Aulia Pohan

Besan Presiden SBY, ayah dari Annisa Pohan.
Terpidana tindak pidana korupsi
++
Sedikit background Aulia Pohan
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 12/III/10-16 April 2000
– ————————————

KEMENANGAN SOEHARTO DI BI?

(POLITIK): Namanya tercantum dalam Laporan World Bank tentang KKN di
Indonesia. Mengapa ia lolos jadi deputi gubernur BI?

Dua hari setelah Aulia Pohan dinyatakan sebagai “pemenang” di antara
dua kandidat lainnya —Burhanuddin Abdullah dan Cyrillus Harinowo–
dalam uji kelayakan dan kepantasan (fit and proper test) di muka
anggota Komisi IX DPR, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengadakan
keterangan pers, untuk menolak Aulia Pohan.Isinya, mengutip hasil
laporan World Bank atas KKN di Indonesia tahun 1999, nama Aulia Pohan,
yang sebelumnya sudah dikenal sebagai Deputi Gubernur BI bidang
Pengedaran Uang disebut-sebut sebagai kaki tangan keluarga Cendana,
yang memang sengaja ditempatkan di BI. Tujuannya, tulis laporan World
Bank tersebut, agar Aulia menjaga pasokan dana untuk kepentingan
keluarga, terutama kepentingan bisnis anak-anak Soeharto sebelum
sampai datangnya krisis ekonomi. Akibatnya, sikap partai yang dipimpin
oleh Matori Abdul Djalil itu menolak terpilihnya Aulia Pohan sebagai
calon Deputi Gubenur BI pada 17 Mei mendatang.

Ibarat geledek di siang hari, penolakan itu membuat merah dan panasnya
telinga para anggota Partai Golkar, yang sehari sebelumnya dinyatakan
oleh Ketua Umumnya Akbar Tandjung bahwa Aulia adalah “jago”-nya
Golkar. Itulah yang membuat sejumlah anggota Komisi IX DPR, khususnya
dari PKB dan PDI Perjuangan, marah bukan kepalang. “Kami ini
dibohongi. Karena ternyata Aulia itu sudah didukung oleh Golkar.
Bahkan, Golkar sudah bermain dengan mencoba merayu dan menyuap
beberapa anggota PDI Perjuangan,” kata Didi Supriyanto. Sedangkan dr
Sukowaluyo Mintorahardjo, ketua Komisi IX DPR menyatakan kekesalannya
akibat rekayasa Golkar. “Presentasi itu cuma boong-boongan. Karena
sebetulnya, nama Aulia sudah dimenangkan sebelum presentasi itu
sendiri,” tandasnya.

Menyusul penolakan PKB dan PDI Perjuangan, muncul juga penolakan resmi
dari sekitar 300 orang karyawan di lingkungan Bank Indonesia (BI). Di
antaranya berasal dari karyawan BI di kantor pusat Jakarta, Bandung,
Semarang dan DI Yogyakarta. Nama Aulia Pohan sebagai Deputi Gubernur
BI, secara tegas ditolak. Para pegawai BI itu menuntut DPR membatalkan
hasil seleksi yang dinilai kental kepentingan partai politik model
Orde Baru. Hal itu dilontarkan oleh Direktur Peredaran Uang BI, Herman
Y Susmanto, dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu petang (26/3).

Di antara puluhan pegawai BI yang mendampingi Susmanto, juga hadir
koordinator BI Jawa Tengah Budi Rochadi dan Kepala Bagian Pinjaman
Luar Negeri Lukman Bunyamin. Disebutkan, jumlah pegawai BI yang
menentang Aulia Pohan bakal bertambah. Menurut sejumlah pegawai BI
yang ikut menghadiri jumpa pers itu, Aulia Pohan tidak layak menduduki
kembali posisinya tersebut. “Tujuh deputi sekarang ini dianggap tidak
efisien dan kesia-siaan. Karena deputi gubernur hanya menjalankan
fungsi pendukung, bukan fungsi inti. Apalagi sekarang ini tugas-tugas
BI berkurang jauh. BI tidak lagi mengurusi kredit yang dulu memerlukan
banyak sekali administrasi,” tambah Lukman. Para pegawai BI
menginginkan pertemuan dengan pimpinan DPR, untuk mendesak agar
pemilihan calon Deputi Gubernur BI yang sarat kepentingan Golkar itu
dibatalkan. Bagi para penentang Aulia, dukungan Golkar terhadap Aulia
Pohan, dikhawatirkan akan mengurangi independensi BI sebagai bank
sentral. Suswanto menekankan, BI merupakan bank sentral yang vital
sehingga memerlukan orang yang profesional dan terlepas dari pengaruh
partai politik mana pun. Para penentang itu merencanakan tindakan yang
lebih besar apabila Aulia Pohan tetap dikukuhkan sebagai deputi
gubernur. “Mogok total sampai pemboikotan,” lanjutnya.

******************************
AULIA POHAN

Lahir di Palembang, 11 September, 35. Aulia Pohan mengaku calon deputi
gubenur BI yang paling komplit dan paling siap. Ayah tiga anak, yang
menamatkan sarjana ekonomi jurusan ekonomi perusahaan di Fakultas
Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, adalah satu
angkatan dengan Cyrillus Harinowo ketika masuk di BI. “Saya juara I,
Aulia hanya juara II,” aku Cyrillus ketika presentasi di DPR.

Aulia memang pernah bertugas di luar negeri, menjadi kepala perwakilan
BI di Tokyo. Karirnya dirintis dari bawah, ia dipercaya sebagai Deputi
Gubernur BI, disebut-sebut karena sesuku (Padang) dengan Syahril
Sabirin . Kepada Dewan, ia juga mengaku sebagai seorang reformis
sejati. “Orang-orang BI di sektor perbankan dan pengawasan itu yang
paling brengsek. Di situ memang sarang penyamun. Tapi, sekarang sudah
saya bersihkan. Saya siap membersihkan para penyamun itu,” janjinya.
Nah, itulah yang membuat Dewan salut dan memberi nilai A kepadanya.
Sebaliknya, karyawan BI menggerundel.

Ia mengaku sudah bekerja 28 tahun di BI tapi, tetap miskin. Ia mengaku
hanya punya rumah di Pondok Indah seluas 300 meter. Tabungan
satu-satunya katanya hanya di BNI 46 dan tidak punya deposito. “Saya
susah menjelaskan ke anak-anak saya. Mereka sedih karena bapaknya
dituduh maling. Tetapi, apa saya maling? Buktikan kalau saya maling.”
Nanti, tunggu saja hasil audit investigatif BPK. (*)
******************************

Sementara itu, Koordinator Badan Pekerja Indonesian Corruption Watch
(ICW) Teten Masduki, meminta Gubernur BI Syahril Sabirin menegaskan
dan menjelaskan sikapnya secara terbuka menyangkut kekhawatiran
sejumlah pihak soal intervensi terhadap BI. Bahkan, Teten minta agar
dibentuk tim untuk menelusuri money politics yang ditunjukkan Golkar
saat mendukung dan melakukan permainan politik oleh Partai Golkar
terhadap Aulia Pohan. “Karena Partai Golkar sudah mengaku mendukung
sejak awal pencalonan Aulia Pohan, sebaiknya BI menegaskan dan
menjelaskan sikap tidak diintervensinya dan independensinya BI sebagai
bank sentral. Penjelasan itu penting. Sebab, nantinya dapat memberi
ketenangan dan jaminan bagi DPR, masyarakat, pelaku pasar dan karyawan
BI sendiri. Dukung-mendukung seperti Golkar itu memberi peluang
politik utang budi,” tegasnya.

Sementara ini, DPR sudah memutuskan Aulia Pohan tetap sebagai Deputi
Gubernur BI, lewat voting. Perpecahan di BI, juga bisa diredam. Namun,
hasil audit investigatif, yang akan memperkuat tuduhan selama ini
terhadap Aulia, tentu tak bisa dibendung. Tunggu saja. (*)

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: