Susno Duadji

++
Dari Majalah Tempo
Sepak Sikut Anak Sopir
Pernah dipuji karena menggasak preman, Susno Duadji terpeleset kasus pencairan dana Bank Century dan kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi. Catatan kelam anak Pagar Alam.

Nissan Serena hitam itu berhenti di depan rumah jembar di Jalan Panglima Polim, Kebayoran, Jakarta, Kamis pekan lalu. Seorang petugas membukakan pintu dan pria bertubuh gempal itu segera menghambur ke luar. Susno Duadji, 55 tahun, sang lelaki, segera bergegas masuk rumah. ”Maaf ya, sudah menunggu,” katanya kepada Tempo, yang telah berada di rumah itu setengah jam lebih awal. Masuk sebentar, ia lalu keluar didampingi Herawati, istrinya. Tak lama dari balik pintu menyembul kepala bocah kecil berusia hampir dua tahun—cucu pertama Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian non aktif itu. Dari belakangan rumah sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran.

Susno tampaknya tahu seperti apa kini harus tampil di depan media massa: kepala keluarga yang baik dan muslim yang taat. Selasa dua pekan lalu Mahkamah Konstitusi memutar rekaman pembicaraan Anggodo Widjojo, adik buron polisi Anggoro Widjojo, bos PT Masaro Radiokom. Masaro diduga terlibat korupsi pengadaan alat dan jaringan komunikasi untuk Departemen Kehutanan. Rekaman itu secara terang menyebut Susno terlibat upaya mengkriminalkan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Rianto.

Susno membela diri dalam rapat kerja Komisi III DPR. Dalam rapat itu ia menyangkal tudingan terlibat kongkalikong pencairan dana nasabah kakap Bank Century. Katanya setelah klarifikasi di DPR itu keluarganya kembali normal. ”Kembali ada kehidupan di rumah ini,” katanya, Kamis petang pekan lalu. ”Sebelumnya, keluarga saya pergi ke mal saja malu.”

l l l

SUSNO Duadji lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1 Juli 1954. Anak kedua dari delapan bersaudara ini lulus Akademi Kepolisian pada 1977. Ayahnya, Duadji, adalah sopir; ibunya ibu rumah tangga biasa.

Sebagai polisi, Susno pernah menjadi Wakil Kepala Polres Yogyakarta; Kepala Polres Maluku Utara, Ambon, Madiun, dan Malang. Pada 2004 ia menjadi perwira tinggi yang ditugaskan di Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Setelah itu ia kembali ke korps kepolisian menjadi Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat. Di bumi Parahyangan itu ia mulai dikenal karena aktif memerangi preman. Nomor teleponnya diumumkan kepada masyarakat yang ingin melaporkan praktek tukang palak itu. Sejumlah aktivis antikorupsi memuji Susno sebagai Kepala Polda pertama yang meminta anak buahnya meneken pakta integritas sebagai jaminan tak akan korupsi.

Sebagai Kepala Polda, Susno pernah sesumbar. Katanya, ”Tidak perlu kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani.”

Dari Jawa Barat, Susno diangkat menjadi orang nomor tiga di kepolisian: Kepala Badan Reserse Kriminal, menggantikan Bambang Hendarso Danuri, yang menjadi Kepala Polri. Saat itu luar biasa Bambang Hendarso memuji Susno. ”Orangnya konsisten, keras, tegas, dan tidak mau kompromi,” kata Bambang.

Cerita ”miring” tentang Susno bukan tak ada. Syahdan, setelah menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, ia disebut-sebut berperan dalam pembebasan George Gunawan, pengusaha tekstil asal Bandung.

Menurut kuasa hukum George, Fredrich Yunadi, kasus ini bermula dari sengketa kepemilikan saham dalam perusahaan tekstil milik keluarga. Saking kerasnya perseteruan, George sempat memaksa masuk pabrik dengan merusak pintu. Perusakan itu dilaporkan ke polisi.

George kemudian ditangkap melalui sebuah penyergapan yang dramatis. Setelah menghadiri deklarasi calon presiden SBY dan wakilnya, Boediono, pada Mei lalu, di daerah Cihampelas, Bandung, mobilnya dipepet tiga kendaraan polisi. George menduga dia dirampok, sehingga cepat-cepat melarikan diri. Polisi melepaskan tembakan peringatan. George ditangkap.

Kepolisian Daerah Jawa Barat menahan George dengan tuduhan merusak pintu kantor perusahaan. Penahanan ini diprotes. Mereka juga melaporkan polisi Jawa Barat ke Divisi Profesi dan Pengamanan Markas Besar Kepolisian dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Markas Besar Kepolisian lalu menurunkan tim untuk memeriksa kasus ini.

Di sini Susno disebut-sebut ”menawarkan jasa” membebaskan George Gunawan. Kepada Tempo, Susno membantah. Katanya, sebagai pembina penyidik, ia memang mendapat surat dari keluarga George Gunawan. Surat yang sama juga ditujukan ke Divisi Profesi dan Pengamanan. Sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal, Susno menurunkan penyidik ke Bandung. Apalagi ada laporan George dianiaya dan hak asasinya terancam. ”Jadi tidak ada semua (soal uang suap) itu,” kata Susno.

Cerita serupa juga muncul di Surabaya, April lalu. Saat itu polisi menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) terhadap bos Maspion Group, Alim Markus. Alim menjadi tersangka membuat akta jual-beli tanah palsu dan membongkar bangunan milik orang lain di Jalan Pemuda 17, Surabaya.

Kasus ini berawal dari sengketa tanah dan bangunan seluas 1.100 meter persegi yang melibatkan Alim, PT Singo Barong Kencana, dan Pemerintah Kota Surabaya.

Keluarnya surat perintah penghentian penyidikan, kata sumber Tempo, karena ”jasa” Susno Duadji dengan iming-iming rupiah. Susno memang bukan orang lain bagi Alim. Pernah menjadi Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya pada 1999, Susno akrab dengan pengusaha senior itu. Susno menampik perihal menabur ”jasa” pada Alim. ”Sama sekali tidak ada,” katanya.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: