Oesman Sapta Odang

pengusaha ,  preman Kalimantan Barat, dan politisi daerah
Menjadi kaya raya karena kedekatannya dengan Aboerizal Bakrie dan mantan direktur utama Bank Mandiri   E C W Neloe
Apakah  kredit macet yang jumlahnya milyaran sampai trilyunan  rupiah di Bank Mandiri  sudah selesai, masih belum jelas betul. Contoh salah satu kredit macetnya : PT Oso Bali Cemerlang (OBC) sebesar Rp 85 miliar.
Walaupun hutang banyak, gaya hidup OSO(Oesman Sapta Odang) masih tetap glamor dan mewah luar biasa
++++
 Formil nya bisa dilihat dari Wikipedia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Oesman Sapta Odang
Lahir 18 Agustus 1950 (umur 62)
Bendera Indonesia SukadanaKalimantan BaratIndonesia
Kebangsaan Indonesia
Pekerjaan Pengusaha

Oesman Sapta Odang (lahir di SukadanaKalimantan Barat18 Agustus 1950; umur 62 tahun) adalah seorang pengusaha dan politikus asalIndonesia. Dia juga merupakan pendiri Partai Persatuan Daerah dan pernah menjabat sebagai wakil ketua MPR RI periode 1999-2004.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting]Kehidupan

Oesman lahir dari pasangan Odang (ayah) asal PalopoSulawesi Selatan dan Asnah Hamid (ibu) asal Sulit Air, SolokSumatera Barat. Dia merupakan pemilik konglomerasi OSO Grup yang bergerak di bidang percetakan, pertambangan, air mineral, properti, perkebunan, perikanan, transportasi, komunikasi, dan perhotelan. Saat ini ia menjabat sebagai ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.[1]

Untuk menunjang pariwisata di kampung halamannya Sulit Air, ia membangun rumah gadang sebagai obyek wisata dan tempat informasi.

[sunting]Jabatan

  • Ketua Umum Asosiasi Koperasi Kelapa Indonesia (2002-Sekarang)
  • Ketua Umum Pengurus Pusat KKI (2002-2011)
  • Wakli Ketua MPR RI (1999-2004)
  • Ketua Umum DPP Partai Persatuan Daerah (2002-2004)
  • Ketua Kadin Daerah Provinsi Kalimantan Barat (1998-2004)
  • Komisaris Lion Air
  • Ketua Umum Periode Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) (2010-Sekarang)

[sunting]Catatan kaki

Oesman Sapta Segera Jadi TersangkaKOMPAS/TRI AGUNG KRISTANTOOesman Sapta
Oesman Sapta Segera Jadi Tersangka
Penulis : Sabrina Asril | Senin, 30 Juli 2012 | 15:19 WIB
Foto:

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya akan menetapkan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Oesman Sapta Odang sebagai tersangka. Polisi memiliki bukti-bukti cukup kuat untuk menjerat pemilik OSO Group dalam kasus penganiayaan terhadap broker properti bernama Nofel Saleh Hilabi.

Hanya tinggal waktu saja untuk jadi tersangka.
– Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto.

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Senin (30/7/2012) di Mapolda Metro Jaya. “Kami sudah memeriksa empat saksi. Dari situ bisa diyakinkan bahwa ada kasus penganiayaan,” ujar Rikwanto.

Empat saksi yang diperiksa, yakni Eddi Suryanto selaku kuasa hukum Nofel Saleh Hilabi, Rifat Tadjoedin selaku notaris yang melakukan jual beli tanah yang disengketakan, Ali selaku rekan korban, dan Nofel sendiri. Dari keterangan yang ditambah dengan visum itu, penyidik pun yakin terhadap adanya tindak penganiayaan.

“Penyidik selanjutnya akan memeriksa Oesman Sapta dalam waktu dekat dan panggilan lain yang dianggap perlu terhadap terlapor,” imbuh Komisaris Besar Rikwanto.

Saat ditanyakan status Oesman, Rikwanto menuturkan hingga kini rival Prabowo Subianto dalam memperebutkan kursi Ketua Umum HKTI itu masih sebagai terlapor. “Tapi hanya tinggal waktu saja untuk jadi tersangka,” ucap Komisaris Besar Rikwanto.

Diberitakan sebelumnya, Oesman Sapta Odang dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penganiayaan terhadap seorang broker properti bernama Nofel Saleh Hilabi. Pemukulan ini dipicu masalah utang piutang senilai Rp 14 miliar.

Peristiwa pemukulan terjadi pada tanggal 25 Juli 2012 pukul 15.00 di kantor Oesman, The City Tower (ICBC) lantai 19, Jakarta Pusat. Menurut penuturan Novel, ia sudah membuat janji bertemu dengan Oesman untuk membicarakan soal rumah di Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta, yang dibeli Oesman, tetapi belum dibayar.

“Diketahui tunggakannya sampai Rp 14 miliar. Sudah setahun lebih tunggakan itu tidak dibayar terlapor. Korban datang bersama notarisnya, Rifat Tadjoedin, ke kantor terlapor untuk bicara soal rumah itu,” ucap Kepala Subdit Keamanan Negara Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Bolly Tifaona, Jumat (27/7/2012),di Mapolda Metro Jaya.

Pertemuan antara Nofel dan Oesman ternyata tidak berjalan lancar. Oesman menanyakan keberadaan paman Nofel, yakni Ali Muhammad alias Ali Idung, yang sedang berada di Jambi. Setelah itu, Oesman naik pitam. Ia berdiri sambil tangan kanannya memegang HP Nokia E90 warna hitam, memukul korban di bagian muka hingga berdarah di bibir dan memar pada pipi rahang sebelah kanan.

Pemukulan itu dibarengi dengan perkataan yang diucapkan Oesman. “Kamu yang jujur jangan bohong, jangan mau diperalat dan jadi korban. Kamu sudah saya anggap anak.”

Dengan kejadian ini, korban pun meninggalkan kantor Oesman dan lapor ke polisi.

Sementara itu, Oesman Sapta membantah semua tuduhan tersebut. Ia mengaku tidak pernah memukul Nofel. “Saya tidak memukul. Dia (Nofel) hanya saya dorong keluar karena dia masuk tanpa izin. Saya bikin janji dengan om-nya, Ali Idung, tapi yang datang Nofel lagi,” imbuh Oesman.

Menurutnya, latar belakang utang rumah yang memicu pemukulan itu sama sekali tidak benar. “Justru saya yang diutangi sama Ali Rp 18 miliar sejak setahun lalu. Mau dibayar, tapi sampai sekarang tidak ada. Rumah itu katanya buat bayar, tapi ternyata surat-suratnya bermasalah dan enggak pernah bayar pajak,” papar Oesman.

Lebih lanjut, Oesman mengatakan bahwa dia berencana melaporkan balik Nofel dan pamannya atas kasus penipuan. “Saya akan laporkan 378 KUHP tentang penipuan. Saya akan lapor balik sesampainya saya di Jakarta. Sekarang saya masih di London,” pungkasnya.

Editor :
Heru Margianto
+++++++++++++
KREDIT MACET
JPU: Komisaris Oso Bali
Juga Terlibat
Rabu, 16 September 2009

JAKARTA (suara Karya: Setelah proses penyidikan yang memakan waktu lebih dari 3 tahun, kasus dugaan macet Bank Mandiri kepada PT Oso Bali Cemerlang (OBC) sebesar Rp 85 miliar akhirnya disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Senin kemarin, surat dakwaan Dirut PT OBC, Candra Wijaya dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.Dalam surat dakwaan, perbuatan yang dilakukan Candra dilakukan bersama-sama dengan Komut PT OBC Raja Sapta Aji, mantan Direktur Risk Management Bank Mandiri I Wayan Pugeg, dan mantan EVP Coordinator Corporate and Goverment Bank Mandiri, M Soleh Tasripan. Kedua nama yang disebut terakhir, bersama mantan Dirut Bank Mandiri ECW Neloe, pada September 2007 divonis bersalah oleh majelis kasasi Mahkamah Agung (MA) terkait kredit macet di Bank Mandiri kepada PT Cipta Graha Nusantara.

“Secara melawan hukum telah melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri artau orang lain atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara,” ujar kata JPU Rhein Singai saat membacakan dakwaan.

Singai menuturkan, PT OBC didirikan Candra bersama Hasanudin Tisik, Raja Sapta aji, dan Sutrisno Lukito Disastro pada 1 Oktober 2001. Empat hari kemudian, PT OBC melalui surat yang ditandatangani Candra dan Raja Sapta Aji mengajukan permohonan kredit guna membeli aset eks Kuta Jaya Hotel dan pembangunan ruko sebanyak 93 unit di Kuta, Bali.

Kredit sebesar Rp 85 miliar yang dikucurkan Bank Mandiri, akan dilunasi dalam waktu dua tahun, dengan jaminan 18 bungalow sebesar Rp 120 miliar yang berada di tepi pantai Kuta.

“Meskipun permohonan kredit yang diajukan terdakwa tersebut tidak disertai dengan neraca awal, namun tetap diproses,” tutur Singai.

Kredit lalu dikucurkan dalam tiga tahap. Pada pencairan tahap kedua sebesar Rp 9,6 miliar, kredit tidak digunakan untuk pembiayaan pembangunan ruko, ternyata untuk memperkaya orang lain dan suatu badan. Sebesar Rp 3,4 miliar diberikan kepada Oesman Sapta Odang, pengusaha yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Daerah (PPD). Lalu, uang sebesar Rp 2,4 miliar mengalir ke PT Dwi Agam.

Sementara dana sebesar Rp 74,6 miliar masuk ke rekening PT OBC. Akibat perbuatan itu, perhitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menunjukkan bahwa negara dirugikan sebesar Rp 80,7 miliar. Kerugian itu kemudian dikembaikan PT OBC beserta seluruh kewajiban mereka pada 1 Agustus 2008.

Usai mendengar dakwaan JPU, terdakwa Candra menyatakan tidak akan mengajukan eksepsi. Kuasa hukumnya, Lorens Patioran beralasan, “Biar cepet sajalah.” (Jimmy Radjah)

 

++++++++++++

 

Oesman Sapta Odang Punya Hotel Mewah dengan President Suite Terbesar di Dunia

Suhendra – detikfinance
Rabu, 12/12/2012 08:13 WIB

Jakarta - Pengusaha nasional Oesman Sapta Odang pemilik OSO Grup punya hotel bintang 5 dengan kamar president suite terbesar di dunia. Kamar super mewah itu berada di The Stones Hotel, Legian, Bali.

President suite terbesar di dunia ini kabarnya memiliki luas 1.900 meter persegi, yang terdiri dari tiga lantai. Oeman mengatakan pengoperasian hotelnya ini dilakukan oleh jaringan pengelola Marriott yakni Autograph Hotel Collection.

“Dari sekian orang yang sering menggunakan president suite, kata mereka ini terbesar di dunia,” kata Oesman kepada detikFinance di The Stones Hotel, Rabu (12/12/2012)

Menurut Oesman pengakuan itu setidaknya keluar dari mulut para top manajemen perusahaan yang biasa merasakan fasilitas president suite di berbagai hotel dunia.

President suite disini tiga lantai,” katanya.

Fasilitas ruangan khusus ini terkoneksi dengan lift khusus, juga dilengkapi dengan empat kamar tidur luas, tempat makan, balkon dan perpustakaan. Selain itu ada fasilitas kolam renang dan helipad.

The Stones memiliki 308 kamar, tarifnya berkisar US$ 160-400 per malam. Namun untuk ruangan president suite, pihak manajemen merahasiakannya.

Setiap kamar dilengkapi dengan televisi LED 42 inchi, shower, Wifi dan lainnya. Juga ada fasilitas seperti ballroom hingga meeting room.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: