akan mendukungnya di Pilpres 2009?

Kebijakan ekonomi kita selama lima tahun ini berkiblat pada aliran neoklasik. Neoklasik itu prosiklus (mendorong risiko krisis menjadi semakin besar) terhadap fiskal. Itu yang membuat saya tidak mendukung. Kebijakan pemerintah selama ini beraliran neoklasik atau sejalan dengan Mafia Berkeley (sebutan untuk kelompok ekonom lulusan universitas di AS yang proneoliberal). Itu tergambar pada kebijakan fiskal dan moneter. APBN kita selalu pro-siklus dengan menjual BUMN dan menarik subsidi. Itu semua orang-orang prosiklus. Jadi, karena saya basic-nya ekonomi dan dibesarkan di bidang ekonomi, saya menolak pasangan SBY-Boediono.

Apa bedanya dengan konsep ekonomi yang diusung JK-Wiranto?

Kalau JK kan jelas lebih pada penguatan peran negara, penguatan industri dalam negeri, dan dia komitmen agar pemerintah bisa melakukan intervensi langsung terhadap pelaku ekonomi. Jadi, alasan saya bergabung ke JK dan tidak mendukung SBY itu lebih karena alasan aliran ekonomi yang dianut ketimbang alasan politik.

Kenapa para elite PKS yang semula menolak SBY-Boediono tiba-tiba menerima?

Itu urusan mereka. Saya tidak paham soal politik. Yang jelas, alasan saya tidak mendukung karena memandang pencalonan Boediono dapat merusak tatanan lembaga tinggi negara, terutama bank sentral. Ini kan membuat contoh moralitas yang tidak baik buat generasi ke depan. Ini penting bagi kaum muda ke depan. Nanti lembaga BI bisa-bisa dijadikan sebagai batu loncatan untuk mencari jabatan politik semisal cawapres. Ini bahaya sekali.

Kenapa Boediono mau saja dijadikan cawapres?

Itulah anehnya. Kalau dia profesional pasti nggak mau. Bilang saja sama SBY, ‘Saya akan mendukung dengan cara penguatan di bidang moneter biar ekonomi tumbuh’. Jadi, sikap Boediono itu amoral dalam berpolitik. Mestinya Boediono nggak usah tergoda dengan jabatan cawapres. Urusi BI saja secara profesional. Boediono itu menerima jabatan politik sebelum masa tugasnya di BI selesai. Mungkin ceritanya akan lain kalau dia dilamar Mega, mungkin dia nggak mau. Begitu juga kalau Boediono dilamar JK, mungkin dia juga nggak mau.

Bagi Anda, apa temanteman di PKS yang balik mendukung SBY-Boediono itu nggak jujur juga?

Ya. Artinya kurang digali lebih mendalam lagi. Bahwa kita ini perlu kejujuran. Itu yang paling penting buat saya. Kalau kepada diri sendiri tidak jujur buat apa jadi pemimpin?

Apa ada sanksi dari DPP PKS setelah Anda membelot ke JK-Wiranto?

Saya ini bukan orang partai dan bukan kader. Meski sempat jadi caleg PKS, tapi saya hanya simpatisan PKS. Saya bukan kader dan bukan pengurus PKS. Jadi, nggak ada sanksinya. Saya bukan berasal dari Partai Hanura, bukan Golkar, dan bukan PKS. Saya berani mengambil sikap berbeda. Sebab, kalau saya mendukung SBY-Boediono, saya mengingkari hati nurani dan pandangan ekonomi saya sendiri. Dukungan saya ke JK ini bukan bicara kepentingan, tapi lebih karena prinsip pribadi saya. Saya punya acuan track record bagaimana ekonomi SBY dan Boediono. Itu yang membuat saya mengambil sikap menentang mereka.

Reaksi teman-teman petinggi PKS gimana?

Nggak ada yang reaksi. Biasa saja.

Anda kecewa dengan sikap mereka?

Ya. Tapi kekecewaan saya bersifat pribadi. Sekali lagi, alasan ekonomi yang membuat saya berani mengambil sikap berbeda dengan mereka, bukan alasan politik. Bagi saya, SBY juga telah membohongi rakyat seolah-olah ekonomi akan lebih maju kalau Boediono dijadikan wapres. Padahal itu terbalik. Lebih baik perannya Bank Sentral ketimbang wapres. Justru antara pemerintah dan BI ibarat dua sisi mata uang. Pemerintah berperan di bidang fiskal, BI berperan di bidang moneter. Kalau alasan penarikan Boediono untuk memperkuat ekonomi itu salah. Justru Boedino harus memaksimalkan BI ke depan agar lebih kuat dan andal. Itu yang membuat saya tidak mendukung pencalonan Boediono.

Apa ada kader PKS yang ikut Anda ‘membelot’ ke JKWiranto?

Oh nggak tahu ya. Pilihan ini sikap pribadi saya, tidak mau mengajak orang. Karena saya hanya simpatisan partai mungkin mereka nggak terlalu risau dengan pilihan sikap saya. Kalau saya jadi anggota memang ya, sebab kalau mau jadi caleg kan harus punya kartu anggota partai. Tapi terserahlah kalau status saya mau dihapus.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: