Syamsir Siregar

Setelah tiga puluh tahun ia merintis karir militer, namanya sempat tenggelam di tengah hiruk pikuk perubahan politik dan kekuasaan negeri ini. Kini bintang Syamsir tampak bersinar lagi. Pada 8 Desember 2004, ia diangkat menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Tim Kampanye Nasional SBY-JK yang mantan Kepala Badan Intelijen Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (BIA) Mayjen (Purn) Syamsir Siregar ditetapkan sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) menggantikan Letjen (Purn) AM Hendropriyono yang mundur bersamaan dengan pelantikan Presiden Yudhoyono.

Keputusan itu dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 197/M/2004 tanggal 29 November 2004, dan dilantik Presiden Yudhoyono, Rabu 8 Desember 2004. Alumni Akademi Militer Nasional 1965 yang pernah menjabat Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) II Sriwijaya, itu memiliki kapasitas menduduki jabatan itu dengan pengalamannya cukup baik di bidang intelijen.

Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN), 1965, ini banyak menghabiskan karir militernya di lingkungan Kostrad, antara lain adalah Yonif 305/Kostrad, Yonif 412/Kostrad, Komandan Brigif 9/Kostrad Jember, dan Kepala Staf Divisi Infanteri I/Kostrad. Semenjak itu, karirnya semakin menanjak. Jabatan militer penting pun segera menyusul kenaikan karirnya.

Peristiwa 27 Juli 1996, berupa penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro oleh massa pendukung Soerjadi yang berbuntut kerusuhan massal di Jakarta, menjadi batu sandungan bagi perjalanan karirnya. Ia menjadi bahan perbincangan media massa lantaran namanya dikait-kaitkan dengan tragedi itu. Menurut pengakuannya sendiri, dia dituduh telah mem-back up Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dituding terlibat aksi kerusuhan. Padahal, “Saya tahu ada petinggi ABRI yang tidak suka kepada saya dan melaporkan berita bohong itu kepada Soeharto,” katanya kepada TEMPO pada 2000.

Panglima ABRI waktu itu, Feisal Tanjung, memang pernah marah dan menegur Syamsir. Alasannya, ada satu perintah operasi yang tidak dilaporkan Syamsir kepada Feisal. “Saya menerima laporan dari Syamsir yang ditegur Pangab, karena tak melaporkan operasi yang dilakukannya,” ungkap mantan Kasum ABRI, Letjen (Purn.) Soeyono suatu ketika. Akhirnya Syamsir dicopot jabatannya sebagai Kepala BIN dan ia memutuskan pensiun dari dinas militer yang telah dirintis selama 30 tahun lebih.

Namun nasib orang tiada yang tahu. Tahun 2004 ini menjadi tahun keberuntungan dirinya. Tanda-tanda akan kembali berkiprahnya di pentas politik nasional telah tampak di awal tahun ini. Tergabung dalam Tim Kampanye Capres Susilo Bambang Yudhoyono, Syamsir dipercaya menjadi koordinator wilayah Sumatera. Dia juga habis-habisan membantu SBY untuk menangkis isu-isu miring yang mendera calon presiden dari Partai Demokrat itu. Soal ini, tentu saja ia sangat piawai mengingat pengalamannya di BIA.

“Masalah NKRI sekarang ini adalah separatisme,” ujarnya seusai pelantikan di Istana Negara, 8 Desember 2004. Syamsir juga memprioritaskan kerjanya pada penanganan terorisme, RUU Intelijen untuk mendapatkan payung hukum bagi kegiatan intelijen di Indonesia, dan pembenahan koordinasi di lingkungan institusi intelijen di Indonesia.

Jabatan Ka BIN, sekarang tidak lagi sejajar dengan menteri, berada setingkat di bawah menteri. Menurut Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, pertimbangannya adalah efektivitas. Kepada pers, Syamsir Siregar mengatakan, segera membenahi Badan Intelijen Negara (BIN) terutama dalam hal koordinasi di antara institusi intelijen milik negara agar menjadi efektif dan efisien. Menurutnya, BIN sudah semestinya dibenahi, apa yang baik diteruskan dan yang kurang dari organisasi induk intelijen ini dibenahi.

Dalam sebuah pertemuan dengan DPR, Syamsir pernah dicecar pertanyaan seputar BIN. Menurut Yoris, beberapa pertanyaan yang disampaikan kepada kepala BIN, yaitu masalah angggaran, masalah keterlibatan anggota BIN dalam peredaran uang palsu, klarifikasi keterlibatan BIN dalam kasus Munir, perkiraan tentang pilkada terutama di daerah-daerah rawan konflik seperti Papua, Poso, dan Aceh, serta masalah Ambalat dan counter intelijen BIN terhadap Malaysia menyangkut masalah diskriminasi TKI.

Kenapa Syamsir sekarang tidak lagi menjabat kepala BIN? Kenapa pula dalam daftar Tim Sukses SBY-Boediono 2009-2014, nama Syamsir kok tidak keliatan? Lalu apa yang dilakukannya kini?

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: