Sandiaga Uno

Pengusaha + politikus
+++
Swa.co.id
Tanggal 28 Juni mendatang, Sandiaga S. Uno menginjak usia 36 tahun. Di usianya yang terbilang muda itu, ia telah merentas karier profesional di berbagai perusahaan lokal dan multinasional papan atas. Akhirnya, Sandi — begitu sapaan akrabnya — mengibarkan bendera sendiri. Lewat PT Saratoga Investama Sedaya (SIS), ia seperti ingin mengukuhkan kepiawaiannya sebagai tokoh yang mumpuni di bidang keuangan dan investasi.

Lulusan S-1 akunting dengan predikat summa cum laude dari Universitas Negeri The Wichita, Kansas, Amerika Serikat ini membangun SIS pada 1998. Perusahaan yang membidangi private equity dan direct investment (investasi dan penyertaan modal langsung) ini didirikan karena ia melihat momennya sangat pas. “Saya melihat ada peluang, khususnya kesempatan berinvestasi pascakrisis ekonomi,” ungkap Sandi yang ditemui di kantornya di Menara Kadin, Jakarta. Dengan menggandeng Edwin Soeryadjaya — anak taipan William Soeryadjaya – SIS mencoba menjaring beberapa aset yang dilelang BPPN ketika itu. “Sayangnya kami belum beruntung saat itu,” kata Sandi. Bidang yang menjadi garapan investasinya meliputi gas bumi, batu bara, telekomunikasi, dan produk-produk kehutanan.

Persahabatan Sandi dengan Edwin sejatinya berlangsung sejak lama. Jauh sebelum mengerek bendera SIS, Sandi sempat bergabung sebagai profesional di Bank Summa milik Om Wilem. Ia cuma bertahan dua tahun sebagai finance & accounting officer di Bank Summa, karena ia mendapat tawaran beasiswa dari Universitas The George Washington, Washington DC, untuk program MBA bidang bisnis internasional dan keuangan.

Usai menyelesaikan program MBA-nya, Sandi terbang ke Singapura dan bergabung dengan Seapower Asia Investment Ltd. (Investment Holding) sebagai analis keuangan. Hanya setahun di perusahaan itu, Sandi lantas hijrah ke perusahaan milik Edward Soeryadjaya, NTI Resources Ltd. di Calgary, Kanada. Di perusahaan yang membidangi minyak dan gas bumi ini, Sandi dipercaya sebagai VP Eksekutif dan Chief Financial Officer.

Semua pengalaman itu akhirnya mengayunkan langkah Sandi kembali ke Tanah Air dan mendirikan SIS. “Saya tidak menanamkan modal besar,” kilah Sandi. Sebagai perusahaan investasi, menurutnya, modal utama SIS hanyalah kepercayaan. “Itu saja,” kata Sandi. Modal awalnya paling-paling buat sewa kantor dan menggaji diri sendiri. “Jumlahnya tidak sampai puluhan juta,” tukasnya. Di matanya, modal kapital bukan segala-galanya. “Selama memilki akses pasar dan kemampuan manajerial, modal akan datang dengan sendirinya,” putra pakar pengembangan kepribadian Mien Uno ini menandaskan. Sayang, Sandi keberatan menyebut berapa tingkat keuntungan yang diperoleh dari setiap transaksi.

Sandi mengakui, banyak tantangan yang dihadapi karena bidang investasi dan penyertaan modal sangat berkaitan dengan kondisi politik dan ekonomi negara. Buktinya, saat krisis 1998 praktis tidak ada kepastian politik, hukum dan keamanan. “Ketika itu amat sulit meyakinkan investor untuk berinvestasi,” ungkapnya. Terlebih sebagai pendatang baru. Namun, Sandi gigih meyakinkan para investor bahwa kendati perusahaannya baru, benar-benar profesional dan sangat disiplin dalam hal pengelolaan keuangan. “Pendekatan awal kami selalu dari sisi keuangan,” tandasnya.

Sadar tak gampang menggulirkan bisnis tersebut, ia dituntut bisa memilah-milah sektor yang paling ideal dan berpotensi tetap berkembang sebagai ladang investasi. Ia juga harus jeli melihat tim manajemen perusahaan yang akan diajak kerja sama. Bisnis SIS baru kelihatan hasilnya ketika memasuki 2001. Beberapa investor yang digarap SIS, baik lokal maupun asing, mulai melirik SIS. Saat itu juga SIS mulai diperhitungkan pasar sebagai perusahaan yang profesional di samping sebagai investor yang bertanggung jawab. “Sejak itu banyak pihak yang mendekati dan memberikan kepercayaan untuk mengelola sebuah investasi,” katanya mantap.

Bersamaan dengan itu, persaingan pun mulai marak karena bermunculan pemain baru yang menggarap lahan yang sama. Ini dipicu oleh membaiknya kondisi ekonomi dan politik. Sandi justru melihatnya sebagai hal yang positif karena memacu SIS untuk lebih kreatif. “Kami merasa beruntung karena bisa hadir lebih awal,” katanya.

Sejak berdiri, Sandi mengaku SIS tidak memiliki strategi yang muluk. “Yang kami lakukan hanyalah berusaha tetap disiplin secara finansial, dan berusaha menyiasati segmentasi sektor yang dibidik terus berganti setiap tahun,” paparnya. Pola seperti itu terbukti membuahkan hasil. Paling tidak, beberapa sektor yang ditargetkan Sandi dari tahun ke tahun memberikan keuntungan yang cukup bagus.

Tahun 2001-03 misalnya, SIS fokus di bidang hasil bumi, batu bara dan kehutanan. Tahun 2004-07, SIS berkonsentrasi di bidang bisnis yang berkaitan dengan infrastruktur. Namun, Sandi menyangkal strategi fokus di bidang infrastruktur karena adanya program pemerintah. “Kami merancangnya jauh sebelum pemerintah mengarah ke situ,” kata Sandi yang mempekerjakan 8 karyawan ini. Sayang, Sandi tak bersedia menyebutkan omset perusahaannya. Ia hanya mengatakan bahwa SIS masuk dalam jajaran 10 besar, berdampingan dengan Citigroup, Farallon, dan Temasek.

Selain sibuk sebagai Direktur Pengelola SIS, suami dari Noor Asiah serta ayah dari Anneesha Atheera Uno dan Amyra Atheefa Uno ini mengelola pula bisnis hotel dan jasa keuangan yang lain lewat PT Rifan Financindo. Sandi juga baru saja terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. “Ada beberapa target yang menjadi prioritas saya sebagai Ketua Umum Hipmi, antara lain mendorong para industriwan muda, khususnya yang tergabung di Hipmi untuk bisa membentuk diri sebagai satu cluster kelas menengah baru,” ungkap Sandi.

Post a Comment

Required fields are marked *

*
*

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: