Abubakar Ba’asyir

Pengurus Pesantren Ngruki, Godfather ” terorist” Indonesia. Terakhir beliau dibaiat sebagai  bos  ISIL(organisasi teror Irak-Syria)
se-t700

+++++
13/08/2009 – 15:54
http://www.inilah.com/berita/politik/2009/08/13/141642/doa-abubakar-baasyir-untuk-teroris/
‘Doa’ Abubakar Ba’asyir untuk Teroris

Abubakar Ba’asyir, pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, membacakan doa bagi dua jenazah yang terlibat jaringan teroris pembom Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli. Bagi kalangan Islamis radikal, doa simbolis Ba’asyir itu menunjukkan sinyal bahwa Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono dianggap sebagai ‘pelaku jihad’, bukan teroris. Mengapa?

Langkah Ba’asyir itu sungguh simbolis, seakan meneguhkan apa yang dinyatakan Orientalis Prof Bernard Lewis sebagai ‘bahasa politik Islam’. Di sini cap teroris oleh pemerintah dan publik dibaca secara berbeda oleh para Islamis. Sebab kelompok yang mengantar jenazah Air dan Eko melihat kedua sosok itu sebagai para ‘jihadis’, bukan teroris. Perbedaan cara pandang ini sangat laten dan itu menandai adanya persepsi yang berbeda secara diametral di antara masing-masing kutub.

“Kutub pemerintah memberikan stigma teroris bagi Air dan Eko, sedangkan kutub kelompok Muslim radikal menganggapnya ‘jihadis’. Ini memang salah satu problem yang menyulitkan langkah membasmi terorisme,” kata Noorhaidi Hasan PhD, peneliti Islam radikal dan dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Ketika datang melawat dua jenazah teroris yang ditembak Densus 88 Antiteror itu, Ba’asyir mengatakan dirinya tetap mendoakan Air dan Eko mendapat pahala dan ampunan dari Allah SWT. Meskipun, sambung Ba’asyir, ijtihad yang dilakukan Eko dan Air berbeda dengan dirinya. “Semoga kepada keduanya diberikan pahala. Dan mereka tetap pejuang Islam, karena memperjuangkan syariat Islam,” kata Ba’asyir.

Doa Baa’syir itu ‘sarat makna’ simbolis dan ideologis, karena tetap menyebut kedua teroris itu menjalankan perintah agama yakni demi tegaknya syariat islam. Keberangkatan jenazah Air dan Eko ke tempat peristirahatannya yang terakhir di pemakaman muslim Kaliyoso, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah, diantar oleh ratusan orang. Iring-iringan kendaraan pengantar jenazah terdiri dari dua mobil ambulans, satu mobil pribadi, dan sekitar 200-an sepeda motor.

Sempat terjadi kericuhan di lokasi pemakaman khusus tersebut. Hal itu terjadi karena salah seorang anggota Laskar mengejar seseorang yang dianggap sebagai provokator. Namun kericuhan itu reda setelah sejumlah anggota lainnya melerai. Polisi yang berada di lokasi kejadian pun mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kericuhan tersebut.

Abubakar Ba’asyir mencoba meredam luapan emosi para pelayat. Umumnya mereka melihat sosok Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono sebagai ‘jihadis’ dalam suatu perlawanan menghadapi apa yang mereka bayangkan sebagai superkapitalisme adidaya. Dua tersangka teroris yang tewas dalam penyergapan di Jatiasih, Bekasi itu, dimakamkan berdampingan.

Jenazah Air dan Eko dimasukkan ke dalam liang lahat sekitar pukul 10.15 WIB, Kamis (13/8). Prosesi pemakaman sempat terkendala, karena tidak tersedia peralatan seperti cangkul untuk menimbun liang lahat dengan tanah. Namun setelah para pengantar mendapatkan pinjaman cangkul dari warga, proses pemakaman berjalan lancar.

Tidak ada nisan di atas makam Eko dan Air yang bertuliskan nama masing-masing. Sebagai pertanda, di atas masing-masing makam, para pengantar hanya meletakkan gundukan batu. Selebihnya waktu yang membisu. [P1]

INILAH.COM, Solo – Berdasarkan informasi Polri, kediaman SBY di Puri Cikeas bakal diancam bom oleh kelompok Noordin M Top. Pengasuh Ponpes Al Mukmin Ngruki, Abu Bakar Baasyir menilai hal itu tak lebih dari rekayasa belaka.

“Rencana Cikeas itu sebuah rekayasa pengalihan isu teroris global ke teroris lokal Indonesia, karena yang diincar adalah seorang presiden,” kata Baasyir saat melayat jenazah Eko Joko Sarjono dan Air Setiawan, di Brengosan, Solo, Kamis (13/8).

Menurut Baasyir, selama ini para pembom selalu mengincar kawasan vital yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat. Bagi Baasyir, tak masuk akal jika mereka mengincar rumah SBY.

Amir Jamaah Anshorut Tauhid ini menganggap Eko Joko Sarjono dan Air Setiawan yang tewas dalam penyergapan Densus 88 di Jatiasih, Bekasi sebagai seorang mujahid. Baasyir pun mendoakan kedua jenazah itu.

“Eko dan Air adalah mujahid, mudah-mudahan mereka syahid karena darahnya masih mengalir, ” ujar Baasyir. [*/fiq]

+++
Besar Kecil Normal
Ba’asyir: Saya Tidak Ada Sangkut Paut dengan Penangkapan di Solo
SABTU, 15 MEI 2010 | 10:46 WIB
Besar Kecil Normal
Abu Bakar Baasyir. TEMPO/Gunawan Wicaksono

TEMPO Interaktif, Sukoharjo – Amir Jamaah Anshorut Tauhid Abu Bakar Ba’asyir mengaku tidak mengenal nama-nama orang yang ditangkap oleh Datasemen Khusus Anti Teror 88 di daerah Solo dan sekitarnya. Dia juga menegaskan jika orang-orang yang ditangkap tersebut bukan anggota jamaahnya.

“Saya tidak kenal mereka itu siapa,” kata Ba’asyir kepada wartawan, Sabtu (15/05). Bahkan sebelumnya dirinya juga tidak pernah mendengar nama-nama orang yang ditangkap tersebut.

Dirinya juga mengaku tidak merasa jika penangkapan tersebut bertujuan untuk memojokkan dirinya maupun jemaahnya. “Karena saya memang tidak ada sangkut pautnya dengan yang ditangkap itu,” kata Ba’asyir. Dia juga tidak akan menghentikan kegiatan dakwah setelah ada kejadian itu.

Sebelumnya, Densus 88 telah menangkap sejumlah orang di Sukoharjo dan Surakarta. Terakhir, Densus 88 mencokok seorang karyawan tata usaha di sebuah sekolah, Heri Suranto, Jum’at (14/05). Densus juga mengamankan sejumlah CPU komputer dari kediaman Heri Suranto.

Ba’asyir Minta Nama JAT Direhabilitasi
SABTU, 15 MEI 2010 | 10:33 WIB
Besar Kecil Normal
Abu Bakar Baasyir. TEMPO/Andry Prasetyo

TEMPO Interaktif, Sukoharjo – Amir Jamaah Anshorut Tauhid, Abu Bakar Ba’asyir meminta pemerintah segera melakukan rehabilitasi nama kelompoknya. Hal tersebut sebagai kelanjutan dari dilepasnya beberapa anggota JAT oleh kepolisian.

“JAT adalah organisasi formal yang terbuka sehingga hanya akan menempuh cara-cara legal,” kata Abu Bakar Ba’asyir, Sabtu (15/04). Menurutnya, seluruh kantor JAT tidak ada kaitannya dengan kegiatan terorisme.

Dia meminta kepada polisi untuk melakukan rehabilitasi nama baik bagi anggota dan pengurus JAT Wilayah Jakarta. “Penangkapan anggota JAT tersebut merugikan nama jemaah kami,” kata dia. Dengan dilepaskannya beberapa anggota JAT yang ditangkap di Pejaten Jakarta membuktikan jika jemaah tersebut tidak berkaitan dengan gerakan terorisme.

Selain itu, Ba’asyir juga meminta agar segel dan garis polisi yang terpasang di kantor JAT Wilayah Jakarta segera dibuka. Sebab hingga saat ini kantor tersebut masih dibutuhkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti biasa.

 

++++++++++++++++++

Dirjen Pemasyarakatan Benarkan Foto Baiat Ba’asyir di LP

Dirjen Pemasyarakatan Benarkan Foto Baiat Ba'asyir di LP  

Foto yang beredar di media sosial, disebut-sebut sebagai acara baiat Abu Bakar Ba’asyir untuk mendukung ISIS di Lapas Nusakambangan. Dirjen Lembaga Pemasyarakatan sedang melakukan pengecekan dari mana asal-usul foto ini dan akan melakukan sidang tim pengamat Lapas untuk mengevaluasi kenapa ada kamera bisa masuk ke lapas Nusakambangan. Istimewa

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Handoyo Sudrajat membenarkan kabar bahwa ada pembaiatan terhadap 24 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Nusakambangan, Jawa Tengah. “Benar itu (baiat) dilakukan di tempat salat blok mereka di Lapas Pasir Putih tanggal 18 Juli 2014,” kata Handoyo, Senin, 4 Agustus 2014.

Terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Ba’asyir, berbaiat kepada khilafah Al-Baghdadi, pemimpin kelompok ekstremis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Informasi itu didapat dari tersebarnya foto yang memperlihatkan Ba’asyir bersama 13 orang yang diduga anggota ISIS. (Baca: Ba’asyir Dibaiat ISIS, Keluarga Enggan Komentar)

Dalam foto tersebut, Ba’asyir duduk diapit para pria yang semuanya mengenakan pakaian putih. Beberapa di antaranya menutupi wajah dengan sorban dan mengacungkan jari telunjuk. Satu di antara mereka terlihat membentangkan bendera ISIS berwarna hitam. Foto itu diambil di sebuah ruangan lebar berlantai kayu.

Menurut Handoyo, dari 43 napi, hanya ada sekitar 24 napi yang ikut melakukan baiat di lapas tersebut. Handoyo menyesalkan terjadinya peristiwa ini. Tapi, menurut dia, hal terpenting yang harus dilakukan saat ini adalah meningkatkan pengamanan dan pengawasan terhadap aktivitas para narapidana. 

“Informasinya, mereka bersama-sama. Jadi Ba’asyir sempat tidak mau, tapi didorong-dorong,” kata Handoyo. Menurut dia, semula Ba’asyir ingin menunggu perkembangan terlebih dahulu. Tapi akhirnya Ba’asyir ikut serta dalam pembaiatan tersebut. (Baca:Mural ISIS Ditemukan di Solo)

Saat ini Handoyo bersama lembaganya tengah menggelar sidang tim pengamat pemasyarakatan. Sidang untuk merespons beredarnya gambar pembaiatan Ba’asyir ini akan terus dilaksanakan meski menurut dia masih ada beberapa pejabat yang mengambil cuti hari raya.

 

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: